Tantangan Hijrah: Belajar dari Penderitaan Nabi Muhammad SAW (Part 3)
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Hijrah Nabi Muhammad SAW dilakukan pada tahun 622 M dari Makkah menuju Madinah dan terdapat kisah menakjubkan. Rasulullah mendapatkan tantangan besar, namun beliau tidak tergoyahkan. Simak episode ke-3 dari topik Hijrah, di Podcast Alwi Shihab episode 28 ini bersama Prof. Dr. Alwi Shihab.
Refleksi Podcast Episode 28
Allah Swt. Melihat Semua Kesulitan Hambanya yang Beriman: Hikmah Kisah Hijrah Nabi Muhammad saw.
Hijrah merujuk pada peristiwa berperginnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Hari Hijrah adalah hari dimana kalender Islam, Hijriyah, dimulai dengan tepat pada hari beliau berangkat dari Makkah ke Madinah. Hijrah sebagaimana di awal dari kalender Islam, terjadi pada bulan Muharram. Pada bulan Muharram, terjadi banyak peristiwa penting di dalam sejarah Islam. Bulan Muharram termasuk dari asyhur al-hurum, 1 dari 4 bulan-bulan suci. Pada 4 bulan suci tersebut, umat Islam diperintahkan untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menciderai suasana.
Khsusunya bulan Dzulqadah yang bermakna sebagai bulan santai/bulan duduk dalam menyongsong bulan haji, dimana bulan haji dikenal sebagai bulan yang tidak diperkenankan ada permusuhan di sana. Hal ini disebabkan karena telah menjadi bagian kehidupan orang-orang di Makkah dan sekitar jazirah Arabia yakni bentrok antar satu dan lainnya. Ini terjadi di Makkah juga Madinah. Di Madinah dikenal bentrokan antara suku Aus dan Khazraj, atau juga kelompok Yahudi. Selalu ada pertikaian di antara kelompok-kelompok masyarakat di jazirah Arab. Oleh karena itu, pada bulan Muharram inilah disepakati dan diperintahkan kepada umat Islam untuk menjauhi hal-hal yang menyebabkan pertikaian itu.
Pada bulan Muharram terjadi peristiwa penting, yakni tragedi Karbala. Tragedi ini membuat cucu kesayangan Nabi Muhammad saw. terbunuh, yakni Sayyidina Husein bin Ali. Sayyidina Husein adalah simbol perlawanan terhadap kezaliman. Beliau dibantai bersama keluarganya di Karbala, Irak. Umat Islam bersimpati kepada Sayyidina Husein sebagai tokoh yang memperjuangkan keadilan dan berusaha untuk memerangi kezaliman, walaupun harus mengorbankan nyawanya.
Di Indonesia, masyhur disebut hari Asyura, 10 Muharram. Banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia untuk memperingati hari Asyura ini. Bagi masyarakat Jawa, ada peringatan Sura dengan makanan-makanan khusus di dalamnya. Pada masa kini, sebagian umat Islam ada yang memperingati hari Asyura ini dengan cara yang berlebihan, namun ada juga sebagian umat Islam lainnya yang tidak menunjukkan hal-hal yang sepatutnya dilakukan umat Islam sebagai contoh dari perjuangan Sayyidina Husein bin Ali. Kedua cara ini tentu tidak kita inginkan. Yang kita umat Islam inginkan adalah agar kita memperingatinya dengan cara yang baik. Tidak pula melupakan suatu peristiwa yang sangat penting di dalam simbol perjuangan terhadap kezaliman.
Kembali pada pembahasan hijrah Nabi Muhammad saw. 3 tahun pertama dari hijrah Nabi saw. dilakukan dengan mempersiapkan persiapan-persiapan di Makkah. Masa ini adalah masa yang berat untuk memulai menjelaskan kepada masyarakat di Makkah. Pada masa ini turunlah perintah dari Allah Swt.;
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ ٱلْأَقْرَبِينَ
“Peringatkanlah keluargamu yang dekat!”(QS. Al-Syu’ara: 214). Kemudian dilanjutkan dengan 9 tahun fase kedua hijrah.
Banyak sekali penganiayaan terhadap mereka yang mulai cenderung untuk mengikuti Nabi saw. Setelah 3 tahun sebagai fase awal berlalu, baru ada perintah untuk menjelaskan kepada masyarakat di Makkah dengan bermacam suku-sukunya secara terang-terangan, tidak lagi dikhususkan kepada keluarga terdekat saja. Cara dakwah terang-terangan ini mengakibatkan Nabi saw. dan juga para pengikutnya mengalami penganiayaan, khususnya mereka yang tidak memiliki status sosial yang tinggi. Mereka disebut sebagai mustadhafin, atau orang-orang yang lemah; tidak memiliki nama keluarga, nama suku, sehingga merekalah yang menajdi target penyiksaan orang-orang yang tidak menyukai ajaran Nabi saw.
Ada beberapa ayat yang menggambarkan betapa Nabi saw. merasa sangat tertekan dan kemudian Allah memberikan berita-berita gembira dan menenangkan Nabi saw. dengan mengatakan bahwa apa yang di alami Nabi saw. itu pada dasarnya telah dialami oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum Nabi saw.:
مَّا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبْلِكَ ۚ
“Apa yang mereka cemoohkan kepada kamu, apa makian yang dilontarkan kepada kamu, sebanrnya juga telah dilontarkan kepada para rasul sebelum kamu,” (QS. Fussilat: 43). Allah memberi jaminan kepada Nabi Muhammad saw.:
اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَۙ
“Jangan khawatir, Kami akan menjaga kamu dari cemoohan (orang-orang Makkah pada waktu itu),” (QS. Al-Hijr: 95).
Allah juga mengetahui betapa perihnya keadaan yang dialami oleh Nabi saw., bagaimana susahnya hatinya karena ia dan pengikutnya dianiaya, sehingga Allah Swt. berfirman:
وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ
“Kami tahu persis bahwa hatimu, dadamu sangat sempit (maksudnya susah, galau) terhadap apa yang mereka katakan kepada kamu),” (QS. Al-Hijr: 97). Karena orang-orang tersebut berkata pada Nabi saw., “Kamu ini kalau bukan ahli sihir maka kamu ini orang gila. Kamu ini Muhammad, bukan sesuai dengan namamu yang terpuji, namun kamu itu tercela/madzmum.”
Allah Swt. tetap mengingatkan kepada Nabi saw. agar bersabar terhadap apa yang orang-orang itu lakukan padanya:
وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
“Sabarlah terhadap omongan, cacian mereka, kamu berusaha untuk meninggalkan mereka, jangan berargumentasi dengan mereka, karena mereka bukanlah orang-orang yang patut untun diajak bicara. Tinggalkan mereka, namun dengan cara yang baik,” (QS. Al-Muzammil: 10).(IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=r_mTh7xOx5o&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=86.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments