Merayakan Valentine dalam Islam menurut Alwi Shihab
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bagaimana dalilnya merayakan valentine dalam Islam? Simak jawaban Prof. Dr. H. Alwi Shihab terkait pro kontra valentine ini di #PodcastAlwiShihab episode 41 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 41
Apakah Umat Muslim Boleh Merayakan Hari Valentine?
Hari Valentine bermula saat ada seorang pendeta (Santo Velentine) yang membangkang terhadap perintah Raja Romawi yang bernama Caludius II. Pada saat itu, Caludius II melarang anak-anak muda menikah karena pernikahan dianggap akan melemahkan semangat juang dalam pertempuran. Sehingga, pelarangan ini membuat Santo Valentine membangkang dan ia dengan otoritasnya sebagai pendeta membolehkan serta menikahkan para pemuda secara diam-diam. Hingga pada akhirnya, oleh Claudius II, ia dihukum penggal dengan dakwaan pembangkangan terhadap perintah raja.
Hari Valentine sesungguhnya adalah simbol dari bagaimana cinta yang seharusnya dipupuk dan merupakan fitrah, naluri manusia, yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun. Oleh karena itu, Hari Valentine merupakan peringatan perjuangan dan pengorbanan Santo Valentine dalam memupuk rasa cinta di antara sesama manusia, tidak hanya laki-laki dan perempuan. Hari Valentine adalah ajakan agar manusia saling mencintai, tidak hanya yang terikat dalam relasi suami-istri, tetapi juga kepada relasi yang lain secara luas. Hari Valentine adalah hari cinta yang dirayakan secara umum walaupun tidak sepopuler Hari Thanksgiving (bagi masyarakat Amerika).
Lantas bagaimana Islam memandang hal ini? Tentu jawabannya kembali kepada ijtihad. Ijtihad adalah bagaimana para ulama memandang hal tersebut. Apabila kita kembali pada fatwa ulama salafi yang ketat dan tidak melihat substansi/pesan dari perayaan tersebut, apakah sejalan dengan ajaran Islam atau tidak; juga mengatakan, “ apa yang tidak terjadi di zaman Nabi saw. maka hal itu terlarang dan sesat.” Perlu digaris bawahi, dalam merespon isu-isu demikian, kita perlu melihat substansinya: Apakah Islam mengajarkan substansi yang bisa dipetik dari perayaan tersebut atau tidak? Seperti contoh, apabila kita mengetahi fakta sejarah bahwa tawaf di Kabah it sebelum Nabi saw. diutus adalah juga tradisi orang Jahiliyah. Mereka juga tawaf (keliling) di Kabah namun dengan cara yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, seperti tawaf pada waktu malam hari dengan tanpa menggunakan pakaian apapun, mengelilingi Kabah dengan penuh berhala, dan lain sebagainya. Kemudian Nabi saw. datang, dan Alquran pun memerintahkan untuk melanjutkan upacara/tradisi tawaf ini, namun diisi dengan pesan-pesan, prinsip-prinsip Keeasaan Allah Swt. Maka dari itu, sampai saat tradisi tawaf tetap berjalan dan dilaksanakan dengan cara yang tentu tidak sama dengan zaman jahiliyah.
Perlu diketahi juga, pada zaman jahiliyah, tawaf itu dilaksanakan dalam waktu beberapa hari. Setelah tawaf selesai dilaksanakan, terdapat sebuah pertemuan besar yang diadakan oleh semua suku-suku Arab yang berada di sana. Dalam pertemuan itu, masing-masing suku saling membanggakan kesukuannya, leluhurnya, dan lainnya. Tradisi ini juga diubah dengan kedatangan Islam, sebagaimana yang diabadikan dalam Alquran:
اِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ
“Apabila kamu selesai dari ritual kamu, (jangan ikuti mereka yang membesar-besarkan dan mengangung-agungkan/saling berargumentasi terhadap kebesaran masing-masing suku), maka ingatlah Allah Swt.,” (QS. Al-Baqarah: 200). ‘Ingat’ di sini artinya adalah jangan melihat hal yang lain, melainkan melihat keagungan dan kebesaran-Nya. Jadi, tradisi-tradisi yang tidak ada pesan-pesan Islamnya kemudian diubah dengan datangnya Nabi Muhammad saw.
Kembali pada persoalan-persoalan ijtihad, tentu ada yang pro dan kontra, termasuk dalam isu perayaan Hari Valentine bagi umat Muslim. Posisi kita seharusnya adalah: terhadap yang pro jangan dianggap sesat; dan terhadap yang kontra juga jangan dianggap sesat. Kita harus selalu menganggap bahwa pihak yang pro tentu memiliki alasan yang mereka bangun dan bisa diterima, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran, semangat, dan substansi Islam; dan kepada yang kontra, yang melarang perayaan Valentine bagi umat Muslim, kita juga harus selalu menghormati, menghargai mereka. Mereka sangat strict karena khawatir hal ini akan merambah pada hal-hal yang mungkin bisa menjerumuskan bagi orang-orang yang tidak mengetahui.
Ada Hari Ayah, Hari Ibu, dan lainnya yang dirayakan dimana-mana. Substansi dari perayaan hari-hari tersebut adalah menghormati ayah dan ibu (juga lainnya), yang terkadang kita melupakan jasa dan pengorbanan mereka pada kita. Ini tentu sejalan dengan ajaran Islam, sebagaimana hadis Nabi Muhammad saw. yang artinya, “Barang siapa yang hendak mendapatkan rejeki yang melimpah dari Allah Swt., maka berbaik-baiklah pada orang tuamu,” (HR. Ahmad); “Rida/perkenannya Allah Swt. itu bergantung pada rida/perkenannya orang tua,” (HR. Tirmidzi). Jadi, pada saat kita merayakan Hari Ibu dan Hari Ayah, kita berharap agar hubungan kita dengan orang tua menjadi baik, mendapat nasehat dan bimbingan dari mereka, juga perkenan/rida mereka. Demikianlah sikap kita dalam merespon isu-isu kontemporer yang kerap menjadi pro dan kontra di antara sesama Muslim. Semoga semuanya bijak dalam berkata-kata dan bersikap agar tidak ada perpecahan di antara kita semua.(IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=abnuMq44VN8&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=73.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments