Kalau Hijrah, Hindari Fanatisme (Part 7)

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Bagaimana kalau seseorang menjadi fanatik setelah menyatakan dirinya berhijrah? Simak pandangan Prof. Dr. H. Alwi Shihab dalam episode tanya jawab berikut ini di Podcast Alwi Shihab episode 32.

Refleksi Podcast Episode 32
C

Fanatisme Berhijrah, Apakah Baik?

Sebelum menilai apakah fanatisme dalam berhijrah itu baik atau tidak, tentunya kita memerlukan definisi dari fanatisme itu sendiri. Fanatisme adalah sikap dogmatis, sikap yang tidak saja teguh, tetapi sikap yang melebihi porsi yang sebenarnya. Sikap ini membuat para pelakunya tidak ingin terbuka terhadap pandangan lain. Dengan kata lain, orang yang fanatik terhadap suatu pandangan atau suatu ajaran, akan membuatnya menjadi tidak terbuka dan membuka diri untuk mendapat masukan serta manfaat yang berbeda.

Setelah mengetahui definisinya, maka dapat difahami bahwasanya fanatisme adalah sesuatu yang berbahaya. Alquran menganjurkan umat manusia untuk tidak berlebihan, khususnya dalam mempraktikkan ajaran agama. Umat Islam harus senantiasa ingat bahwa mereka dituntut tidak melebihi kemampuan yang mereka miliki.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

 “Allah tidak akan membebani manusia lebih daripada kemampuannya,” (QS. Al-Baqarah: 286).

Oleh karena itu, fanatik tidak diperbolehkan, namun umat Islam tentu boleh memiliki sikap yang teguh. Umat Islam harus teguh dan yakin bahwa agamanyalah yang paling baik. Namun, jangan lantas menuding yang lain salah dan sesat. Umat Islam harus selalu menganggap bahwa yang menentukan sesat atau tidaknya seseorang atau suatu kelompok itu adalah Allah Swt. Sehingga saat diharapkan kepada umat Islam untuk tidak menjadi orang yang fanatik, atau menjadi umat yang wasath, umat yang berada di tengah, umat yang benar, untuk dapat menjadi saksi terhadap perbuatan  orang-orang yang ada di sekelilingnya. Menjadi saksi itu berarti berada di tengah, tidak berpihak ke kanan dan kiri. Tidak fanatik memiliki pengertian bahwa kita tidak berpaling ke kanan saja, atau ke kiri saja, melainkan kita menerima pandangan-pandangan orang lain. Ini adalah anjuran dari Alquran, agar hamba-Nya tidak berlebihan dalam segala hal, khususnya dalam beribadah, termasuk berhijrah.

Pada lingkungan relasi yang terdapat fanatisme di dalamnya, kita semua memerlukan pencerahan dan tukar pikiran. Dengan bertukar pikiran kita dapat menyampaikan bahwasanya fanatisme pada ujungnya akan merugikan diri kita sendiri. Ini disebabkan karena fanatisme membuat pelakunya enggan menjalin hubungan baik dengan pihak yang berbeda. Pun fanatisme terhadap ulama/pemuka agama, yang acap membuat orang yang fanatik terhadap mereka lantas menganggap hanya pandangan ulamanya itulah yang paling benar. Umat Islam harus membuka wawasan dan mendengar pandangan dari pihak lain. Dengan membuka diri pada pandangan yang berbeda, umat Islam akan meraih ilmu pengetahuan tambahan, juga tidak kaku/rigid dalam pergaulan. (IL/AKR)[1]

[1] Tulisan berdasarkan catatan digital Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=IBA4uLtMQo4&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=82.

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...