Non-Muslim yang Menjadi Pemandu Jalan bagi Hijrah Nabi Muhammad (Part 5)

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Sejarah mengisahkan cerita manis bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalin hubungan baik dengan non-Muslim. Simak cerita non-muslim yang menjadi pemandu jalan bagi Hijrah Nabi Muhammad berikut ini, bersama Prof. Dr. H. Alwi Shihab di #PodcastAlwiShihab episode ke-30.

Refleksi Podcast Episode 30
C

Ketika Non Muslim Menjadi Pemandu Hijrah Nabi Muhammad saw.

Pada suatu saat, Nabi Muhammad duduk sendiri di Daar al-Arqaam (tempat yang dijadikan untuk berdakwah diam-diam    ) yang letaknya dekat dengan bukit Shafa. Kemudian Abu Jahal datang membawa batu. Batu itu dilemparkannya ke kepala Nabi saw. hingga mengucurkan darah. Sungguh tidak ada orang lain di sana sewaktu hal tersebut terjadi. Suasana sangat sepi, sehingga Abu Jahal merasa bahwa ia dapat melampiaskan kemarahannya pada Nabi saw. yang dianggap menganggu kedudukannya di masyarakat. Karena, setelah kehadiran Nabi saw. beserta ajarannya di Makkah, sosok Abu Jahal yang sebelumnya disanjung justru menjadi sirna.

Kendati suasana sepi dan tidak ada yang melihat kejadian tersebut, namun ternyata ada satu perempuan yang menyaksikan dari kejauhan. Ia melihat dan merasa iba melihat Nabi saw. yang tidak dapat membela diri. Oleh perempuan ini, kejadian yang menimpa Nabi saw. kemudian dilaporkan pada Sayyidina Hamzah (paman Nabi saw.). Sayyidina Hamzah dikenal sebagai seorang tokoh yang keras dan sangat disegani. Ketokohannya seperti halnya ketokohan Sayyidina Umar bin Khattab. Perempuan tadi datang ke Hamzah dan mengatakan, ”Hamzah, keponakan kamu dianiaya oleh Abu Jahal, oleh Abu al-Hakam. Dan saya melihat karena tidak ada orang yang berada di sampingnya.” Walaupun Hamzah belum masuk Islam pada saat itu, namun ia tidak bisa melihat seseorang semena-mena terhadap keponakannya.

Hamzah kemudian membawa tongkat dan mencari keberadaan Abu Jahal. Hingga pada akhirnya, Abu Jahal ditemui di area Kakbah. Hamzah mendatangi Abu Jahal dan mengatakan, “Kamu menganiaya keponakan saya. Dan ini balasannya!” Hamzah mengatakan hal tersebut sembari memukul kepala Abu Jahal menggunakan tongkat yang dibawanya hingga kepala Abu Jahal berdarah, seperti kejadian yang menimpa Nabi saw. Hamzah menegaskan pada Abu Jahal agar tidak bersikap semena-mena kepada keluarganya. Sejak peristiwa ini, Hamzah merasa bahwa ia sebelumnya berada di kelompok yang tidak percaya pada Nabi saw., dan berubah menjadi ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam melalui Nabi saw. yang tidak lain adalah anak dari kakak laki-lakinya. Kemudian, Hamzah mendatangi Nabi saw. karena ia merasa bahwa ia tidak bisa lagi bersama Abu Jahal yang merupakan tokoh kelompok anti Muhammad saw.

Saat mendatangi Nabi saw., Nabi saw. berdialog dengannya hingga akhirnya Hamzah menyatakan masuk Islam. Penganiayaan yang dialami Nabi saw. tiu sangat luar biasa, dan Nabi saw. pernah berkata, “Ada dua tokoh di Makkah ini yang saya ingin salah satu dari mereka kalau bisa memeluk agama Islam. Yang pertama adalah Amr bin Hisyam (Abu Jahal), dan yang kedua adalah Umar bin Khattab.” Ternyata, pada tahun ke-6 kenabian, Umar bin Khattab memeluk agama Islam hingga akhir hayatnya.

Pengorbanan Nabi saw. sebelum hjrah itu sangat luar biasa. Namun beliau sangat sabar dan tabah, serta selalu berusaha melakukan rencana perihal waktu yang tepat untuk berhijrah. Setelah penganiayaan yang luar biasa terhadapnya, keluarga juga para pengikutnya juga diembargo usahanya (sehingga tidak ada transaksi dagang yang mereka lakukan), bahkan terdapat larangan pernikahan antara penduduk Makkah dengan pengikut Nabi saw. Tragedi tersebut didalangi oleh Abu Jahal dan Abu Lahab, dua tokoh yang sangat memusuhi Nabi saw.   

Alwi Shihab menuturkan, dalam rangka hijrah, pada malam ketika Nabi saw. hendak meninggalkan Makkah, beliau mengetahui bahwa kelompok Quraisy telah melakukan konspirasi untuk membunuh beliau. Dari setiap suku yang ada di Makkah, diperintahkan untuk mengirimkan anak-anak muda yang kuat dari suku-suku tersebut. Anak-anak muda itu diperintahkan untuk bersama-sama mengepung rumah dan membunuh Nabi saw. di rumahnya tersebut. Maka, pada malam itu juga, Nabi saw. diperintahkan untuk hijrah dan beliau langsung mendatangi rumah Abu Bakar al-Shidiq untuk bersama-sama pergi ke Gua Tsur selama 3 hari dan pada hari selanjutnya pergi ke Madinah.

Pada malam itu, Nabi saw. memerintahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk berada di kasurnya sebagai tindakan mengelabui 10 pemuda yang telah mengepung kediamannya. Dan ketika 10 pemuda ini hendak membunuh Nabi saw., mereka tidak menemukan Nabi saw. di tempat tersebut, melainkan Ali bin Abi Thalib. Menurut sebuah riwayat, Nabi saw. dapat keluar dari rumahnya dalam pengepungan karena Allah menjadikan 10 orang itu mengantuk, sehingga mereka tidak melihat Nabi saw. saat keluar dari rumahnya itu. Adapun Ali bin Abi Thalib yang menjadi pengecoh di sana dan mendapat tugas untuk menyelesaikan hal-hal yang tidak terselesaikan oleh Nabi saw. disebabkan Nabi saw. harus hijrah.

Sayyidina Abu Bakar mempersiapkan seorang ahli dalam navigasi, yakni Abdullah bin Uraiqith. Sang navigator hijrah ini bukanlah pengikut Nabi saw., namun ia dikenal sebagai ahli dalam navigasi yang  bisa membawa perjalanan Nabi saw. dan Abu Bakar ke Madinah. Pelajaran yang patut umat Islam ambil dari kisah ini adalah pembawa jalan/navigator hijrah Nabi saw. bukanlah orang Islam. Dengan kata lain, sesungguhnya umat Islam dapat saja bekerja sama dengan non Muslim, selama semuanya bersama-sama memiliki tujuan mulia yang sama. Abdullah bin Uraiqith saat itu tidak ikut-ikutan perihal masalah kenabian Nabi dan kerasulannya. Ia tetap dengan agamanya. Selama di perjalanan menjadi pemandu hijrah Nabi saw., Abdullah melihat bagaimana Nabi saw. memperlakukan dia. Abdullah juga memperhatikan akhlak Nabi saw. Hingga kemudian  saat tiba di Madinah, Abdullah memutuskan untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. (IL/AKR)[1]

[1] Tulisan berdasarkan catatan digital Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=nlcloSDm0yM&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=84.

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...