Mengenal Pluralisme Beragama dalam Perspektif Ajaran Agama Islam
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Istilah Pluralisme sering disalahpahami. Ada yang menganggap pluralisme adalah bagian dari konsep yang mengajak manusia untuk mengakui semua agama sebagai agama yang benar, sehingga kita tidak perlu lagi untuk berkonflik antara satu dengan yang lain.
Bagaimana sebenarnya penjelasan ayat-ayat suci Al-Quran terkait Pluralisme? Simak jawabannya di #PodcastAlwiShihab episode ke-104 ini!
Refleksi Podcast Episode 104
Kompetensi Diri untuk Menghindari Fanatisme Beragama
Menjadi umat beragama, tentu banyak pandangan-pandangan yang dapat dijadikan rujukan. Ada pandangan yang sifatnya radikal, liberal dan ada juga yang berada di antara keduanya. Pandangan-pandangan tersebut ada yang membawa kepada kebahagiaan, dan ada juga yang menggiring pada penderitaan. Atas dasar inilah term hijrah menjadi gerakan keagamaan yang sedang marak terjadi di era saat ini. Adapun hijrah dalam konteks bergerak dari pemahaman yang sempit menuju pemahaman yang luas dan universal terhadap pandangan keagamaan, Alwi Shihab menekankan agar masing-masing umat beragama memiliki kompetensi diri yang baik. Tidak lain tujuannya adalah untuk menghindari fanatisme beragama yang acap memposisikan manusia pada kemudaratan dalam segala lini kehidupan. Kompetensi diri yang dimaksud melingkupi:
- Kompetensi terhadap ilmu pengetahuan. Untuk memiliki kompetensi ini, mau tidak mau semua umat harus senantiasa memperkaya ilmu pengetahuan dengan cara belajar dalam wadah yang dapat diakses. Ilmu pengetahuan adalah basis agar setiap orang dapat memiliki sumber wawasan yang beragam dan menjadi pertimbangan dalam berpikir dan bertindak.
- Kompetensi terhadap pandangan yang luas. Tidak saja memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan, semua umat manusia juga perlu memahami pandangan-pandangan beragam perihal satu isu dan isu lainnya, khususnya dalam isu-isu keagamaan. Pandangan yang luas akan membawa orang bersangkutan untuk dapat berpikir panjang dalam melihat kondisi, kebutuhan, dan juga perspektif kebenaran dengan versi yang berbeda-beda.
Saat seseorang telah memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni dan pandangan yang luas, secara tidak langsung dia telah mendesain dirinya untuk dapat menghindari fanatisme beragama. Di antara tanda fanatisme beragama ialah:
- Pengkultusan berlebihan pada ulama atau tokoh agama tertentu. Bagaimanapun, para tokoh agama tersebut adalah manusia biasa yang tidak menutup kemungkinan dapat melakukan kesalahan ataupun tidak sejalan dengan semangat Alquran maupun Sunah.
- Eksklusifitas kelompok dengan pengabaian yang berbeda. Saat seseorang sudah mengkultuskan satu tokoh agama/ulama tertentu, umumnya ia akan menjadi eksklusif dengan sikap pengabaian pada pandangan dan kelompok yang berbeda.
- Klaim kebenaran. Saat sudah menjadi diri dan kelompok yang eksklusif pada pandangan tertentu, klaim kebenaran menjadi hal yang tidak terhindarkan. Sehingga dapat diprediksi konflik-konflik apa saja yang dapat ditimbulkan.
Berdasarkan tanda-tanda tersebut, menekankan dua kompetensi yang telah disebutkan, Alwi Shihab menganjurkan agar umat beragama:
- Memperkaya diri dengan membaca pandangan-pandangan ulama yang berbeda-beda. Tidak hanya membaca satu pandangan tunggal.
- Menggunakan potensi akal semaksimal mungkin untuk menganalisa narasi agama yang diterima. Sehingga, segala hal tidak ditelan mentah-mentah tanpa mempertimbangkan sisi baik dan buruknya; melainkan dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh dengan anugerah akal yang diberikan Tuhan YME.
- Mampu memilih dan menentukan mana pandangan yang cocok serta terbaik bagi kebutuhan diri.
- Tidak menyalahkan dan menyesatkan pandangan yang berbeda. Karena saat kita telah berpegang pada satu pandangan, kita juga harus menghargai proses orang lain yang telah sampai pada keyakinan yang mereka pegang. Sebagaimana kita meyakini apa yang menurut kita benar, kita juga harus memberikan ruang agar orang lain dapat dengan leluasa meyakini apa yang menurut mereka benar. Dengan demikian, sesama umat manusia (apapun perbedaannya), kita semua tidak akan saling mencemooh. Sebagaimana disampaikan dalam QS. Al-Hujuraat: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Jangan sekali-kali kalian mencomooh, menghina orang lain, padahal mungkin mereka itu lebih mulia daripada kalian.”
Alwi Shihab mengatakan, bahwasanya program LKLB yang diinisiasi oleh Institut Leimena merupakan program yang mengajarkan para pesertanya untuk memiliki wawasan yang luas, dapat membaca pandangan-pandangan berbeda selain pandangan diri, membiasakan potensi akal untuk memilih apa yang terbaik dan sesuai dengan diri Alwi Shihab menekankan kepada para peserta LKLB agar tidak mudah menyalahkan, mempersesatkan liyan hanya karena berbeda pandangan maupuan tokoh agama yang diikuti. Demikianlah sikap bagi mereka yang mengikuti keteladan Nabi saw. dan mengikuti ayat Alquran..(IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=34O-ETIdFBg&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=5.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments