Muhammad saw.: Keteladanan Dakwah Pluralis yang Humanis

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi atau nabi terakhir di muka bumi adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam penyebaran agama islam dan menjadi sosok panutan yang paling istimewa bagi umat islam di seluruh dunia.

Bagaimana cara beliau berdakwah dan membawa islam sebagai agama yang cinta damai dan mengajarkan kebaikan bagi para pengikutnya? Simak jawabannya di #PodcastAlwiShihab episode ke-107 ini!

Refleksi Podcast Episode 107
C

Penjelasan Al-Baqarah:120, Ali ‘Imran:196, dan Al-Fath:29 dalam Konteks Pluralisme Agama

Seseorang yang memutuskan memeluk sebuah agama dalam hidupnya akan menjadikan kitab suci agama bersangkutan sebagai pedoman hidup. Alquran bagi umat Muslim, Alkitab bagi umat Kristen, Tanakh bagi umat Yahudi, dan lainnya. Alquran sebagai pedoman hidup umat Muslim berisikan banyak komponen di dalamnya, baik itu perihal akidah, ibadah, etika, hukum dan masih banyak lagi. Dalam hal etika sosial, khususnya relasi antar umat beragama, Alquran memiliki panduan-panduan yang dapat dijadikan dasar untuk berelasi dengan baik terhadap sesama yang berbeda. Akan tetapi, tidak sedikit umat Muslim yang saat membaca Alquran tidak mampu memaknai dan menafsiri makna yang terkandung di dalamnya. Ayat tertentu dijadikan dalih untuk memecah belah persatuan, memusuhi dan bersikap tidak adil kepada yang berbeda keyakinan. Sehingga, nilai Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin tidak nampak dari perilaku para pemeluknya yang tidak tepat dalam memaknai isi kandungan dari sumber suci yang mereka yakini.

Hal ini akan terasa saat kita membaca makna dari ayat-ayat Alquran secara litterlijk (tekstual). Seperti saat membaca ayat-ayat berikut:

  1. Al-Baqarah: 120

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰىۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah.”

  1. Ali ‘Imran 196

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِۗ

“Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh bolak-balik perjalanan orang-orang yang kufur di seluruh negeri.”

  1. Al-Fath 29

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًاۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًاࣖ 

“Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud (bercahaya). Itu adalah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. (Keadaan mereka diumpamakan seperti itu) karena Allah hendak membuat marah orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Apabila dibaca tidak dengan seksama dan tanpa ilmunya, ayat-ayat tersebut berpotensi untuk melahirkan narasi keagamaan yang membahayakan pada relasi lintas iman. Relasi antar umat beragama yang tercipta kemudian adalah kaku, intoleran dan dipenuhi dengan klaim kebenaran yang menimbulkan tindak kekerasan dan perpecahan. Untuk merespon hal ini, Alwi Shihab menegaskan, bahwasanya salah satu sifat dari ayat Alquran adalah bersifat kontekstual. Disebabkan ayat Alquran bersifat kontekstual, oleh karenanya ayat tersebut hanya berlaku dalam konteks di masa lampau; dan ayat tersebut hanya boleh dimaknai dan ditafsirkan hanya oleh para ahli Tafsir. Ayat yang sifatnya kontekstual seperti tertera sebelumnya tidak dapat digunakan untuk mengeneralisir semua orang dengan identitas yang sama, baik di masa lampau, apalagi di masa sekarang.

Lebih lanjut, Alwi Shihab menegaskan bahwa ayat-ayat Alquran yang bersifat kontekstual tidak boleh dijadikan sebagai dasar untuk memusuhi, membenci dan memerangi yang berbeda keyakinan dengan pengikut Nabi Muhammad saw. Hal ini disebabkan, karena yang menjadi indikator jaminan keselamatan di hari akhir ialah beriman kepada Tuhan YME, beriman kepada hari akhir dan berbuat baik kepada sesama manusia selama hidup di dunia. Dan jaminan keselamatan ini diperuntukkan Tuhan tidak hanya kepada umat Muslim, melainkan pula umat Nasrani, Yahudi dan juga pemeluk agama-agama terdahulu. Atas alasan ini, Alwi Shihab mengarahkan agar dalam membaca dan memahami teks ayat, pembaca kitab suci juga perlu memperhatikan ayat yang lain; yakni ayat-ayat berbunyi dan memiliki makna yang berbeda dengan ayat bersangkutan (bermuatan kontekstual, eks: ayat-ayat perang dan permusuhan lintas umat beragama).

Keberadaan ayat-ayat kontekstual dalam Alquran merupakan bukti bahwasanya kebenaran tidak boleh dimonopoli oleh makhluk. Adapun sikap keras dan tegas kepada non Muslim dalam konteks era Nabi saw. ialah agar umat Muslim dapat berlaku adil dan berbuat baik di masa itu dan dalam kondisi saat itu. Adapun di masa sekarang, apabila ayat-ayat kontekstual di masa lampau tersebut sudah tidak lagi relevan, dengan tegas Alwi Shihab menganjurkan agar tidak dijadikan patokan pilihan. Kita bisa mencari ayat-ayat lainnya yang jauh lebih relevan dengan kondisi yang sedang masing-masing umat hadapi dimanapun berada. Sebagaimana yang ditegaskan Alwi Shihab, bahwasanya ayat-ayat Alquran itu memiliki waktu, tempat, ruang, masa, kondisi dan subjek yang berbeda dalam pelaksanaannya. Dengan kata lain, subjek dan kondisi berbeda mengaharuskan implementasi ayat dari kitab suci yang menjadi dalil/pedoman hidup yang berbeda pula. Oleh karena itu, cara menggunakan ayat Alquran dalam kehidupan adalah dengan menyesuaikan kondisi masyarakat dimana kita tinggal. Hal ini diharuskan untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam hidup yang penuh keberagaman.

Alwi Shihab juga menjelaskan, bahwasanya umat Muslim harus memahami makna kafir dengan baik dan tidak melekatkannya pada pemeluk agama tertentu. Kafir menurut Alwi Shihab adalah sifat orang-orang yang menutup kebenaran. Orang yang demikian adalah orang-orang yang tidak percaya pada agama yang diturunkan kepada para nabi-nabi Allah Swt. Sehingga, identitas kafir bisa melekat pada siapa saja, dan apapun agamanya (termasuk yang memiliki memeluk ajaran Nabi Muhammad saw.). Jika telah memahami makna kafir yang demikian, kita tidak akan sibuk mengoreksi kekafiran milik liyan, melainkan masing-masing kita akan disibukkan untuk menghilangkan kekafiran yang dimiliki diri sendiri.(IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=YuBjZTZycxM&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO .

Nonton juga

C
Bagaimana Bisa Istiqomah Berdakwah di Negara Barat?

Bagaimana Bisa Istiqomah Berdakwah di Negara Barat?

Bagaimana bisa memantabkan diri istiqomah ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...