Kisah Hijrah Nabi-Nabi (Part 2)
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bukan hanya Nabi Muhammad yang berhijrah, nabi-nabi berikut ini juga melakukan hijrah. Simak tradisi hijrah para nabi berikut ini yang disampaikan oleh Prof. Dr. Alwi Shihab.
Refleksi Podcast Episode 27
Tradisi Hijrah dari Masa ke Masa
Hijrah tidak saja dilakukan oleh Nabi Muhammad saw., tetapi juga para nabi lainnya. Seperti hijrahnya Nabi Musa as. Ia berhijrah dari Mesir ke Madyan, ini adalah hijrah pertamanya sebelum ia diangkat menjadi nabi. Di Madyan, ia bertemu dengan dua gadis, anak dari seorang pria lansia. Sang ayah meminta kedua gadisnya untuk mengambil air dari sumur untuk keperluan ternaknya. Di tempat itu banyak sekali orang-orang yang antri mengambil air, kebanyakan adalah kaum laki-laki, sehingga dua gadis ini menunggu semuanya selesai baru mereka mengambil air tersebut. Ternyata pada saat itu, Nabi Musa as. melihat keadaan ini, lalu dia mengulurkan tangan untuk membantu kedua gadis tersebut. Setibanya di rumah, dua gadis ini menceritakan tentang pemuda yang membantu mereka kepada ayahnya. Ada riwayat yang mengatakan bahwa ayah tua tersebut adalah Nabi Syuaib as., dan di riwayat yang lain mengatakan bahwasanya namanya tidak disebut dalam Alquran.
Sang ayah memerintahkan anaknya untuk mengundang pemuda itu dan menawarkan salah satu anak perempuannya untuk dinikahi oleh pemuda tersebut, dengan perjanjian bahwa pemuda tersebut akan tinggal di sana selama 10 tahun. Akhirnya Nabi Musa as. menikah dan tinggal di sana selama 10 tahun. Setelah itu, ia berhijrah kembali diangkat menjadi nabi. Nabi Musa memiliki kisah yang panjang berikut dialognya dengan Allah Swt. Nabi Musa juga hijrah kembali dari Mesir disebabkan untuk melarikan diri dari Firaun, dan Firaun mengejarnya. Allah membukakan laut itu sehingga Nabi Musa as. bisa berjalan, dan kemudian diikuti Firaun beserta bala tentaranya yang kemudian para pengejar ini pun tenggelam.
Nabi Ibrahim as. juga melakukan hal yang sama. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga berakhir di Palestina, tepatnya di daerah yang saat ini dikenal sebagai kota Khalil. Khalil adalah nama dari Nabi Ibrahim itu sendiri, karena beliau dikenal sebagai teman Allah Swt. Nabi Ibrahim juga hijrah ke Makkah bersama Hajar dan anaknya Ismail, yang kemudian ritual-ritual haji diambil dari perjalanan Nabi Ibrahim ke Makkah. Nabi Ibrahim hijrah pertama kali karena diancam oleh ayahnya. Ia berdialog dengan sang ayah, “Wahai Ayah, untuk apa engkau menyembah berhala?”
Ayah Nabi Ibrahim adalah pembuat berhala dari batu yang kemudian dijual. Nabi Ibrahim mengatakan, “Wahai Ayah, tidakkah kau melihat bahwa berhala ini tidak ada manfaatnya, baik bagi kamu maupun manusia lainnya. Mari ikuti perintah Allah Swt. yang memiliki bumi dan langit semuanya! Dan kita akan selamat apabila kita ikuti perintah Allah Swt.” Sang ayah mengancam Nabi Ibrahim as, “Jangan kamu teruskan anjuran kamu itu, kalau kamu tidak berhenti, saya akan merajam kamu!” Dan akhirnya Nabi Ibrahim as. mengatakan, “Saya akan berhijrah kepada Tuhanku.” Ini bermakna hijrah spiritual. Yang Nabi Ibrahim lakukan tidak saja berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi dia juga berhijrah pada Allah Swt.
Nabi Luth as. juga melakukan hijrah. Ia berdakwah di antara kaumnya namun kaumnya tidak mau mendengar, bahkan ia diusir dan akhirnya berhijrah. Kisah ini diabadikan dalam Alquran:
لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوْطُ لَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِيْنَ
“Kalau kamu tidak mengakhiri dakwah kamu kepada kami, kamu akan kami paksa keluar,” (QS. Al-Syuara: 167). Seperti yang diketahui, Nabi Luth as. berusaha berdakwah namun diusir dan kemudian hijrah ke tempat lain. Hal yang sama dialami oleh Nabi Syuaib. Ia diancam oleh kaumnya, “Kalau kamu tetap berdakwah demikian, maka kami akan mengusir kamu.” Dan akhirnya Nabi Syuaib meninggalkan tempat itu dan berhijrah ke tempat lain. Alwi Shihab menegaskan, siapapun yang ingin memulai niat untuk berhijrah kepada Allah Swt., dianjurkan untuk berusaha dengan niat yang baik. Karena Allah Swt. menjanjikan:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَالَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Orang yang berusaha untuk mendekat hijrah keapda Allah, Kami akan tunjukkan jalan kepadanya, agar baginya lebih dekat untuk mencapai tujuannya,” (QS. Al-Ankabut: 69).
Tradisi hijrah ini juga dilakukan oleh para ulama. Ada Imam Syafii yang lahir di Gaza, Palestina dan kemudian pindah ke Irak. Dari Irak ia berpindah ke Mesir, sehingga ia memiliki pandangan-pandangan keagamaan yang berbeda, ada yang lama dan ada yang baru. Ada pula pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan juga berhijrah menuntut ilmu di Makkah. Kiai Hasyim Asyari juga para kiai lainnya juga melakukan hijrah untuk menuntut ilmu agar bisa berdakwah di tempat asalnya. Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya, “Barang siapa yang mengikuti jalan untuk mencapai ilmu pengetahuan, maka ganjarannya adalah Allah memudahkan jalan mereka ke surga kelak,” (HR. Muslim).
Ada juga seorang tokoh pemikir di bidang sejarah peradaban, Ibnu Khaldun. Ia lahir pada abad ke-14 dan tinggal berpindah-pindah. Ia lahir di Tunisia, kemudian pindah ke Spanyol Islam/Granada, lalu ke Kairo dan ke Makkah. Sangat banyak tokoh yang dapat dijadikan contoh panutan tentang betapa pentingnya berhijrah itu. Hijrah adalah usaha sungguh-sungguh untuk hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya, dan juga mengubah keadaan yang hamba miliki (dari keadaan yang belum sempurna menjadi keadaan yang lebih baik/sempurna). Rasulullah saw. mengajarkan umatnya untuk mencapai jalan yang dijanjikan oleh Allah Swt., tidak lain jalannya adalah jalan yang bisa membawa kita kepada jalan spiritual, mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Berikut doa yang dianjurkan Rasulullah untuk senantiasa dibaca oleh umat Islam tiap selesai salat (HR. Abu Daud & Ahmad):
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat kepada-Mu, dan ingat untuk selalu bersyukur kepada segala nikmat yang kau berikan kepadaku, dan juga bantu aku untuk dapat beribadah dengan baik kepada-Mu.” Rasulullah juga menyampaikan, “Kalau kamu berdoa kepada Allah, in sya Allah Ia akan berikan jalan yang termudah untuk sampai pada tujuan yang diinginkan.” Oleh karena itu, kita semua dianjurkan untuk tetap berdoa dan berusaha agar konsisten pada hal-hal yang baik. Sebagaimana yang dikatakan Nabi saw., bahwa sebaik-baiknya amal adalah amal yang dilakukan secara konsisten/yang selalu dilakukan walaupun itu hal yang sangat kecil.(IL/AKR)[1]
[1] Tulisan ditulis berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=6PBos9InoXA&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=87.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments