Bahasa Arab dan Identitas Kehijrahan (Part 8)
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bahasa Arab bak primadona bagi para pelaku hijrah yang mengangap bahasa Arab lebih keren dan lebih islami. Seringkali terlontar kata-kata berbahasa Arab untuk menunjukan identitas kehijrahannya. Simak tanggapan Prof. Dr. H. Alwi Shihab terkait hal tersebut di Podcast Alwi Shihab episode ke-33 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 33
Apakah Muslim yang Berhijrah Itu Harus Menggunakan Pakaian dan Bahasa Arab?
Fenomena hijrah masa kini lekat dengan cara berpakaian, juga percakapan berbahasa Arab dalam aktivitas sehari-hari. Sehingga, yang demikian dinilai sebagai indikator dari berhijrah. Menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah saat seorang Muslim berhijrah harus mengubah cara berpakaian dan bahasa sehari-harinya? Alwi Shihab menjelaskan, bahwasanya Rasulullah saw. sampaikan sewaktu beliau hijrah bersama para sahabatnya, bahwa hijrah itu ada dua kategori: yang pertama adalah hijrah dengan niat yang benar-benar tulus mengikuti Rasulullah saw.; yang kedua adalah hijrah untuk kepentingan dunia.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Ada juga orang yang berhijrah untuk mendapatkan keuntungan dengan hijrah itu,” seperti contoh: jika orang bersangkutan hijrah ke Madinah, maka dia bisa berdagang, dia bisa menumpuk harta untuk dirinya dan keluarganya; dan mungkin juga ada di antara mereka yang berhijrah ingin menikah di Madinah, sehingga hijrahnya akan mendapat raihan/manfaat sebagaimana niatnya. Jadi, kalau ada yang berhijrah untuk mendapat keuntungan-keuntungan tertentu, maka yang demikian tidak sama sekali dilarang. Orang yang menggunakan fashion, menggunakan cara-cara yang benar untuk meraih keuntungan duniawi, maka itu tidak melanggar agama. Jika ia ingin menjadikan hijrah itu bermanfaat bagi dirinya, apa saja yang dia raih dari upayanya menciptakan fashion (dan lainnya), ia juga memberi santunan orang fakir miskin, membantu yang membutuhlan, juga memakmurkan lingkungannnya, maka itu tidak dilarang. Umat Muslim tidak boleh menganggap bahwa hijrah itu semata-mata substansinya hanya untuk memperdalam ritual/amalan saja; karena hijrah dapat juga diartikan sebagai hijrah duniawi selama niatnya untuk kepentingan akhirat (membantu, menyantuni dan bermanfaat bagi sesama).
Lantas, bagaimana dengan mengganti bahasa sehari-hari dengan bahasa Arab? Alwi Shihab menyampaikan, memperdalam bahasa Arab merupakan upaya umat Muslim untuk lebih mengerti Alquran dan Hadis, serta ilmu pengetahuan. Namun, apabila bahasa tersebut digunakan sebagai simbol untuk sesuatu yang sifatnya spiritual, maka hal tersebut tidak teralu tepat. Bahasa apapun dalam berhijrah itu bisa saja digunakan oleh siapa pun, apakah itu bahasa Arab, Indonesia, Inggris, dan lainnya; yang penting dalam berhijrah itu adalah niatnya, apa niat umat Muslim saat berhijrah itu?
Umat Muslim seyogyanya tidak terpaku pada hal-hal yang tidak substansial. Misalkan, dalam berhijrah harus menggunakan bahasa-bahasa tertentu, seperti akhi untuk mengganti kata saudara (dan seterusnya). Perlu bersama direnungkan, apa yang hendak kita raih dalam perubahan kata tersebut? Jangan pula kita menganggap bahwa dengan menggunakan bahasa Arab dalam keseharian lantas membuat kita merasa lebih dekat kepada Allah Swt.
Umat Muslim yang menggunakan bahasa Arab untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, maka tentu saja sangat dianjurkan. Namun sekali lagi perlu diingat, semuanya ini adalah dari apa-apa yang kita lihat saja; yang terpenting adalah apa yang berada dalam hati masing-masing. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat apa yang tampak dari apa yang engkau tampakkan, tetpai hal yang paling penting adalah apa yang ada di dalam hati dan amalmu,”(HR. Muslim). Allah Swt. juga berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
“Kalau kalian menyembelih untuk kurban, maka sama sekali darah dan daging itu tidak akan sampai pada Allah, namun yang sampai membuat Allah berkenan/rida atasnya dan kebajikan dari yang melakukan kurban tersebut adalah yang dilihat dari hatinya,” (QS. Al-Hajj: 37). Jadi, yang dilihat adalah hati masing-masing hamba, hati yang bersih, yang tulus untuk kepentingan anjuran agama dan rida Allah Swt.
Berdasarkan ini semua, umat Muslim tidak patut terpaku pada hal-hal yang sifatnya lahiriyah, atau yang nyata saja. Bahasa juga bagian dari yang nyata, bukan itu! Karena yang terpenting adalah apa yang ada di hati kita semua. Lebih mulia mereka, orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Arab tetapi ia tulus mendekatkan diri kepada Allah Swt., daripada orang yang ke sana ke sini menggunakan bahasa Arab namun ketulusannya masih tidak bisa dipertanggung jawabkan. Apa yang tampak secara lahiriyah adalah embel-embel saja dan tidak substansial. Hijrah yang substansial adalah hijrah yang dimulai dengan niat yang tulus, agar jangan sampai kita melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Sebagaimana bunyi ayat:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ
“Celaka orang yang salat, dia lupa akan fungsi salat itu dan juga melakukan sesuatu bukan karena Allah, melainkan riya/pujian dari orang lain, dan juga tidak memberi bantuan kepada orang-orang yang butuh,” (QS. Al-Ma’un: 4-7). Bayangakan, orang yang salat dinamai/diberi predikat celaka apabila terdapat indikator-indikator tersebut.
Simpulannya, apa yang menjadi titik berat dari suatu kelakukan/perilaku adalah bagaimana niatnya (innamaa a’ma bi al-niyah), semua yang dilakukan oleh tiap individu, yang menentukan adalah niatnya. Apabila niatnya tulus, maka ia tidak perlu/harus berbahasa Arab dalam keseharian, dan juga karena mungkin yang bersangkutan tidak bisa berbahasa Arab. Dan jangan juga dianggap bahwa penggunaan bahasa Arab sebagai tanda bahwa orang tersebut telah diterima oleh Allah Swt., mendapat rida-Nya, dibanding mereka yang tidak berbahasa Arab (namun punya niat yang tulus dalam meneladani Nabi saw. untuk menjadikan hijrahnya sempurna, untuk Allah Swt. dan dalam rangka mendekat pada-Nya, dan dilakukan untuk mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi tanpa meninggalkan tanggung jawabnya di dunia). (IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=2ufK9lT8KpM&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=81.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments