Bekal dan Persiapan Berhijrah dalam Rangka Menciptakan Kehidupan Sejahtera dan Adil

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Bagaimana upaya atau langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk berhijrah agar dapat menciptakan kehidupan yang sejahtera dan adil?

Simak jawabannya di #PodcastAlwiShihab episode ke-95 ini!

Refleksi Podcast Episode 95
C

Dua Faktor Penting dalam Hijrah untuk Menuju Kehidupan yang Sejahtera

Semangat hijrah adalah semangat baik yang harus senantiasa dipupuk setiap umat beragama untuk memperoleh kehidupan duniawi dan ukhrawi yang sejahtera. Oleh karena itu, untuk melakukan hijrah diperlukan persiapan yang baik dan matang. Semua insan memerlukan strategi agar hijrah yang dimaksudkan dapat berhasil sesuai yang diharapkan, bukan berakhir sia-sia di tengah jalan dengan segala rasa putus asa. Alwi Shihab memberikan penjelasan perihal bagaimana cara agar hijrah yang kita lakukan dapat membawa pada kehidupan yang adil dan sejahtera. Terdapat dua faktor yang sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan hijrah, apapun bentuk hijrahnya (spiritual atau juga material). Dua faktor penting ini adalah niat yang kuat dan rencana yang matang.

Guna memberikan pandangan atas dua faktor penting ini, Alwi Shihab mengisahkan otobiografinya dalam berhijrah. Ia mengakui, ia telah berhijrah (fisik dan intelektual) sejak berusia 9 tahun bersama kakak laki-lakinya, Quraish Shihab. Hijrah yang mereka lakukan didasari atas kemauan orang tua yang diiyakan oleh anak-anaknya. Mereka bersedia untuk masuk ke pesantren untuk kemudian melanjutkan pergi hijrah ke Kairo Mesir untuk menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar. Alwi Shihab menegaskan, dalam berhijrah, hal yang paling pertama dan harus dimiliki adalah niat yang jelas dan kuat. Ia mengakui, saat berhijrah ke Kairo dengan sang kakak, sangat jelas apa yang telah diniatkan oleh mereka, dan niat tersebut sejalan dengan garis yang ditetapkan orang tua mereka, “Jangan kembali sebelum mencapai doktor!” Demikian motivasi hijrah menuju kehidupan sejahtera yang ditanamkan orang tua dua tokoh nasional Indonesia ini.

Niat yang jelas dan kuat harus memiliki rencana yang baik, agar apa yang diniatkan dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, Alwi Shihab menganjurkan, agar setiap individu yang berhijrah harus senantiasa menjalani semua perencanaan yang telah ditetapkan dalam diri (memiliki mind mapping dan outline hijrah). Atas dasar inilah, Alwi Shihab remaja berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai gelar doktor sesuai harapan orang tuanya. Saat sudah menjalani kehidupan pendidikan di Mesir, Alwi Shihab memiliki cita-cita untuk dapat melanjutkan belajar di Amerika. Baginya, cita-citanya ini tidak sama dengan cita-cita teman-temannya dan juga kakaknya, karena semua orang selalu memiliki rencana hidup yang berbeda-beda. Cita-cita yang dibangunnya ini membuat Alwi Shihab muda menjadi giat mencari tahu apa yang harus ia persiapkan dan lakukan untuk menggapai tujuannya. Alwi muda memiliki sejumlah persiapan, termasuk persiapan untuk menguasai Bahasa Inggris. Ia mengambil les-les Bahasa Inggris sebagai persiapan utama untuk keberangkatannya ke Amerika. Tidak hanya perihal kemampuan bahasa, Alwi juga mempersiapkan dana yang dibutuhkan. Guna mempersiapkan dana tersebut, Alwi mengisi masa libur semester kuliahnya dengan menjadi kuli. Ia berpikir, daripada ia menganggur di Mesir selama liburan, maka baginya lebih baik ia manfaatkan waktu tersebut untuk mendapatkan dana (dan menabung). Ia tidak menjadi kuli di kota tempatnya mencari ilmu, melainkan ia sengaja berangkat ke Jerman untuk menjadi pekerja kasar di sana. Sebagai seseorang anak ulama dari Indonesia, tentu ini adalah perjuangan yang tidak biasa. Namun, semuanya tetap ia jalani, “Ini semuanya (saya lakukan) dalam rangka tujuan akhir, yaitu saya ingin studi di Amerika,” tegasnya.

Alwi hanya memerlukan waktu bekerja selama 3 bulan saja untuk memenuhi target pengumpulan dana yang dibutuhkan. Uang simpanan telah terkumpul, bahkan ia bisa kembali ke Mesir dengan membawa mobil; yang kemudian setibanya di Mesir, mobil tersebut dijual olehnya. Atas segala usahanya tersebut, Alwi muda merasa sudah sangat cukup untuk mempersiapkan bekalnya untuk berangkat studi ke Amerika. Mengutip riwayatnya di masa lampau, Alwi Shihab ingin menegaskan, bahwasanya kalau seseorang ingin berbuat sesuatu, ingin hijrah, maka orang tersebut harus melihat apa saja yang menjadi kendalanya, dan bagaimana mereka mampu mengatasi kendala-kendala tersebut dengan baik. Niat tidak hanya sekedar niat, Alwi Shihab menekankan agar niat tersebut haruslah niat yang tulus dan senantiasa tetap berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Niat yang demikian sangat diperlukan agar selama perjalanan hijrah, Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan jalan-Nya, agar hijrah yang dilakukan seseorang merupakan hijrah yang sungguh-sungguh diridai Allah Swt. sebagaimana yang kita semua harapkan. Jika telah demikian, jalan hijrah yang kita pilihpun tidak akan bertentangan dengan apa yang disyariatkan oleh-Nya. Seperti contoh, saat kita berencana untuk hijrah ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang baik, maka sesampainya di Jakarta, kita diberikan tawaran-tawaran dalam mencari uang. Ada uang yang didapatkan dengan cara yang halal, dan ada juga dengan cara yang tidak halal; juga kondisi-kondisi lainnya. Bagi Alwi Shihab, kesalahan dalam memilih langkah hijrah akan merusak rencana hijrah yang sudah direncanakan di awal. Oleh karena itu, Alwi Shihab menekankan agar berhijrah harus berdasarkan nilai-nilai agama.

Secara keseluruhan, setiap orang yang hijrah harus memiliki keyakinan yang teguh, rencana yang jelas, dan senantiasa terhubung dengan Yang Maha Kuasa; tidak hanya dengan berdoa, tetapi juga dengan berusaha secara lahir. Saat memutuskan untuk hijrah di kota berbeda, kita harus punya rencana, tidak serta merta asal keluar dari kota sebelumnya dan kemudian terpuruk di kota yang baru. Ingin hijrah ke Jakarta, ke Surabaya, ke Mesir, atau juga tempat lainnya, Alwi meminta agar kita semua melihat terlebih dahulu apa yang harus kita lakukan, apa tujuan kita, dan bagaimana cara mencapai tujuan itu. Semisal berdagang, seseorang harus mampu melihat apa jenis barang dagangan yang dapat menjadi peluang kita untuk berhasil. Saat telah melihat semua keadaan berikut tantangannya, barulah kita putuskan untuk mantap berhijrah. Apapun bentuk hijrahnya. Menurut Alwi Shihab, dari segi teori di antara semua hal dalam hijrah, yang paling penting dan utama adalah niatnya. Demikianlah persiapan agar hijrah yang kita tujukan dapat berhasil sebagaimana yang kita harapkan.(IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=LLm-83Py9i8&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=17 .  

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...