Perbedaan dan Konflik. Alwi Shihab: Jangan Sakralkan Pendapat Ulama! Sakralkan Sumbernya!
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Pendapat seorang Ulama tidak bisa disakralkan. Yang bisa disakralkan adalah sumber dari pendapat ulama itu yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasul. Sekian banyak konflik antara umat Islam dan antar umat beragama, hampir semuanya dipicu oleh pemahaman keagamaan. Bagaimana Al-Quran mengajarkan soal perbedaan ini? Simak #PodcastAlwiShihab berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 4
Jangan Sakralkan Pendapat Ulama!
Konflik antar dan inter agama memiliki banyak faktor yang menjadi latar belakang penyebabnya. Satu di antaranya adalah karena kuatnya seseorang atau suatu kelompok dalam mensakralkan pendapat ulama tertentu. Jika kondisi yang demikian kerap memicu konflik, lantas, bagaimanakah seharusnya seorang Muslim memosisikan pendapat ulama dalam kehidupan beragama; karena terkadang umat Muslim menganggap suatu pendapat dari seorang ulama seolah-olah itu adalah agama atau sumber yang wajib diikuti? Alwi Shihab dengan tegas berkata, “Pendapat seorang ulama, tidak bisa disakralkan. Yang harus disakralkan adalah sumber dari pendapat ulama itu, yaitu Alquran dan Sunnah Rasul.”
Alwi Shihab mengajak kita untuk flash back peristiwa-peristiwa konflik antar sesama umat Islam maupun antar umat beragama lainnya. Ya, hampir semua konflik tersebut dipicu oleh pemahaman keagamaan (oleh Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, dan lainnya). Padahal, dalam persepektif Alquran telah diberikan prinsip-prinsip dasar tentang menjalin hubungan yang harmonis dan santun. Alquran juga telah menginformasikan bahwa perbedaan adalah keniscayaan, sunnatullah (the order of nature); sesuatu yang tidak dapat diubah.
Perlu disadari, bahwa perbedaan adalah hal yang diinginkan Allah Swt. kepada semua makhluk manusia,
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
“Kalau Tuhan ingin, maka manusia ini dijadikan monoletik saja (satu bangsa, satu ras, satu agama, satu kelompok), tetapi manusia itu selalu berbeda, tidak sejalan,” (QS. Hud: 118). Karena perbedaan adalah kehendak Tuhan yang sifatnya niscaya, maka Alquran dan Sunnah Rasul memberikan jalan (wejangan, pandangan) yang bisa dijadikan dasar bagi kita untuk berinteraksi dengan yang berbeda. Seperti dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
“Wahai manusia, Kami ciptakan kau dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian ini dalam bentuk bangsa-bangsa dengan beragam suku untuk saling berhubungan dengan cara yang baik (bukan berkelahi atau saling memaki). Yang terbaik di antara kamu sekalian adalah yang paling takwa (dekat dengan Yang Maha Kuasa dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya),” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ya, manusia diciptakan berbeda untuk saling mengenal, bukan berkelahi, dan menjadi catatan bersama, sekali lagi Allah Swt. menegaskan:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًاۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ …
“Setiap kelompok, Kami telah jadikan bagi tiap kelompok itu ada syariatnya, ada agamanya, ada jalannya. Kalau Tuhan mau, Tuhan bisa menjadikan semuanya satu umat/bangsa, tapi Tuhan ingin melihat terhadap apa yang diberikan padamu (bagi umat Islam, ada Alquran dan Nabi Muhammad saw. yang menjelaskan, kepada umat lain juga ada kitab suci dan panutannya, semuanya telah diberikan oleh-Nya), agar manusia yang berbeda ini berlomba-lomba menciptakan kebajikan (di dunia),” (QS. Al-Maidah: 48). Kebajikan seperti apa yang harus sama-sama kita perjuangkan ini? yakn kebajikan untuk memakmurkan dunia sebagai dasar dari penciptaan manusia itu sendiri.
Kemakmuran tidak akan dapat diwujudkan apabila manusia merespon perbedaan dengan senantiasa saling bertikai, baik di antara sesama umat beragama yang sama, maupun berbeda, juga dalam ruang lingkup berbangsa dan bernegara dengan segala perbedaannya. Manusia harus memiliki pemahaman, bahwa Tuhan menciptakan manusia dari bumi dan mereka diperintahkan untuk memakmurkan bumi. Kemakmuran sebuah negara tampak apabila kondisi negara itu stabil, tidak ada sengketa, tidak ada konflik di dalamnya. Negeri-negeri yang penuh dengan sengketa, sungguh bukan itu yang diinginkan Tuhan. Yang Tuhan inginkan adalah manusia mampu memakmurkan dunia dengan menjadikan tiap tempat dimanapun mereka berada menjadi tempat yang aman dan tentram. Perbedaan harus membawa kita pada tujuan penciptaan kita di bumi ini.
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=Ch1wdk3x1JA&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=110.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments