Ibadah Puasa dan Tarawih di Tengah Wabah Corona
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bagaimana menjalani ibadah puasa dan tarawih di tengah wabah corona ini? Simak kiat-kiat Prof. Dr. H. Alwi Shihab untuk meningkatkan amal ibadah kita di bulan ramadhan ini, di #PodcastAlwiShihab episode ke-11.
Refleksi Podcast Episode 11
Tata Cara Ibadah Berjamaah Saat Wabah
Ibadah pada saat bulan suci Ramadan sangat banyak jenisnya, ada yang wajib dan sunah, ada pula yang dilakukan sendiri maupun berjamaah. Namun saat wabah datang melanda, tradisi ibadah Ramadan khususnya yang dilakukan berjamaah agak sulit untuk dilaksanakan. Ini adalah sebuah kondisi yang membuat umat Muslim merasa dilema. Merespon hal ini, Alwi Shihab menjelaskan bahwasanya manusia dalam kondisi tersebut harus dapat membayangkan usaha terbaik yang bisa dilakukan. Perihal puasa Ramadan yang hukumnya wajib, ia adalah salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang istimewa dan ganjarannya langsung diberikan dihadapan Tuhan YME.
Puasa bukan saja milik umat Islam, namun semua agama. Nabi Musa as., sebelum menghadap Tuhan, ia diperintahkan berpuasa 40 hari. Artinya ialah puasa merupakan cara manusia untuk menyucikan dirinya dengan mengharapkan ganjaran, anugerah, perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Sehingga, apabila umat Islam tidak dapat salat sunah Tarawih berjamaah di masjid pada saat wabah, maka dapat mencari jalan lain sebagai penggantinya, seperti melaksanakannya di rumah bersama keluarga. Terlebih dalam 10 hari terakhir bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk beritikaf. Itikaf tidak hanya bisa dilakukan di masjid saja, namun juga di rumah.
Ibadah puasa merupakan ibadah yang istimewa dihadapan Allah Swt. Diharapkan bagi umat Islam yang berpuasa dalam kondisi wabah, yakni senantiasa berada di rumah dan mengakrabkan diri pada Yang Kuasa. Umat Islam berpuasa karena diharapkan agar mencapai tingkatan takwa yang dalam, serta menjalankan ayat-ayat perihal 3 karakteristik orang yang berpuasa. 3 karakteristik tersebut adalah: takwa kepada Allah Swt. (tidak melupakan perintah-perintahNya dan melaksanakan perintah dengan baik, serta menjauhi larangannya), bersyukur (dalam keadaan sesulit apapun, manusia harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang dimiliki), bijaksana/wise (perihal hubungan baik, produktif, hormat-menghormati terhadap sesama manusia).
Kondisi wabah tidak bisa dijadikan hambatan untuk menciptakan hubungan yang kondusif, baik kepada sesama, maupun kepada Tuhan YME. Puasa akan membawa orang yang menjalankannya kepada kefitrahan, kesucian, sehingga wabah bukanlah rintangan dalam mendekatkan diri pada-Nya. Pun, Tuhan tidak akan menyia-nyiakan ibadah yang hamba-Nya lakukan bahkan dalam kondisi yang sulit sekalipun. Termasuk bagian dari berpuasa adalah menahan hawa nafsu, termasuk menahan nafsu untuk tidak melakukan apa yang tidak menjadi prioritas saat kondisi wabah. Semoga siapapun yang berpuasa dan beribadah dalam kondisi wabah dan kondisi sulit lainnya, agar senantiasa mendapat ganjaran, ampunan dan jalan keluar yang lebih baik dari Yang Maha Kuasa.
Perasaan optimisme bisa lahir dari jiwa kita saat kita memiliki pegangan yang kuat kepada-Nya. Dan optimism itulah yang akan menjadikan jalan keluar yang membawa manusia pada kondisi yang lebih maju dan sukses. Manusia tidak diharapkan memiliki perasaan galau, tidak menyenangkan, karena hal yang demikian tidak membantu usaha kita untuk maju di hari-hari mendatang. Jiwa optimisme harus dikuatkan dalam tiap diri, jangan sampai pesimisme yang menjadi pengganggu masa depan yang didamba oleh diri sendiri. Optimisme harus selalu diperbaharui dan diperkuat. Ya, karena Yang Maha Kuasa akan selalu bersama kita semua dan membimbing kita karena kita telah menjalin hubungan yang erat bersama-Nya.
Juga perlu digaris-bawahi, menjalin hubungan baik dengan orang tua di masa sulit sangatlah dianjurkan, karena doa orang tua adalah doa yang langsung didengar oleh-Nya, khususnya doa untuk anak-anaknya. Menjalin hubungan baik dengan orang tua tidak hanya pada saat mereka masih hidup saja, tetapi juga pada saat mereka telah tiada dengan senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka. Hal demikian juga bagian dari cara mendekatkan diri pada Yang Kuasa. Ikhtiar manusia yang optimal harus selalu dibarengi dengan kondisi jiwa yang menggantungkan sepenuhnya nasibnya pada Yang Kuasa untuk meraih apa yang dicitakan..
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://youtu.be/kd_bS0_WnRs?si=d-lyo8ZWbMHwFEkF.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments