Penjelasan Al Baqarah, Al Imran, Al-Fath dalam Konteks Pluralisme
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Simak penjelasan Dr. Alwi Shihab tentang makna dan kandungan Al Baqarah, Al Imran, Al-Fatihah dalam konteks hubungan dengan yang berbeda agama, di #PodcastAlwiShihab episode ke-111 ini!
Refleksi Podcast Episode 111
Kisah-kisah Nabi saw. dalam Kehidupan Masyarakat Majemuk: Keteladanan Dakwah Pluralis dan Humanis
Nabi Muhammad saw. adalah rujukan keteladan bagi umat Islam dan umat lainnya. Tidak saja di masa lampau, melainkan di masa sekarang, juga masa yang akan datang. Segala bentuk riwayat kehidupannya menjadi patokan kebaikan kehidupan yang tidak pernah sirna. Menegaskan kenyataan ini, Allah Swt. berfirman dalam Alquran Surah Al-Ahzaab (21) yang artinya, “Sungguh dalam diri Muhammad terdapat keteladanan-keteladanan yang baik bagi kalian.” Di antara keteladanan-keteladanan tersebut, terdapat sebuah keteledanan yang harus diketahui, difahami dan dipraktikkan oleh umatnya; keteladanan yang membawa para umatnya untuk memiliki perangai layaknya yang diajarkan oleh Nabinya yang diikutinya, yakni tentang keteladanan dalam berdakwah.
Teknis dakwah tidak saja sekedar menyampaikan ilmu-ilmu keagamaan, terdapat adab-adab yang harus diperhatikan para pendakwah agar (secara teks dan konteks) dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan perpecahan. Terlebih dakwah-dakwah yang menyangkut keimanan, pendakwah seyogyanya memiliki kompetensi diri dan sosial untuk menyampaikan ajaran agama dengan baik kepada para jamaah yang tinggal dalam masyarakat yang heterogen. Untuk itu, Alwi Shihab menjelaskan tentang keteladanan dakwah yang dapat diikuti dari Nabi Muhammad saw. saat berada dalam kondisi masyarakat yang majemuk adalah dengan ‘menghargai pihak lain yang berbeda.’ Tesis ini bukanlah tidak mendasar, Alwi memaparkan serangkaian perilaku hidup Nabi saw. yang mempertegas tesis tersebut, di antaranya: pada saat Nabi saw. membangun komunitasnya di Madinah, ia tidak menjadikan komunitasnya bersifat eksklusif. Ia mengajak semua kelompok agama yang ada untuk bersatu dan membangun kota bersama, juga menyepakati kesepakatan bersama untuk saling menjaga keutuhan dan persatuan kota bersama. Nabi saw. tidak anti kepada umat yang berbeda keyakinan dengannya, ia tidak memaksakan ajarannya, ia tidak menyalahkan ajaran lainnya, justru ia mengajak mereka semua berada dalam kesatuan komunal yang terikat dalam sebuah kota.
Peristiwa lainnya ialah ketika Nabi saw. memerintahkan para sahabat untuk hijrah guna mendapat suaka pada Raja Najasy yang beragama Nasrani di Ethopia. Sikap ini menunjukkan kecintaan Nabi saw. kepada mereka yang berbeda keyakinan dengan menjadikan akhlak atau budi pekerti baik sebagai indikatornya. Rasa cinta, kagum dan terima kasih pada sahabat lintas imannya ini tidak berhenti saat sang Raja Najasy memenuhi permintaan Nabi saw. saja, bahkan saat sang Raja harus pergi untuk selamanya, Nabi saw. mengajak para sahabat untuk mengenang amal baik dari Raja Najasy tersebut. Dengan kata lain, Nabi saw. tidak anti untuk mengambil dan memanjangkan amal baik, sekalipun itu dari mereka yang berbeda keyakinan dengannya.
Tidak hanya itu, Nabi saw. juga sangat menghargai bagaimana umat lain beribadah. Seperti saat delegasi umat Nasrani Najran datang menemui Nabi saw., Nabi saw. menerima mereka dengan baik. Nabi saw. juga mempersilahkan mereka untuk dapat melakukan kebaktian di masjid yang biasa ia dan para sahabatnya gunakan. Kisah ini menunjukkan pada kita semua, Nabi saw. adalah sosok yang sangat menghargai apa yang diyakini oleh orang lain, dan memberikan ruang bagi mereka yang berbeda untuk dapat beribadah sesuai keyakinannya. Ia tidak melarang, mengusir, apalagi menghakimi praktik ibadah yang dilakukan oleh liyan. Alwi menyimpulkan, kisah-kisah keteladanan tersebut merupakan bukti bahwa Nabi saw. begitu toleran. Nabi saw. tidak pernah menganggap relasinya dengan non Muslim dapat mengganggu agamanya atau agama yang ia bawa.
Perihal pendirian rumah ibadah, nampaknya semua umat beragama patut belajar dari kisah Nabi saw. Dimanapun itu, sebuah agama dapat menjadi agama mayoritas di suatu tempat, dan menjadi minoritas di tempat yang lain. Guna melahirkan kehidupan bersama yang harmonis, khususnya dalam hal rumah ibadah, Nabi saw. lagi-lagi mengajarkan untuk senantiasa menghargai, mendukung, juga membantu umat agama lain dalam membangun rumah ibadahanya. Hal ini sebagaimana kisah perjanjian antara Nabi saw. dengan umat Nasrani Najran. Perjanjian ini sangat impresif dan patut kita semua jadikan rujukan. Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa umat Islam harus menghormati orang Kristen; apabila orang Kristen hendak mendirikan Gereja, maka umat Islam harus dapat membantu dan tidak dianggap hutang atas bantuannya; suami Muslim tidak boleh melarang istri Krsitennya untuk beribadah ke gereja, dan lainnya.
Nabi saw. sangat tegas dalam menjaga persatuan dan hak sesama manusia perihal keimanan. Alwi mengutip sabda Nabi saw. yang artinya, “Barang siapa yang memusuhi orang Kristen yang patuh pada perjanjian, maka ia akan menjadi musuhku kelak di hari kemudian.” Esensi dari hadis ini adalah Nabi saw. telah memberikan contoh yang baik untuk kita agar kita dapat berhubungan baik dengan kelompok yang berbeda, apapun jenisnya perbedaannya. Hadis ini dapat dikontekstualisasikan dalam bingkai masyarakat Indonesia dengan bentuk: masyarakat umat Islam seyogyanya mampu menerima kehadiran umat agama yang berbeda; masyarakat umat Islam seyogyanya mampu untuk tidak mengganggu aktivitas umat agama yang berbeda. Demikianlah bagian dari dakwah pluralis dan humanis yang diajarkan Nabi saw. Maka jika kita menemukan realita yang berbeda saat ini, siapapun pelakunya, sejatinya hal tersebut tidak mencerminkan ajaran yang dianjurkan oleh Nabi saw. Bahkan yang bersangkutan dalam bayang-bayang mendapat sanksi berupa menjadi musuh Nabi saw. kelak di hari akhir.
Adapun realita sejarah yang menggambarkan bagaimana perseteruan yang terjadi antara umat Islam dan Yahudi di era Nabi saw. adalah hal yang tidak boleh kita telan mentah-mentah. Peristiwa tersebut tidak dapat digunakan untuk mengeneralisir bahwasanya Islam adalah agama yang menyukai perpecahan dan peperangan; karena semua hal tersebut dapat dibantahkan dengan keteladanan-keteladanan yang telah diuraikan sebelumnya. Hal lainnya yang perlu diketahui bersama, perseteruan tersebut adalah dampak dari adanya pihak yang mengingkari perjanjian yang telah disepakati bersama, dalam bentuk: umat Yahudi mengingkari perjanjian dengan kelompok Nabi saw.; umat Yahudi merasa kehadiran umat Islam mengganggu dan mendominasi ekonomi di Madinah; umat Yahudi bersengkongkol dengan musuh Nabi saw. dari Makkah; timbul relasi tidak menyenangkan antara kelompok Nabi saw. dan umat Yahudi Madinah. Maka tampak dengan jelas, konflik antara kelompok Nabi saw. dan umat Yahudi Madinah bukan disebabkan oleh faktor perbedaan agama, melainkan faktor ekonomi dan sosial. Fakta ini dikuatkan dengan peristiwa dimana Nabi saw. berdiri untuk menghormati iring-iringan jenazah umat Yahudi yang melewatinya untuk dikuburkan dalam masa konflik yang sedang berlangsung. Sikap Nabi saw. tersebut tentu menimbulkan tanda tanya di kalangan para sahabat. Lantas Nabi saw. berkata, “Bukankah dia itu seorang manusia yang telah dimuliakan oleh Allah. Masa aku tidak mau memuliakan manusia (tanpa melihat apakah dia beragama Islam, Yahudi, atau juga Kristen.” Dengan demikian, esensi dari kisah dan hadis tersebut adalah: agar umat manusia tidak menampakkan permusuhan kepada kelompok agama yang berbeda; agar sesama manusia tidak menunjukkan keangkuhan kepada kelompok agama berbeda untuk mendapatkan validasi kebenaran. Di balik semua perbedaan yang ada, kita tidak boleh lupa tentang jati diri kita, yakni sesama manusia yang sama-sama dimuliakan oleh Tuhan Yang Kuasa.
Dasar nilai tentang kesataraan manusia dalam menjaga hak hidup sesama ini sejalan dengan Alquran Surah Al-Mumtahanah (8) yang artinya, “Mereka yang tidak memerangi kita dan tidak mengusir kita dari negeri kita, kita harus berlaku adil kepada mereka.” Alwi Shihab menafsrikan ayat tersebut dengan menegaskan bahwa kita tidak boleh men-general-isir semua umat agama yang berbeda adalah musuh kita. Sebagaimana kita, mereka yang berbeda itu tidak semuanya sama. Ada di antara mereka yang betul-betul berbakti kepada Yang Maha Kuasa, yang mengikuti ajaran nabi-nabi, dan mereka itulah yang akan selamat kelak di hari kemudian. Atas dasar ini, Alwi Shihab menegaskan, “Jangan kita mengambil hak prerogatif Tuhan dan mencerca mereka yang berbeda dengan kita! Dan orang Islam jangan memonopoli surga!”
Menjadi penguat pernyataannya tersebut, Alwi Shihab mengutip Alquran Surah Al-Baqarah (62) yang artinya, “Di antara orang-orang Yahudi, orang Sabi’in dan orang Kristen yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, mempercayai hari kemudian, dan beramal saleh (berbuat baik) di dunia ini, maka tidak ada keraguan bagi mereka. Mereka akan selamat di hari kemudian.” Tentu terdapat perbedaan penafsiran di kalangan para ulama atas pemaknaan ayat ini yang terbagi menjadi dua pandangan: ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut sudah tidak berlaku di era sekarang, dan ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut masih berlaku hingga sekarang. Adapun argumen para ulama yang mengatakan bahwa redaksi ayat tersebut masih berlaku hingga sekarang disebabkan atas realita yang ada, yakni masih banyaknya di antara kelompok-kelompok non Muslim yang percaya kepada Tuhan Yang Satu, percaya kepada hari kemudian, dan berbuat baik di dunia ini. Sehingga janji Allah Swt. dalam ayat tersebut tetap akan terpenuhi kepada mereka.
Paparan yang bersumber dari Alquran, hadis dan sirah kehidupan Nabi saw. ini membawa kita semua pada nilai-nilai yang tersimpulkan dalam empat hal: pertama, jadikan cara, metode, dan akhlak Nabi saw. kepada non Muslim di masa lampau menjadi bagian dari cara kita berinteraksi dengan non Muslim di masa sekarang dan mendatang. Kedua, sebagai umat mayoritas di Indonesia, umat Islam harus mampu menjadi contoh toleransi dan kerukunan. Ketiga, jangan mengikuti kelompok alur garis keras yang memonopoli surga dan kebenaran. Keempat, memberikan ruang dan peluang bagi yang berbeda keyakinan untuk mengetahui dan mengenal ajaran Islam yang toleran, sejuk, dan tidak membenci serta tidak memerangi pemeluk agama lain. Nabi saw. telah mencontohkan bagaimana menjadi sosok pluralis yang humanis tanpa mengusik liyan dan mempertaruhkan keimanan, itulah yang diteladankan Nabi saw. Apabila kita tidak demikian, lantas siapa sesungguhnya yang sedang kita ikuti?(IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://youtu.be/CO8uJ_piCew?si=QEaG_1Sj25yqevkd.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments