Apa dan Mengapa Islam Wasatiyya?
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Belakangan ini Islam Wasatiyya mendapat banyak perhatian baik di dalam maupun luar negeri, terutama dalam kajian-kajian Islam. Apa maksudnya Islam Wasatiyya dan mengapa perhatian yang besar ini? Simak pembahasan Prof. Dr. H. Alwi Shihab dalam Podcast Alwi Shihab episode ke-12 ini.
Refleksi Podcast Episode 12
Mengapa Harus Islam Wasathiyyah?
Dunia Islam saat ini kembali mempopulerkan istilah Islam wasathiyyah. Istilah ini digemakan karena ada kelompok-kelompok yang merasa tidak nyaman dengan istilah atau predikat Islam moderat atau non moderat; dengan asumsi bahwa Islam itu tidak lagi memerlukan predikat apapun, Islam hanya satu. Oleh karena itu, pakar dan tokoh Muslim dunia mensosialisasikan Islam yang tidak ekstrem. Karena tidak ekstrem, maka itu bermakna moderat. Namun, tidak semua dapat menerima penggunaan diksi moderat, sehingga pemilihan istilah dikembalikan kepada Alquran.
Pada akhirnya, para tokoh Muslim mendapatkan ayat yang bisa dijadikan predikat bagi Islam di antara sekian banyak kelompok yang mengaku bahwa Islam versi merekalah yang paling benar. Ayat tersebut berbunyi:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا
“Dan demikian, Kami telah menjadikan kalian umat Islam sebagai umat yang wasath/ditengah (di antara dua ekstremitas (ekstrem dan liberal), dua hal yang keduanya tidak diinginkan untuk dipredikatkan kepada Islam, baik yang berlebihan maupun yang berkekurangan) (QS. Al-Baqarah: 143). Ekstrem adalah melebihi porsi yang sewajarnya. Maka dari itu, Islam yang dianjurkan untuk diberi predikat oleh Alquran adalah umat Islam yang berada di tengah/wasath.
Wasath artinya tengah, atau yang terbaik. Dan memang, ada ungkapan yang menyatakan bahwa, “Sebaik-baiknya sesuatu adalah yang berada di tengah.” Ini tidak bermakna secara matematis, tetapi ada yang berada di tengah di antara dua ekstrem. Contohnya, saat kita akan mengkaji soal ibadah, ada ibadah yang ekstrem (sangat memperhatikan ibadah sehingga waktu-waktunya terlalu banyak digunakan untuk ibadah yang bersifat ritual), dan ada juga yang memudahkan/menggampangkan agama. Sehingga, Islam tidak menginginkan berlebihan dan juga tidak mau membiarkan yang menggampangkan agama, maka yang ditengah-tengah adalah tidak mempersulit dan tidak pula menggampangkan.
Dalam beberapa ayat Alquran digambarkan betapa Allah Swt. tidak menginginkan ajaran agama Islam diturunkan untuk mempersulit umat Islam, umat manusia. Seperti halnya dalam konteks ibadah puasa, banyak kelonggaran-kelonggaran yang diberikan. Untuk itu Alquran mengatakan:
يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ
“Tuhan menciptakan manusia (dengan ketentuan-ketentuan ibadah, anjuran-anjuran, intruksi-intruksi) untuk mempermudah kehidupan manusia, dan tidak untuk mempersulit kehidupannya,” (QS. Al-Baqarah: 185). Allah selalu menunjukkan kemudahan ganjaran bagi umat-Nya yang berbuat baik dengan menjanjikan dua kali lipat ganjaran, sedangkan bagi yang berbuat kejahatan dihitung satu kesalahan/siksaan (setimpal dengan jumlah kesalahannya). Ini menandakan bawah Allah Swt. mau memberikan peluang bagi umat Islam (khususnya) yang mengikuti ajaran Islam untuk berbuat baik dan menghindari keburukan.
Alquran juga menyampaikan:
اتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian!” (QS. Al-Taghaabun: 16). Bahkan di ayat lain sangat jelas disampaikan:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ
“Allah tidak sama sekali akan memberatkan (dengan permintaan-permintaan beribadah dan sebagainya) kecuali sesuai kemampuan manusia.” (QS. Al-Baqarah: 286). Umat manusia perlu mengetahui bahwa wasathiyyah adalah suatu sikap yang padanannya adalah moderat, bukan ekstrem. Ekstrem di sini adalah ekstrem dalam beragama, ekstrem dalam menyikapi masalah, dan ekstrem dalam memahami ayat-ayat Alquran. Sikap ekstrem yang demikian membuat pelakunya menganggap bahwa mereka yang tidak sesuai dengan pandangannya adalah bagian dari kelompok yang bukan Islam sebenarnya.
Dapat kita amati pula, fenomena yang terjadi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini, tentang adanya kelompok yang menganggap bahwa pandangan keagamaan umat Islam di Indonesia itu tidak sesuai dengan ajaran Alquran dan Hadis. Kelompok ini memiliki pandangan demikian karena mereka menganggap bahwa banyak hal-hal yang baru dan tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad saw. pada masa lampau. Pandangan ini menjadikan para pelakunya seakan-akan bertindak sebagai Tuhan yang bisa memilah-milah siapa yang benar dan siapa yang keliru. Dapat dikatakan ini yang dimaksudkan dengan kelompok yang ekstrem, yang mau menuding pihak lain dengan kesalahan-kesalahan, dan mau mendikte kemauannya dan pandangannya untuk selalu diikuti orang lain.
Intinya, Islam pada dasarnya itu selalu berada di tengah, dalam pengertian objektif, yang bisa melihat dari kiri dan kanan, dan bisa bertindak sebagai wasit (tidak memihak ke kiri dan kanan dan juga tidak berlebihan). (IL/AKR)
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=niEXWJzmPYg&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=102.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments