Pandangan Orang Barat yang Tertarik terhadap Islam, dan Titik Baliknya! Menjadi Takut Islam

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗


Podcast Alwi Shihab episode ini akan membahas bagaimana orang barat tertarik dengan Islam, sampai kepada titik balik mengapa munculnya kebencian terhadap Islam. Bagaimana sebenarnya sampai Islamophobia ini menjadi percakapan sehari-hari di kalangan orang-orang barat? Serta bagaimana perjuangan kelompok Islam untuk menghadapi Islamophobia ini? 

Refleksi Podcast Episode 62
C

Islamophobia: Menelusuri Penyebab dan Usaha Penanggulangannya

Di Barat, banyak orang yang tertarik pada Islam. Alasan pertama, orang-orang Barat (selain dari kelompok kulit hitam) merasa bahwa Islam ini memuaskan hatinya. Komunitas Islam memiliki perjuangan untuk membela orang-orang yang lemah dan tidak menunjukkan diskriminasi kepada sesama, dan masih banyak lagi. Sehingga, banyak sekali dari mereka, orang-orang Barat kulit putih yang intelektual kemudian masuk Islam. Ini juga disebabkan oleh penelitian mereka, juga dipengaruhi oleh buku-buku yang positif yang ditulis oleh orang-orang Barat (bukan oleh orang-orang Islam). Perspektif orang Barat terhadap Islam yang dibukukan inilah yang menarik mereka untuk mengetahui Islam lebih dalam lagi. Demikian ungkap Alwi Shihab.

Michael H. Hart dalam bukunya, 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah, menuliskan dan menempatkan 100 orang yang sangat menonjol di dunia ini dalam sejarah manusia. Di antara 100 nama itu ada Einstein, Nabi Isa as., dan Mother Teresa. Adapun posisi paling teratas dari 100 nama, ia menempatkan nama Nabi Muhammad saw. dengan segala argumentasi yang dibangunnya. Sosok Nabi Muhammad saw. ia nilai sebagai sosok yang berkharisma, kepribadian juga keteladanannya bisa menjadikan agama Islam menjadi begitu besar dan diterima dimana-mana. Buku-buku seperti ini yang mulai dibaca oleh orang Barat dan membuat mereka tertarik pada Islam.

Alwi Shihab juga menyebut seorang nama profesor di Harvard yang pernah ia temui, yakni Annemarie Schimmel. Annemarie Schimmel menulis buku tentang Islam. Apabila kita membaca karya-karya Annimarie, tentu kita akan menganggap bahwa yang ia adalah orang Islam. Dalam tulisannya, ia dapat menunjukkan betapa Islam itu betul-betul agama yang santun, agama yang mudah, dan agama yang menginginkan adanya kesejahteraan dunia dan akhirat. Annimarie Schimmel sendiri tidak menyampaikan atau tidak memproklamirkan dirinya sebagai Muslim. Ia mengajar Mysticism di Harvard. Kendati tidak menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim, tetapi banyak orang yang menganggap bahwa sebenarnya ia sudah masuk Islam karena simpatinya yang besar terhadap Islam. Tokoh Barat lainnya ada John L. Esposito,  dan ia masih hidup. Ia adalah seorang Kristen Katolik dan belajar di Temple University (tempat yang sama dengan Alwi Shihab untuk menimba ilmu) guna mendapat pendidikan tentang Islam dan ajaran Islam. Sebagai ahli di bidang kajian Islam, Esposito sangat bersimpati saat menulis tentang Islam, atau dengan istilah yang lain, ia dapat menggambarkan ajaran Islam apa adanya. Tanpa harus menjadi seorang Muslim, Esposito dapat dengan jujur menjelaskan apa Islam itu.

Citra Islam sangat baik di Barat. Hingga pada akhirnya terjadi peristiwa Nine Eleven, pemboman 2 tower di New York. Peristiwa ini menjadi titik balik citra Islam di Barat. Orang Barat mulai gencar menunjukkan kebencian terhadap Islam. Hal ini karena mereka melihat sendiri di hadapan matanya bagaimana brutalnya orang-orang Islam itu. Tanpa pandang bulu, orang-orang Islam itu melakukan pemboman, dan tentu saja banyak sekali orang-orang yang tidak bersalah yang meninggal dalam peristiwa itu. Terlepas daripada adanya pendapat bahwa sebenarnya itu adalah suatu konspirasi, ada yang mengatakan bahwa itu konspirasi Yahudi dan sebagainya, tetapi yang jelas bahwa apa yang diyakini oleh orang-orang Barat, tragedi itu adalah perbuatan orang-orang Islam. Sehingga, orang-orang Barat (khususnya Amerika) ingin mengetahui lebih jauh, apa sebenarnya ajaran yang menjadikan orang-orang Islam itu bersedia untuk berkorban membunuh dirinya sendiri, padahal mereka itu bukan orang-orang miskin, dan bisa dikatakan orang-orang pandai dan orang-orang berkecukupan. Kemudian mulailah timbul keinginan bagi orang Barat untuk mengetahui agama Islam ini lebih dalam lagi. Akan tetapi, kondisi ini memiliki dampak negatif dan positif. Dampak negatifnya, lebih banyak orang yang tidak mau lagi meneliti Islam dan melihat kenyataan yang lain. Mereka lebih memilih mengikuti propaganda dari TV dan lainnya. Adapun dampak positifnya, masih banyak juga yang tekun untuk belajar dan meneliti ajaran Islam dengan baik, sehingga mereka kembali dapat mengetahui sisi sesungguhnya dari ajaran Islam melalui penelitian yang mereka lakukan.

Sejak saat itulah lahir istilah Islamophobia, takut kepada Islam. Islamophobia menjadi percakapan sehari-hari di kalangan orang-orang Barat dan juga dikalangan orang-orang Islam untuk berusaha menjelaskan bahwa itu sebenarnya bukan ajaran Islam yang benar. Hal-hal yang menjadi penyebab Islamophobia adalah suatu fanatisme yang tidak bisa dibenarkan. Hal ini didasari pada realita yang ada, jika kita menelusuri kelompok Salafi Jihadi, kelompok ini mau memurnikan Islam dengan cara menganggap bahwa non-Muslim itu musuh. Anggapan ini menggiring mereka untuk membunuh non-muslim agar masuk surga. Ini adalah ideologi kelompok Salafi Jihadi. Kelompok ini mau berjihad membela Islam dengan cara demikian karena mereka merasa bahwa Amerika selalu mendiskreditkan Islam. Mereka juga membenci Amerika karena melihat Amerika yang membela Israel dalam hal kemanusiaan yang tidak dijalankan di Israel. Kebencian atas kondisi ini kemudian diisi oleh pandangan-pandangan agama bahwa umat Islam (khususnya kelompok Salafi Jihadi) boleh berjihad untuk memenangkan Islam.  Tapi lagi-lagi, menurut Alwi Shihab, cara-cara yang kelompok ini gunakan sangat tidak dibenarkan oleh Islam. Artinya di dalam ajaran Islam, para pemeluknya mengetahui dan selalu membaca sebagaimana bunyi QS. Al-Maidah ayat 32:

…مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ …

Barangsiapa yang membunuh seseorang, artinya jiwa, atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, itu seakan-akan dia membunuh manusia seluruhnya.”

Apa yang diperbuat kelompok Salafi Jihadi itu berbanding terbalik dengan apa yang disyariatkan dalam Alquran. Jadi, pandangan Islam yang benar itu telah dirusak oleh fanatisme yang buta.

Menyadari semua realita ini, Alwi Shihab mengajak kita berefleksi bersama, “Apakah kita bangga dengan (kondisi saat ini) secara kualitatif? Apakah Islam sudah (baik) karena tersebar dimana-mana kita lalu bangga?” Alwi Shihab kemudian menyampaikan perihal isi pidato Raja Abdullah (dalam parlemennya dan dalam forum lainnya) pada tahun 2004. Raja Abdullah mengatakan bahwa akhir-akhir ini dunia barat mengucilkan umat Islam dan mempropagandakan Islam sebagai agama yang penuh dengan kekerasan. Dan orang Barat juga terus menyebarkan kebencian itu sehingga kita sebagai umat Islam perlu untuk berkumpul dan bersatu. Bagaimanapun, kebencian yang datang dari dunia Barat, atau tuduhan yang tidak benar yang datang dari dunia Barat terhadap Islam itu disebabkan karena ulah umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam harus berkumpul dan bersatu untuk meng-counter kondisi ini.

Apabila kita dapat membayangkan, siapa yang tidak sakit, siapa yang tidak menderita apabila ada orang Islam yang membunuh non-muslim seperti yang terjadi di Irak. Di sana, kelompok Kristen Yazadi itu dihabisi oleh ISIS, dikejar-kejar, diperkosa, dan sebagainya. Siapa yang tidak merasa bahwa hal ini sangat menjijikkan dan menjadikan kebencian kepada Islam itu semakin bertambah. Walaupun, apa yang dilakukan ISIS ini sama sekali jauh dari ajaran Islam, tetapi hal ini sudah menjadi suguhan sehari-hari di TV Amerika dan TV Barat. Keadaan ini membuat mayarakat luas tidak ada waktu untuk meneliti. Mereka hanya mendengar apa yang diumumkan, didiskusikan di TV yang akhirnya melahirkan Islamophobia, takut terhadap Islam. Jadi, pada masa sebelum tragedi Nine Eleven, orang Islam ingin membangun masjid itu dapat dilaksanakan dengan mudah. Tetapi, setelah Nine Eleven, banyak sekali keluarga atau lingkungan di mana masjid itu akan dibangun dengan persetujuan, hampir nyaris tidak ada yang bersedia untuk mengizinkan. Istilah yang melekat pada kondisi itu adalah, ‘not in my backyard,’ atau ‘ kamu boleh bangun masjid di mana saja, tapi bukan di daerah saya, atau di tetangga, atau di pekarangan saya.Pernyataan demikian memberikan gambaran bahwa mereka tidak setuju ada masjid di area tempat tinggal mereka karena akan menjadi tempat kegaduhan.

Berdasarkan kondisi-kondisi yang menjadi bagian dari Islamophobia ini, akhirnya Raja Abdullah mengajak umat Islam untuk berkumpul. Akhirnya, berkumpullah sebanyak sekitar 200  ulama yang telah diundang. Semua kelompok Islam diundang dan dimintai pendapat mereka tentang bagaimana caranya agar umat Islam bisa lebih kompak untuk menghadapi kondisi global yang berkaitan dengan umat Islam ini. Bagaimanapun, kondisi ini tidak bisa dihadapi oleh umat Islam secara sendiri-sendiri, jadi Raja Abdullah mempunyai inisiatif yang sangat mulia tersebut. Kemudian terkumpullah 200 ulama-ulama yang betul-betul handal. Topik pembicaraan para ulama ini menghasilkan Message of Amman atau Risalah Amman. Ada tiga topik yang diminta untuk dibicarakan dalam forum tersebut: pertama, siapa yang berhak dinamai seorang muslim. Jadi jangan sampai nanti definisi ini tidak disepakati. Sehingga, topik ini dianggap sangat penting. Kedua, tentang bagaimana sikap umat Islam terhadap mereka yang mengkafirkan orang lain. Dan yang ketiga, tentang bagaimana menyikapi fatwa-fatwa yang bertebaran di mana-mana dan saling bertentangan. Jadi dibahaslah topik pertama, siapa yang berhak diberi predikat Muslim atau kelompok Muslim. Yang jelas, selain dari kelompok Sunni yang 4 (Malikiyah, Hanabilah, Syafi’iyyah dan Hanafiyah), juga turut hadir kelompok Az-Zahiri Ibni Hazm, Ibadi yang ada di Oman, dan Syiah ( Syiah Ja’fari yang di Irak, dan Syi’ah Zaidi yang ada di Yaman).

Ini adalah kelompok-kelompok Islam (dari 200 ulama tadi) yang mengikuti forum diskusi secara intens dan menyepakati hasilnya. Sebagaimana yang disepakati, para ulama yang hadir harus menyebarkan dan menjadikan hasil risalah sebagai patokan dalam menghadapi Islamophobia. Risalah ini bisa menjadi tameng dalam menghadapi kekejian tuduhan terhadap Islam. Hal ini menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan, karena sebagai pemeluknya, Islam adalah agama yang penuh dengan kesantunan, yang penuh dengan toleransi, yang penuh dengan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, yang menjauhkan kepada kekerasan, kebencian, dan sebagainya. Kesepakatan para ulama ini ditandantangani pada tahun 2004. Ini adalah sebuah usaha yang sangat mulia.

Dikatakan mulia karena melihat kondisi umat Islam saat ini yang bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Seperti yang terjadi di Syiria, yang saling bunuh-membunuh adalah sesama orang Islam, dibantu oposisi, dibantu oleh negara Islam juga, termasuk Turki, termasuk negara-negara Gulf (negara-negara Teluk Arab). Apa yang terjadi sekarang di Yaman, antara Saudi dengan Yaman, juga terjadi antar sesama orang-orang Islam. Demikian pula yang terjadi di Libya, Libya ini negara kaya yang menjadi rebutan, baik oleh kelompok dari negara Barat (khususnya Itali yang pernah menjajah dan Prancis dan sebagainya), juga kelompok-kelompok Islam. Jadi kelompok-kelompok Islam ini berseteru antara mereka, antara Turki dengan Mesir, Qatar.

Ringkasnya, sebagai umat Islam kita telah melihat bersama bagaimamana negara Islam ini sudah jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. Negara-negara ini bukan memusuhi negara lain, tetapi memusuhi sesama umat Islam itu sendiri. Hal yang sama juga terjadi di Pakistan dan Taliban Afghanistan, bagaimana ada kelompok yang membiarkan orang-orang Barat memerangi Taliban disebabkan karena Taliban ini adalah garis kerasnya salafi juga; dimana tadinya ada Usamah bin Laden yang menjadi musuh dari orang-orang Barat. Niat baik tetapi cara yang tidak elok dalam bertikai atau bermusuhan, menimbulkan apa yang kita kenal sekarang ini bahwa orang-orang yang diluar Islam ini mempermainkan umat Islam, membiarkan mereka ribut. Antara Irak dengan Iran, perang sesama Muslim selama 10 tahun secara habis-habisan. Pihak yang membantu Irak untuk menyerang Iran adalah Barat. Barat pula yang membantu Saudi Arabia untuk mau menghabisi Yaman. Jadi, tidak ada alasan untuk umat Islam bersatu karena adanya campur tangan dari luar.

Semua kondisi ini mengingatkan Alwi Shihab pada sebuah hadis Nabi saw. yang telah menggambarkan keadaan umat Islam di masa mendatang (termasuk masa yang kita hadir saat ini) yang artinya, “Bila sekelompok tertentu dari umat lain hampir-hampir mau menyergap kalian umat Islam, seperti orang yang sedang siap untuk makan, menyergap makanan yang ada di hadapannya. Lalu seorang sahabat bertanya pada Rasulullah, ‘apakah kita umat Islam pada waktu itu yaa Rasulullah berada di dalam kelompok yang kecil?’ Rasulullah menjawab ‘Tidak! Justru kalian lebih besar. Kalian lebih besar, tetapi kekuatan kalian itu sama sekali tidak ada.” Kekuatan itu digambarkan oleh Rasulullah sebagai buih ‘kaidzaa assaiil,’ buihnya air yang melimpah, ada buih tapi tidak ada kekuatan di dalamnya.

Alwi Shihab menutup paparannya dengan memberi pertanyaan reflektif, “Apakah masa sekarang ini sudah sampai kepada ramalan Rasulullah saw., atau sudah terjadi sebelumnya, atau akan terjadi?”  Apapun itu jawabannya,  bagi beliau,  tanda-tandanya bahwa ada kelompok-kelompok di luar sana yang berusaha untuk memporak-porandakan umat Islam ini, sehingga apa yang kita sepakati bersama di Amman beberapa tahun yang lalu harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Ulama bersepakat untuk tidak saling mencerca, memaki, mengkafirkan, dan sebagainya. Kemudian, apakah yang sedang terjadi sekarang ini? Di Indonesia ini apakah hal ini terjadi? Ya, ini masih terjadi di Indonesia, dan di depan mata kita sendiri.

Paparan Alwi Shihab ini membuat kita merasa saling bertanggung jawab juga merasakan, bahwa hal buruk yang kita lakukan dapat berdampak besar dan fatal bagi kehidupan global. Tidak hanya orang Barat, orang Islam juga akan mengalami Islamophobia apabila kita saling mengingkari isi Risalah Amman tersebut. Sesama kita saling mengkafirkan, menyalahkan, menyesatkan, bahkan membunuh. Sebagai umat Islam, yang demikian tidak akan memberikan keuntungan, melainkan kerugian yang menyedihkan. Sudah saatnya bersatu untuk memberikan citra baik tentang Islam, juga berkontribusi pada perdamaian dunia. (IL/AKR).

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://library.lklb.org/project/vpas-62/ dengan judul “Pandangan Orang Barat yang Tertarik Terhadap Islam dan Titik Baliknya! Menjadi Takut Islam.”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...