Dua Kategori Hijrah (Part 1)
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Banyak di antara artis artis yang menyatakan dirinya berhijrah dari lingkungan yang kurang spiritual menjadi penuh spiritualisme. Prof. Dr. H. Alwi Shihab membahas makna Hijrah yang terdiri dari dua kategori. Simak penjelasan beliau di Podcast Alwi Shihab episode 26 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 26
Apa Makna Hijrah dan Manfaatnya?
Hijrah itu menyangkut banyak kategori. Ada hijrah Rasulullah saw., hijrah para nabi, hijrah manusia pada umumnya, dan disertai hikmah di balik hijrah-hijrah tersebut. Secara linguistik, hijrah berasal dari kata hajara yang artinya meninggalkan satu tempat ke tempat lain. Hijrah dalam pemaknaan ini, fisik manusia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu daerah ke daerah yang lain. Hijrah bisa dibagi menjadi hijrah yang bersifat material (menyangkut hal-hal duniawi) dan hijrah yang bersifat spiritual. Pada era belakangan ini, banyak di antara publik figur tanah air yang menyatakan dirinya berhijrah. Hijrah yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah hijrah dari lingkungan dan kehidupan yang kurang spiritual menjadi lingkungan dan kehidupan yang penuh spiritual. Mereka berusaha untuk mengubah jati dirinya dari yang biasanya hura-hura dalam lingkungan yang panas, lalu kesadaran datang, dan mereka ingin mengubah dirinya menjadi orang yang lebih baik.
Banyak contoh hijrah dalam catatan sejarah keagamaan. Satu di antaranya adalah kisah hijrahnya Nabi Musa dari Mesir. Pada waktu itu ia berhadapan dengan dua kelompok, yakni Koptik Mesir dan Bani Israil. Dua kelompok tersebut saling berkelahi sehingga Nabi Musa as. melihat satu di antara dua kelompok tersebut dianiaya. Orang-orang Bani Israil dianiaya oleh orang-orang Koptik, dan Nabi Musa as. membantu kelompok Bani Israil. Nabi Musa as. memukul lawannya hingga terjatuh dan meninggal. Nabi Musa as. sangat ketakutan, ia khawatir akan dikeroyok dan khawatir akan ada yang balas dendam dan sejenisnya. Karena itulah kemudian ia memutuskan berhijrah dari Mesir ke suatu daerah yang bernaman Madyan.
Kisah lain, ada pula hijrah yang dilakukan para pendukung Nabi Muhammad saw. sebelum beliau hijrah ke Madinah. Hijrah para sahabat ini merupakan hijrahnya kaum Muslim yang teraniaya di Makkah. Rasulullah saw. memerintahkan mereka hijrah ke Abisina (sekarang Ethopia) yang dipimpin oleh seorang raja Katolik, Najasy, yang menerima mereka. Hijrah lainnya adalah hijranya Nabi Muhammad saw. ke Thaif. Pada saat beliau ingin menyampaikan dakwahnya di Thaif, namun ditolak mentah-mentah. Penolakan ini disertai dengan gangguan kata-kata dan penyerangan fisik kepada Rasulullah saw.
Kata hijrah banyak digunakan dalam Alquran. Seperti dalam QS. Al-Muzammil ayat 10. Ayat ini turun karena Rasulullah saw. mengalami penindasan di Makkah, beliau kemudian diperintahkan untuk bersabar terhadap apa yang orang-orang Quraisy Jahiliyah itu lakukan: seperti menuduh Rasulullah saw. sebagai orang gila, pendusta, dan cemoohan lainnya:
وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا
”Bersabarlah terhadap apa yang mereka utarakan/cemoohkan/makikan, dan tinggalkan mereka seara baik (tidak perlu untuk diladeni.” Pada ayat lainnya juga disampaikan:
وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ
“(Wahai umat Islam), jauhilah maksiat!” (QS. Al-Muddatstsir: 5).
Apabila dikategorikan, maka ada hijrah yang semata-mata orang tersebut berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seperti halnya yang terjadi akhir-akhir ini, adanya perpindahan orang Muslim dari Suriah dan perbatasan Irak ke Eropa. Itu semua pada dasarnya disebabkan karena kesulitan hidup, sehingga mereka hjrah. Ini adalah hijrah yang sifatnya marerial, yakni menyelamatkan diri dari situasi atau keadaan yang mencekam. Adapun hijrah spiritual adalah hijrah seperti yang dilakukan publik figur Indonesia, karena dilakukan bukan untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat material. Hijrah spiritual itu banyak contohnya di dalam Alquran, seperti ada kisah Ashab al-Kahfi. Mereka adalah tujuh pemuda yang tidak senang mengikuti penguasa di masanya, sehingga mereka meninggalkan kotanya dan berhijrah, hingga kemudian mereka diselamatkan oleh Allah swt.
Lantas apa titik tolak hijrah spiritual itu? Apabila kita menelisitk kembali kisah hijrah Rasulullah saw., beliau bersabda bahwa hijrah itu ada dua macam, hijrah dari Makkah ke Madinah kemarin itu ada yang berhijrah bukan disebabkan karena Allah; ada yang berhijrah karena ia ingin sesuatu yang lebih baik dari yang dia peroleh di Makkah. Oleh karena itu, Rasulullah saw. senantiasa mengingatkan umat Islam agar berniat untuk keridaan Allah Swt. Rasulullah saw. tegaskan bahwa segala sesuatu harus dengan niat, dan tiap pekerjaan tiap individu itu tergantung niatnya. Apabila niatnya untuk dunia, maka ia akan mendapat dunia; dan apabila niatnya untuk akhirat, maka ia akan mendapat akhirat. Ya, karena barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan ganjaran dari Allah dan Rasul-nya.
Hijrah spiritual adalah hijrah yang benar-benar dilakukan secara ikhlas untuk Allah Swt. Ikhlas dalam semua ibadah dimulai dengan niat. Niat yang ikhlas akan membawa ikhtiar hamba pada apa yang mereka tujukan. Orang yang berdagang untuk memupuk hartanya, yang kemudian harta itu ia gunakan dengan baik, maka Allah akan memberi hasil dari apa yang diusahakan. Namun, apabila ia mempunyai keikhlasan atas harta keberhasilannya dibagi untuk orang yang membutuhkan, maka inilah yang dinamakan keikhlasan dalam berbuat sesuatu. Keikhlasan inilah yang dituntut Allah Swt. Alquran menyampaikan:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
“Mereka manusia tidak diminta untuk berbakti kepada Allah kecuali dibarengi dengan perasaan/tekad ikhlas kepada Allah Swt. bahwa apa yang dilakukan betul-betul mengikuti perintah-Nya,” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Oleh karena itu, jangan sampai apa yang dilakukan umat Islam, termasuk membantu orang yang membutuhkan, tetapi pada akhirnya hal tersebut hilang begitu saja karena sikap kita yang tidak menunjang apa yang telah dilakukan. Sebagaimana bunyi ayat:
لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ
“Jangan sampai kamu membatalkan apa yang telah kamu keluarkan berupa sedekah dengan meneritakan/memberitahu orang lain, terlebih dengan kata-kata yang tidak menyenangkan bagi orang yang menerimanya,” (QS. Al-Baqarah: 264). Alquran sungguh mewanti-wanti agar kita memperhatikan, apabila kita bersedekah, maka bersedekahlah dengan ikhlas. Jika perlu, tangan kanan memberi dan tangan kiri tidak tahu-menahu. Sebisanya itu dilakukan tanpa sepengetahuan orang lain, tidak dipamerkan. Pun Alquran meminta agar manusia berkata dengan baik, dan memberi ampunan kepada orang yang datang dengan cara yang membuat hati tidak nyaman. Yang demikian ini lebih bagus daripada sedekah tetapi embel-embel-nya menyakitkan hati si penerima.
Hijrah spiritual sangat dianjurkan oleh Allah Swt. dan Rasulullah saw. kepada umat Islam untuk dilakukan. Hijrah spiritual harus membawa pelakunya dari lingkungan maksiat kepada lingkungan yang baik dengan disertai niat ikhlas kepada Allah Swt. Hijrah juga sangat bermanfaat bagi manusia. Imam Syafi’i berhijrah dari satu kota ke kota lain untuk berdakwah. Ia lahir di Gaza dan berpindah ke Makkah, dan kemudian ke Irak dan dilanjutkan ke Mesir. Dan Mesir menjadi tempat ia menghabiskan akhir hayatnya. Imam Syafi’i memberikan keteladanan pada kita semua, khususnya anak muda yang berada dalam keadaan sulit di suatu tempat, untuk tidak berdiam diri, melainkan berhijrah/berpergian. Imam Syafi’i menegaskan bahwa dalam sebuah perjalanan, dari satu tempat ke tempat lain, itu mendatangkan lima hal keuntungan: tafarruj alham, kegalauan/frustasi akan hilang, sehingga mendapat suasana yang baru; iktasab ma’iisyah, kehidupan yang lebih baik, karena dalam perjalanan seseorang akan bertemu dengan banyak orang yang membawa banyak peluang dibanding berdiam diri di suatu tempat; ‘ilm, pengetahuan; adaab, budaya-budaya baru yang baik; suhbatu al-amjaad, sahabat-sahabat yang baik.(IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=muhhezxNHWs&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=88.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments