Meninggalkan Pekerjaan Demi Hijrah? (Part 6)

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Bagaimana HIjrah abad 21? Apakah Hijrah berarti harus meninggalkan segala keduniawian? Seperti apa Hijrah yang benar menurut Islam khususnya untuk anak muda? Simak penjelasan Prof. Dr. H. Alwi Shihab dalam episode tanya jawab berikut ini di Podcast Alwi Shihab episode 31.

Refleksi Podcast Episode 31
C

Bolehkah Meninggalkan Pekerjaan Demi Hijrah?

 Fenomena hijrah mulai digaungkan kembali pada abad ke-21, termasuk di Indonesia dan menjadi tren di kalangan muda. Tentu menjadi tanda tanya bersama, sesungguhnya, bagaimanakah hijrah yang dapat dilakukan di masa kini? Alwi Shihab menuturkan, hijrah secara terminologi adalah berpindah/bermigrasi. Sedangkan dalam pemaknaan spiritual, hijrah adalah berpindah dari keadaan yang kurang baik menjadi keadaan yang baik, atau berpindah dari satu keadaan yang baik kepada keadaan yang lebih baik. Untuk konteks sekarang ini, kita dapat mengacu pada pemaknaan hijrah secara spiritual dengan laki-laki dan perempuan sebagai subjek yang berkehendak untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal ini berdasarkan apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw.:

لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الفَتْح

 “Tidak ada hijrah setelah (Nabi saw.) menguasai Makkah kembali (Fathul Makkah),” (HR. Bukhari & Muslim).

Alwi Shihab melanjutkan, memang ada sahabat Nabi saw. yang tidak ikut hijrah pada masa itu. Setalah Islam kembali menguasai Makkah dan menunjukkan bahwa Nabi saw. telah berhasil berdakwah di Madinah, ada sahabat yang ingin hijrah. Jadi ia meminta izin pada Nabi saw, “ Ya Rasulullah, saya ingin hijrah, karena banyak sekali janji-janji yang baik untuk mereka yang berhijrah.” Karena inilah lalu kemudian Nabi saw. menyampaikan hadis tersebut. Jihad sejak peristiwa itu tidak lagi berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan hijrah dengan berusaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri dan memiliki niat yang tulus untuk menjadi orang yang lebih baik.

Pada abad ke-21 ini, diharapkan bagi umat Islam, dalam memahami hijrah tidak hanya selalu tentang mengejar hal-hal yang sifatnya spiritual (menambah amal/ritual/ibadah) saja, yang terkadang membuat orang tersebut meninggalkan tanggung jawab duniawinya. Hijrah tidaklah demikian. Dalam suatu riwayat, Nabi saw, masuk ke dalam masjid dan ditemani dua kelompok muslimin. Satu kelompok yang di serambi masjid dikenal sebagai Ahlu al-Sufah (mereka adalah muslimin yang sangat rajin salat, mengaji, dan secara praktis tidak melaksanakan tanggung jawab duniawinya; kelompok yang memiliki anggapan bahwa menjadi muslim yang baik adalah dengan memperbanyak ibadah). Sedangkan satu kelompok lainnya adalah kelompok yang menyukai konsultasi dan ilmu yang didapat dari mendengar Rasulullah saw.

Mengamati kedua kelompok berbeda ini, Rasulullah saw. berkomentar bahwa kedua kelompok tersebut baik. Namun, Rasulullah saw. lebih menyukai kelompok konsultasi dan ilmu. Dengan demkian, apabila kita dapat berasumsi, maka sebenarnya hijrah yang sesuai dengan abad ke-21 ini lebih diutamakan dengan memperdalam keilmuan yang kita semua miliki dan tekuni, juga memiliki rasa prihatin terhadap kondisi sosial di lingkungan kita, sehingga kita dapat senantiasa berusaha meningkatkan kapasitas diri. Kapasitas diri ini meliputi finansial dan ilmu pengetahuan. Dengan dua hal ini, semua manusia dapat memberi manfaat bagi sesama. Apabila umat beragama hanya berfokus pada ritual keagamaan sebagai jalan berhijrah, tentu saja hal itu tidak jelek, tentu hal yang baik. Rasulullah saw. juga mengatakan itu adalah baik. Namun perlu digaris bawahi, yang lebih baik dan lebih tepat bagi kelompok yang ingin menamakan dirinya berhijrah ialah dengan berhijrah dari satu daerah yang kurang berkenan menuju daerah yang lebih menjanjikan; berhijrah dari satu daerah yang ia tidak dapat menunaikan tanggung jawabnya dengan baik menuju daerah yang dapat ia tunaikan tanggung jawab tersebut dengan lebih baik. Untuk itu, maka lebih bagus apabila kita menitik beratkan hijrah pada ilmu pengetahuan.

Alquran mendukung hijrah pengetahuan sebagaimana ayat yang pertama kali turun:

اِقْرَأْ

Bacalah!” (Al-Alaq: 1). Membaca itu berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan. Dan orang-orang yang berilmu pengetahuan itu:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu,” (QS. Al-Mujadilah: 11). Dengan demikian, dapat kita anggap bahwa hijrah yang baik, khususnya bagi anak-anak muda adalah dengan tidak menitik beratkan pada ritual (bukan berarti ritual tidak baik, tentu itu baik), namun menitik beratkan dari apa yang dianjurkan Rasulullah saw. seperti pada paparan paragraf sebelumnya.

Alwi Shihab melanjutkan, ada sebuah contoh dari sahabat Rasulullah saw. yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ia adalah sahabat yang sangat dekat dan loyal kepada Rasulullah saw. Saat datang ke Madinah, tempat yang ia cari pertama kali adalah pasar. Hal ini dilakukannya karena ia memiliki kecenderungan untuk berdagang. Pada akhirnya, di pasar Madinah, ia menjadi seorang pengusaha yang kaya raya. Kekayaannya ini ia belanjakan untuk kepentingan misi Rasulullah saw. Abdurrahman bin Auf merupakan satu dari sepuluh sahabat Rasulullah saw. yang dijanjikan masuk surga. Sebagaimana Abdurrahman bin Auf, berhijrah itu tidak harus meninggalkan tanggung jawab duniawi. Ia pergi ke pasar dan berusaha, serta  bertanggung jawab atas keluarganya.

Sebagai umat Islam masa kini, mari kita semua usahakan berhijrah dengan niat yang tulus, untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., dengan pendekatan yang tidak tunggal/ritual saja), melainkan dibarengi/diimbangi dengan peningkatan kapasitas diri untuk bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama manusia. Alwi Shihab menegaskan bahwasanya tanggung jawab tiap manusia di dunia ini itu penting untuk dilakukan, tetapi harus seimbang dengan kehidupan akhiratnya. Seperti doa yang senaniasa diucapkan umat Islam:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah berikanlah kebajikan di dunia ini juga kebajikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”

Doa ini menandakan bahwa umat Islam  tidak diperkenankan meninggalkan dunia/materi dan mengejar akhirat belaka. Karena di dunia ini, manusia memiliki tanggung jawab. Allah menciptakan manusia dari bumi dan memerintahkan manusia untuk memakmurkan bumi. Kemakmuran bumi dapat diraih dengan kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan dan hal-hal yang sifatnya duniawi untuk kepentingan akhirat. Terdapat ayat yang sangat populer:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ
“Carilah apa yang dianugrahkan Allah kepada kamu (dari kesehatan, kekuasaan, harta, ilmu) untuk mencaat tujuan akhirat, tapi janganlah lupa, kamu boleh juga berbahagia di dunia, dan berbuat baiklah kepada sesama seperti Allah telah berbuat baik kepada kalian,” (QS. Al-Qashash: 77). Kepentingan akhirat ini dapat diraih dengan bersedekah, membantu orang, dan sebagainya. Sangat boleh manusia berbahagia di dunia dengan apa-apa yang dimiliki, namun dengan tidak melupakan kebahagiaannya di akhirat.

Hijrah yang demikian akan membuat umat mukmin kuat secara ilmu, pengaruh dan finansial. Dan itu lebih baik daripada umat mukmin yang lemah. Orang mukmin yang kuat itu bisa memberi manfaat pada banyak orang. Atas dasar itu, para ahli Tasawuf menempatkan sabar pada penempatan rasa syukur. Orang yang bersabar itu akan bermanfaat untuk dirinya. Dan orang yang bersyukur atas nikmat Allah kepadanya, itu tidak hanya bermanfaat pada dirinya, namun juga kepada orang lain. Sehingga tingkat syukur itu lebih tinggi daripada tingkat sabar.(IL/AKR)[1]

[1] Tulisan berdasarkan catatan digital Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=gdpet_i_7rI&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=83.

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...