Bagaimana Sekarang Perkembangan Agama Islam di Dunia Barat?
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Podcast Alwi Shihab episode ini akan membahas bagaimana perkembangan Islam di masa kini khususnya di dunia barat. Beliau mengangkat fakta-fakta terkait perkembangan Islam yang patut untuk kita banggakan, sekaligus juga hal-hal yang harus menjadi perhatian untuk kita sungguh-sungguh tingkatkan dan perjuangkan bersama.
Refleksi Podcast Episode 61
Melacak Perkembangan Islam di Dunia Barat: Periode Abad Ke-20 dan 21
Runtuhnya Kesultanan Turki Usmani menjadi satu pertanda berakhirnya era kekuasaan Islam dengan sistem dinasti monarki. Masyarakat Islam beradaptasi dengan era global baru, yang berdampak pada tatanan politk, sosial dan juga keagamaan dalam perkembangan Islam pada abad ke-20 (dan masih berlangsung hingga abad ke-21 saat ini). Alwi Shihab mengajak kita untuk berpetualang melihat perkembangan Islam di dunia Barat setelah melalui perjalanan sejarah naik-turun pada kurun waktu hampir 14 abad di era sebelumnya.
Mengamati perkembangan Islam di dunia Barat, Alwi Shihab mengkategorikannya menjadi dua sisi: pertama, perkembangan yang positif; kedua, perkembangan yang negatif. Dua sisi ini menimbulkan dua kondisi pertanyaan pula: sebagai umat Islam, apakah kita sudah bisa merasa bangga menjadi bagian dari umat ini? atau kita justru merasa masih dalam kondisi yang inferior karena belum terlalu kuat dalam percaturan pemikiran global/internasional? Kendati demikian, citra Islam nampaknya masih terjaga, dengan realita masih terdapat orang yang memuji ajaran Islam kemanapun kita pergi dan berada. Sehingga ada ungkapan, khususnya di Amerika, Islam adalah agama yang paling cepat perkembangannya di dunia, ‘the fastest growing religion in the word.’ Bahkan diprediksi, pada tahun 2050, jumlah umat Islam akan mengungguli jumlah umat Kristen sebagai agama dengan pengikut terbanyak di dunia.
Prediksi ini kemudian membuat kita semua bertanya kembali, “Apakah kuantitas ini akan menunjukkan keistimewaan atau tidak?” Untuk menemukan jawaban pertanyaan ini, Alwi Shihab mengajak kita menelusuri apa-apa yang terjadi pada masa ini; dan apa yang bisa kita sumbangkan untuk menjadikan kuantitas umat perkembangannya begitu pesat ini bisa diimbangi dengan kualitas yang baik pula. Sehingga, keseimbangan kualitas dan kuantitas tersebut dapat yang kita banggakan kemudian. Banyak survei tentang nilai-nilai ajaran Islam dilakukan oleh para peneliti dengan objek banyak negara di dunia. Hasilnya sedikit mengejutkan, karena 3 peringkat atas ditempati oleh negara Barat, bukan negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Peringkat pertama ditempati oleh New Zealand. Di wilayah negara ini, nilai-nilai Islam sungguh diterapkan para warganya, seperti kejujuran, ketepatan waktu, dan kesantunan. Nilai-nilai ini adalah bagian dari ajaran Islam, namun justru tidak dapat kita saksikan di banyak belahan negara-negara Islam.
Realita tersebut juga pernah menjadi pengamatan Syekh Muhammad Abduh (tokoh pembaharu) pada awal abad ke-20. Sekembalinya ia ke negeri asalnya (Mesir) setelah 2 tahun di Perancis, Syekh Muhammad Abduh diangkat sebagai Mufti Mesir. Dan ia pernah mengatakan, “Saya menyaksikan nilai-nilai Islam di negara non-muslim, di negara Barat, walaupun mereka bukan Muslim. Tetapi sayangnya, di negeri saya dan banyak negara-negara Muslim, Islam hanya nama, tidak dibarengi oleh praktik-praktik nilai-nilai Islam yang diajarkan.” Syekh Muhammad Abduh juga menulis buku pada masa-masa itu dan masa setelah itu, dengan judul Al-Islaam Mahjuub bi Al-Muslimiin, yang artinya Islam ini tersekat oleh perilaku umat Islam.
Alwi Shihab mengiyakan judul buku dan pernyataan masyhur Syekh Muhammad Abduh tersebut. Bagaimana tidak tersekat, kalau yang kita lihat hari-hari ini seperti pemaksaan bersekolah di sekolah institusi Islam di Nigeria. Ratusan siswa dan mahasiswa yang beragama Islam di sana diculik oleh kelompok Boko Haram. Kelompok Boko Haram mengharamkan warga Muslim belajar di institusi/sekolah non-muslim. Ini adalah tindakan anti Barat. Hal serupa juga dilakukan oleh kelompok ISIS. ISIS memporak-porandakan negara-negara yang mereka masuki. Negera-negara tersebut pasrah untuk dikuasai ISIS. Dan di sana, ISIS menciptakan negara khilafah yang sangat jauh sekali dari ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam.
Dari gambaran dua kondisi di atas dapat dilihat, secara kuantitatif tentu menggembirakan, namun secara kualitatif tampaknya umat Islam masih harus berjuang panjang untuk bisa meningkatkan penyebaran nilai-nilai Islam yang kita kehendaki. Tentunya nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.
Lebih lanjut, Alwi Shihab mengajak kita beranjak melihat perkembangan Islam di Amerika. Di Amerika, diketahui bahwa migrasi pertama orang-orang Muslim ke sana itu pada tahun 1895-1912 M. Para imigran berasal dari daerah yang sebelumnya menjadi bagian dari kekuasaan Turki, seperti dari daerah Syiria, Lebanon, dan Irak juga Pakistan. Pada awal tahun 1900-an inilah Islam mulai diperkenalkan di sana. Agama Islam pada saat itu dinamakan sebagai agama ‘migran,’ belum menjadi bagian dari agama yang berada di Amerika, karena agama Islam yang masuk bersamaan dengan kedatangan pada migran dari negara-negara yang disebutkan tadi.
Pada tahun 1910-1920 M, terjadi migrasi besar-besaran orang-orang kulit hitam ke Amerika. Mereka dipekerjakan dan diperlakukan sebagai budak pada waktu-waktu tersebut. Di masa inilah mulai ada interaksi antara orang-orang kulit hitam (yang merasa ada segresi, juga didiskriminasi karena diperlakukan secara tidak manusiawi) dengan komunitas Muslim. Mereka melihat bahwa komunitas Muslim ini tidak membedakan antara yang hitam, putih, tan, dan sebagainya. Kondisi ini yang membuat mereka tertarik dan mulai berinteraksi dengan komunitas Muslim, juga ada di antara mereka yang kemudian menganut agama Islam. Sekitar tahun 1919 M, ada yang dinamakan National Negro Council yang dibentuk untuk memperjuangkan penghapusan sistem diskriminasi di Amerika. Kemudian timbullah tokoh-tokoh yang kita kenal di Amerika sebagai tokoh-tokoh kulit hitam yang beragama Islam. Walaupun Islamnya belum sempurna, tetapi mereka sudah menyatakan bahwa ‘kami sekarang adalah bagian daripada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw’. Di antara tokoh tersebut ada Elijah Muhammad, Louis Farrakhan yang mempunyai penganut cukup banyak (sekitar 50.000 anggota), Malcolm X, atlet tinju dunia Muhammad Ali yang mempunyai pengaruh luar biasa, dan juga tokoh dengan pengaruh yang paling jelas dalam sejarah perkembangan Islam di Amerika adalah Tyson.
Sejak saat itu, di Amerika, Islam dikenal sebagai agama yang betul-betul tidak membedakan satu dengan yang lain, agama yang simpel atau tidak terlalu banyak dogma di dalamnya. Sehingga, banyak orang-orang, baik kulit putih maupun kulit hitam, mulai tertarik untuk masuk Islam. Alwi Shihab menuturkan kisah dari temannya yang tinggal di Connecticut. Dan sang teman pernah bercerita, bahwa dia sudah 40 tahun di berada Connecticut, Amerika. Negara Connecticut bukan negara besar, bisa dikatakan kecil. Ketika datang ke Amerika, sekitar 35/40 tahun yang lalu, masjid belum ada, yang ada hanya ada tempat untuk beribadah orang-orang Islam. Masjid yang bermenara dan kubah itu belum ada di sana. Akan tetapi, saat ini, di Connecticut, sudah ada 450 masjid. Jadi, ini menggambarkan perkembangan Islam yang pesat sekali. Dan untuk dicatat, bahwa masjid pertama yang dibangun di Amerika adalah (masjid dalam artian bangunan khusus bermenara (karena sebelumnya yang ada hanya tempat ibadah, tempat perkumpulan orang-orang muslim) yang dinamai As-Sadiq. Nama masjid ini diambil dari nama Nabi Muhammad saw., As-Shodiqul Amin, dan terletak di Chicago pada tahun 1934 M.
Sekitar 25.000 orang yang tiap tahunnya masuk Islam di Amerika. Mereka pada umumnya berasal dari kelompok kulit hitam yang di kehidupan sebelumnya adalah bagian dari gangster dan suka huru-hara dan mabuk-mabukan. Setelah masuk Islam, mereka menampakkan perubahan akhlak yang lebih baik dari sebelumnya. Akhlak karimah ini adalah keistimewaan dalam ajaran Islam. Bagaimanapun, minuman keras yang memabukkan merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan orang Barat. Khususnya oleh keluarga besar orang-orang kulit hitam, kebiasan meminum minuman keras dapat dilakukan secara berlebihan. Keberadaan tokoh-tokoh Islam yang berasal dari sesama kulit hitam seperti yang telah disebutkan, sungguh memiliki pengaruh yang signifikan dalam hal ini.
Walaupun banyak realita positifnya dari perkembangan Islam di Amerika ini, namun kita tidak serta-merta boleh merasa bangga. Karena menurut hasil sebuah survei, digambarkan bahwa umat Islam yang ada di Amerika tidak semuanya adalah orang yang sungguh-sungguh masuk Islam. Ada dari mereka yang sekedar datang dan melabeli dirinya sebagai Muslim. Sebagai bukti: orang-orang Muslim yang datang ke Amerika ini banyak berasal dari negara-negara Islam, khususnya Iran. Sewaktu Reza Shah ditumbangkan (Shah Iran pada waktu itu sangat sekuler), banyak dari kelompok Iran yang datang ke Amerika. Dan tentu saja negara-negara lain yang sekuler, juga meninggalkan Islam. Dan data yang mencengangkan adalah, bahwa 23 persen dari mereka yang datang ke Amerika sebagai Muslim itu meninggalkan Islam karena terpengaruh oleh apa yang terjadi di negara-negara Islam, yaitu kebrutalan ISIS; dan juga karena tragedi sebelumnya, yakni saat mereka diperlakukan di negerinya dan akhirnya mereka sampai ke Barat. Di Barat, mereka bisa bebas dengan berbuat apa yang mereka kehendaki untuk pergaulan sehari-hari, sehingga mereka meninggalkan agama.
Di antara mereka itu, 50% yang meninggalkan agama itu memilih menjadi atheis. Jadi, dia tidak pindah ke Kristen, hanya 6 % yang pindah ke Kristen, tapi pada umumnya menjadi Atheis. Seiring dan sejalan dengan berkembangnya gerakan Atheisme di Barat, sekarang pun sudah mulai menyambar ke negara-negara Islam, termasuk Mesir. Alwi Shihab juga mengungkapkan keterkejutannya, karena selama ia tinggal lama di Mesir (10 tahun), ia tidak pernah mendengar bahwa ada kelompok Atheis, atau pergerakan Atheisme di Mesir secara terang-terangan. Dan yang ada sekarang, di Mesir mulai ada anak-anak muda yang berani untuk mengatakan bahwa dirinya atehis. Alwi Shihab juga mengungkap, bahwa tentu saja ada dari mereka yang tidak senang dengan keadaan dan melihat hal-hal yang tidak sejalan dengan hati nuraninya, sehingga mereka kadang-kadang mengkritik Islam, tapi tidak secara terbuka.
Pernyataan tersebut Alwi Shihab sampaikan berdasarkan data-data yang ada. Ia juga pernah melihat acara di TV yang secara jelas mengatakan bahwa sang pembicara di acara TV tersebut tidak puas dengan ajaran Islam. Hal ini disampaikannya karena melihat kondisi umat Islam saat ini yang menyukai kekejaman, tidak menghormati hak asasi manusia, dan sebagainya. Karena sang pembicara/yang diwawancarai berkata demikian, sehingga membuat host TV tidak dapat menahan dirinya dan terpaksa meminta sang pembicara untuk tidak melanjutkan pemaparannya karena khawatir hal ini bisa merembet kepada masyarakat yang berada dalam keraguan. Demikian ungkap Alwi Shihab.
Jadi, 23 % dari mereka yang masuk Islam di Amerika itu bisa juga diistilahkan ‘murtad.’ Mereka tidak mengatakan kalau mereka keluar dari Islam, namun mereka mengatakan bahwa mereka tidak percaya lagi akan nilai-nilai Islam. Bagi mereka yang telah ‘murtad’ ini, nilai-nilai Islam sudah tidak cocok untuk masa kini. Inilah yang terjadi di Amerika dan demikian pula yang terjadi di Australia. Di Australia, perkembangan Islam juga menyenangkan dari segi kuantitas. Hal yang sama terjadi pula di Korea dan Jepang. Di negara-negara ini, keberadaan masjid sudah cukup banyak.
Islamic Center juga sudah terdapat di banyak negara di berbagai penjuru belahan dunia. Kemanapun kita pergi, kita juga dapat melihat banyak orang yang berjilbab. Masjid yang ada di negara-negara Islam dan Barat saat ini juga menjadi tempat yang sering dikunjungi banyak orang.
Berbeda dengan teman-teman yang dari agama Kristen, umpamanya. Gerejanya kosong karena pada umumnya anak-anak muda di sana terpengaruh oleh peradaban Barat yang menurut seorang penulis melabeli diri mereka, menamakannya, sebagai inverted civilization (peradaban yang jungkir balik). Karena apa? Mulai dari masa Nietzsche, ada Kierkegaard, ada juga Sartre di Perancis, semuanya itu menganut pandangan bahwa agama sudah tidak perlu; agama dianggap sebagai sesuatu yang kuno; agama itu penuh dengan takhayul; hari akhirat itu sebenarnya cerita untuk anak-anak, bukan untuk seorang yang berpendidikan; sehingga mereka meninggalkan agamanya. Dari itu dapat dilihat, bahwa di Barat sekarang ini pengaruh orang-orang yang beragama itu sangat kecil. Sebaliknya, pengaruh orang-orang yang liberal, yang membiarkan hal kebebasan, sebagaimana berdasarkan hasil survey, 50% dari anak-anak atau warga Amerika, 50% itu berselingkuh. Adapun 50% sisanya, bagi Alwi Shihab mereka adalah orang-orang yang masih taat kepada agama Kristen atau agama lainnya yang ada di Amerika.
Pernah terjadi sebuah kongres di Amerika, yang hasilnya melarang minuman keras. Namun hal ini tidak bisa bertahan lama, karena gempuran peradaban yang begitu kencang sebagai anti kepada spiritualisme dan anti kepada ajaran agama. Mereka menganggap bahwa masa dari agama sudah lewat; pencipta manusia itu bukan Tuhan, tetapi manusia itu sendiri. Menurut filsafat mereka, Tuhan kata Nietzsche, Tuhan itu telah mati, jauh sebelumnya sudah mati. Jadi, manusia atau pandangan eksistensialisme ini adalah bagaimana ego (Freud juga punya pandangan tentang ego dan superego) manusia ini yang menentukan perjalanan hidupnya dan bagaimana seharusnya dia menjadi sejahtera dan bahagia, terlepas dari nilai-nilai spiritual. Inilah yang terjadi sekarang di Barat, sehingga bukan karena datangnya Islam lalu mereka gereja-gerejanya itu dijual dan kosong sehingga tidak memiliki dana untuk operasional mereka, tetapi justru karena mereka telah, maaf, masuk secara mendalam oleh pengaruh kebebasan yang kebablasan.
Melihat kehidupan global saat ini, membuat orang gampang saja membunuh orang lain, tetapi tidak pasti dia akan dibunuh. Lain dengan apa yang terjadi di negara-negara Islam umpamanya. Pembunuh, karena kalau dia sengaja membunuh, dan punya motivasi yang jelek, yang buruk, maka hukumannya qisas atau hukumannya dia dibunuh, kecuali kalau dia memaafkan oleh keluarga korban.
Dan Islam mengajarkan supaya lebih baik dimaafkan, apalagi kalau mereka datang untuk meminta maaf. Adapun menurut data statistik, kasus kriminal, khususnya pembunuhan itu yang paling kecil di dunia ini ditempati oleh negara Saudi Arabia, karena ganjarannya atau pinaltinya itu sangat besar. Tapi sebaliknya jika kita lihat di Amerika, untuk kasus kriminal pembunuhan, tidak semua negara bagian di Amerika itu menerapkan ganjaran atau pinaltinya yang sama/setimpal, artinya juga harus dibunuh. Nah, ini yang menjadikan Barat sekarang ini, banyak orang menganggap bahwa pada suatu saat kalau ini terus menerus dan terus-menerus kekuatan agama di Barat ini mengecil dan terus mengecil, pada suatu saat hal ini akan menjadi penyebab dan pada kehancuran suatu peradaban.
Paparan Alwi Shihab ini merupakan data yang bisa kita renungkan sebagai bahan intropeksi diri, sudah sejauh mana ajaran Islam kita kerjakan. Apakah Islam hanya identitas luar saja, atau sudah meresap dalam perilaku kita yang dapat mempengaruhi kualitas hidup orang di sekitar kita. Semoga kita semua dapat saling bertumbuh menjadi pribadi dengan kuanititas dan kualitas yang sama baiknya. (IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://library.lklb.org/project/vpas-61/ dengan judul “Bagaimana Sekarang Perkembangan Agama Islam di Dunia Barat?”
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments