Kisah Nabi Muhammad SW dan Asal Mula Ibadah Haji
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Setelah menerima perintah dari Allah SWT, Nabi Ibrahim AS mengajak Hajar dan Ismail pindah ke Mekah. Dari sinilah sejarah Ibadah Haji dimulai. Simak episode ke-21 dari Podcast Alwi Shihab berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 21
Asal-Muasal Ritual Ibadah Haji
Kakbah di Makkah adalah titik penting bagi tujuan ritual umat Islam. Yang memiliki titik tujuan ritual/titik spiritual (untuk meningkatkan spiritualitas dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa) tidak hanya umat Islam saja, umat agama lain juga sama, seperti: umat Katolik dengan gereja St. Peter di Vatikan, umat Budha dengan Lumbini di Nepal, Sikh dengan Golden Temple di India. Jadi, semua agama memiliki tempat suci yang didatangi sebagaimana yang dilakukan oleh jamaah haji dan umrah pada komunitas umat Islam. Ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Alquran bahwa tiap agama itu memiliki kiblat dan pada akhirnya, penganut agama-agama ini akan kembali pada Tuhan, dan Tuhan yang akan memutuskan siapa di antara mereka yang benar dan keliru.
Adapun ibadah haji adalah bagian dari manifestasi umat Islam untuk kembali kepada sejarah Ibrahim dalam proses mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Ritual haji terdiri dari rukun tawaf (mengelilingi Kakbah sebanyak 7 putaran), Sa’i dari bukti Safa-Marwa, wukuf di padang Arafah, mabit di Mina, dan melontar batu jumrah sebagai simbol melawan setan-setan. Mengapa ini semua ada dalam ritual ibadah haji?
Alwi Shihab menjelaskan, semua ini tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk berpergian dari Palestina ke daerah (sekitaran Makkah sekarang) bersama Ibu Hajar dan anaknya Ismail. Tempat itu tidak memiliki tanda-tanda kehidupan, tak ada pepohonan dan juga sumber air. Pada saat Nabi Ibrahim sampai di Makkah, ia meninggalkan istri dan anaknya di sana. Dapat dibayangkan perasaannya, ia baru memiliki anak di usia senjanya (80 tahun), dan ia harus meninggalkan anak-istrinya di daerah yang tidak memiliki sumber kehidupan di sana. Sewaktu Nabi Ibrahim beranjak akan pergi meninggalkan Makkah, sang istri (Ibu Siti Hajar) memanggil, “Wahai Ibrahim suamiku, mengapa kau tinggalkan kami di sini. Di sini tidak ada kehidupan, tidak ada air, tidak ada pohon-pohonan.” Ibu Hajar mengucapkan ini sampai tiga kali dan kemudian Nabi Ibrahim baru menoleh. Kemudian Ibu Hajar bertanya pada suaminya, “Apakah ini perintah Allah kepadamu wahai Ibrahim?” Kemudian Nabi Ibrahim menjawab, “Betul, ini adalah perintah Allah.” Dengan penuh ketabahan Ibu Hajar berkata, “Jika demikian, maka pastilah Allah tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan sengsara dan tidak memiliki bekal untuk hidup.”
Pada saat bekalnya yang dibawa dari Palestina sudah habis, Ibu Hajar mencari-cari air untuk anaknya. Ia pergi ke daerah yang tinggi untuk melihat kafilah yang berlalu, juga melihat dimana letak kawanan burung berterbangan, karena biasanya kalau ada kumpulan burung berarti ada air di sana. Dalam rangka mencari air ini, Ibu hajar berjalan dari Safa ke Marwa sampai tujuh kali. Itulah yang dilakukan umat Islam ketika Sa’i. Yakni mengulang kembali pengalaman spiritual Ibu Hajar sewaktu mencari air untuk anaknya. Setelah 7 kali ia bolak-balik Safa-Marwa, ia tak kunjung mendapatkan air. Kemudian ia kembali menemui anaknya, di saat itulah dari kaki anaknya keluar mata air yang dinamakan Zamzam. Dan sampai saat ini, mata air tersebut tidak berhenti mengeluarkan untuk mengeluarkan airnya. Sa’i adalah bagian dari ritual haji. Pada saat Rasulullah saw. memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan Sa’i, ada seorang sahabat yang dihatinya merasa keberatan, dengan alasan di daerah itu banyak berhala dan sebagainya. maka kemudian turunlah ayat:
اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِۚ
“Berjalan dari Safa ke Marwa merupakan bagian dari ritual yang ditetapkan oleh Allah Swt.” (QS. Al-Baqarah: 158).
Setelah ritual Sa’i, para jamaah haji akan berada di Arafah kurang lebih berjarak 10 KM dari Makkah dan memiliki luas 10 KM2. Di Arafah, Allah menjanjikan bahwa doa yang dipanjatkan di tempat ini maka tidak akan ditolak oleh Allah Swt. Arafah adalah tempat dimana umat Islam bisa merenung, betapa pada hari kemudian nanti, kita semua seakan-akan berada di tempat seperti padang Arafah ini. Di padang Arafah ini, tidak ada beda antara kepala negara, orang kecil, orang yang berpangkat, yang kaya, yang miskin, semuanya sama. Semuanya sama-sama menggunakan pakaian yang sama dan memanjatkan doa kepada Allah Swt. Semua doa akan dikabulkan, dan semua permohonan ampunan akan diampuni. Pada saat hari Arafah ini, dianjurkan betul untuk berpuasa karena berpuasa menajdi sarana untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. Di hari itu, umat Islam yang berhaji menunaikan suatu ritual penting, yakni berdoa kepada Allah, agar semua dosa diampuni.
Setelah dari Arafah, umat Islam yang berhaji melanjutkan perjalan ke Mina. Mina adalah tempat yang digunakan jamaah haji untuk melempar batu sebagai bentuk simbol melontarkan batu pada setan. Ada tempat yang dinamakan Jumrah al-Ulaa, Jumrah al-wusthaa, dan Jumrah al-aqabah. Ritual ini adalah simbol memerangi setan, dan ini adalah semacam pengulangan dari apa yang terjadi pada pengalaman Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as. diperintahkan Allah Swt. melalui mimpi untuk menyembelih anaknya Ismail. Ismail adalah anak yang sangat disayanginya, yang dinanti-nanti kehadirannya. Allah memerintahkannya di dalam mimpinya. Pada mimpi yang pertama ia masih ragu, hingga sampai tiga kali mengalami mimpi serupa, akhirnya ia menganggap bahwa ini adalah perintah Allah yang harus ditaati.
Kemudian Nabi Ibrahim mendatangi anaknya yang berusia belasan tahun, dan ucapannya diabadikan dalam Alquran:
يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Wahai anakku, saya tadi malam tiga kali berturut-turut, saya melihat saya menyembelih engkau wahai anakku Ismail. Wahai anakku Ismail, apa pendapatmu? (Dengan penuh ketegaran) Nabi Ismail menjawab: Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, kamu akan mendapati aku in sya Allah dengan pertolongan Tuhan menjadi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Saffat: 102). Ayat ini memberikan pelajaran tentang parenting yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Ia tidak serta merta mengatakan pada anaknya untuk mengikuti arahnnya karena ini adalah perintah Tuhan, namun ia melakukan dialog dengan anaknya yang masih belia tersebut.
Pada keesokan harinya, bersama dengan sang anak, Nabi Ibrahim pergi ke Mina untuk melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih anaknya. Sebelum perintah itu dilaksanakan, datanglah setan-setan yang hendak menggagalkannya dengan memberikan segala macam argumentasi, “Apakah sampai hati kamu membunuh anakmu!; Apakah kamu tidak sayang kepada anakmu!” Mendengarkan ini, Nabi Ibrahim sangat tegar dan yakin bahwa ini adalah perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Pada sebuah riwayat dikisahkan bahwa ia juga melempar setan-setan itu sampai 3 kali. Oleh karena itu, para umat Islam yang berhaji juga melakukan hal serupa dengan melakukan pelempara jumrah sebanyak tiga kali, tidak lain untuk mengenang betapa beratnya seorang Nabi Ibrahim dalam melaksanakan tugas Allah dengan segala macam rintangan yang dihadapinya.
Pada saat ia hendak menyembelih anaknya, turunlah malaikat yang memberikan pengganti sang anak dengan kambing gibas untuk kemudian dikorbankan/sembelih. Kemudian Nabi Ibrahim merasa lega dan puas karena telah menunaikan perintah Tuhannya. Atas dasar ini, pada saat melempar jumrah, jamaah haji seyogyanya selalu ingat bahwa jangan mengikuti langkah-langkah setan yang ingin senantiasa ingin menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang tidak benar. Seperti yang telah diketahui, setan bersumpah di hadapan Allah Swt.:
وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ
“Saya akan senantiasa berusaha untuk menjerumuskan dan menolehkan tekad orang-orang yang pasrah kepada Tuhan dari jalan yang lurus,” (QS. Al-Hijr: 39). Untuk itu, jamaah haji dan yang tidak haji diperintahkan untuk melaksanakan kurban.
Setelah dari Mina, jamaah haji kembali ke Makkah untuk melaksanakan tawaf di Kakbah. Ritual ini juga diabadikan dalam Alquran tentang Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail yang mendirikan Kakbah dan dijadikan sebagai tempat peribadatan pertama untuk manusia. Keduanya bersama-sama mendirikan Kakbah, dan kemudian Kakbah disempurnakan pada saat Nabi Muhammad saw. Sebelum menjadi ia menajdi rasul, Kakbah ini disempurnakan. Dan pada saat penyempurnaan Kakbah ini, para suku-suku Arab berselisih siapa yang akan menempatkan Hajar Aswad di sudut Kakbah. Menurut riwayat, pada saat itu Nabi Muhammad saw. belum menjadi nabi, namun ia telah dikenal sebagai seseorang yang sangat terpercaya, Al-Amin, maka beliau memberikan anjuran kepada para pimpinan kabilah untuk meletakkan Hajar Aswad di tengah sebuah surban dan ujung dari subran tersebut dipegang oleh sekian banyak kepala suku yang ada di Makkah dan Nabi Muhammad sendiri yang kemudian akan mengangkat Hajar Aswad dan menempatkannya di sudut Kakbah.
Semua paparan ini adalah pelajaran bagi kita semuanya, khususnya umat Islam, tentang banyaknya nilai-nilai penting yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nilai tersebut diantaranya: pertama, tentang Ibu Hajar yang tidak pasrah tanpa usaha. Ia mengetahui bahwa Tuhan tidak akan menelantarkannya, namun ia tetap berusaha berjalan di bawah terik matahari untuk mencari air secara mondar-mandir dari Safa-Marwah sebanyak 7 kali. Walaupun tidak menunjukkan hasil, ia menunjukkan pentingnya usaha, hingga akhirnya ada campur tangan Tuhan di sana dengan menciptakan air di kaki sang buah hati.
Ya, kita tidak boleh berputus asa, sekalipun kita berlumuran dosa, jangan sampai kita berputus asa, karena Tuhan akan mengampuni semuanya, kecuali dosa syirik; kedua, tentang hubungan antara Nabi Ibrahim as. dan anaknya (Nabi Ismail) yang begitu akrab, sehingga perintah Tuhan disampaikan dengan baik secara dua arah. Ini adalah nilai yang patut para orang tua ikuti; ketiga, tentang kepatuhan Nabi Ismail kepada orang tua. Ini juga merupakan nilai yang perlu dijadikan pelajaran penting. Tidak saja bagi jamaah haji, tapi bagi semuanya yang membacadan merenungi sejarah hidup keluarga nabi ini. Tak kalah penting adalah nilai tentang kesabaran yang mereka tampakkan, kesabaran ini menunjukkan kepatuhan kepada Allah Swt. (IL/AKR)
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=ajYgSMH9JLk&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=101.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments