Alwi Shihab Menjawab Siapa Ahli Kitab (Part 1)
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Siapakah Ahli Kitab? Mengapa bisa disebut Ahli Kitab kalau mereka sudah tidak memegang kitab lagi? Bukannya kitab asli sudah tidak ada lagi? Bukankah kalau disebut Ahli Kitab, itu berarti Muhammad mengakui Kitab yang mereka pegang adalah Kitab yang Asli? Simak episode ke-22 dari Podcast Alwi Shihab berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 22
Apa Maksud dari Istilah Ahlulkitab?
Istilah Ahlulkitab kerap menjadi perdebatan di kalangan umat Islam. Ada yang menganggap, istilah ini tidak lagi relevan karena diasumsikan para pemeluk agama sebelum datangnya Rasulullah saw. tidak lagi memegang kitab suci yang asli, melainkan sudah ada perubahan-perubahan di dalamnya. Apakah dengan mengakui kelompok agama Nasrani dan Yahudi sebagai ahlulkitab itu berarti umat Islam juga mengakui keaslian kitab tersebut? Alwi Shihab merespon pertanyaan ini dengan terlebih dulu mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan ahlulkitab adalah keluarga kitab. Sama halnya saat membaa Alquran, kita menemukan surah Ali ‘Imran. Ali itu sebenarnya berasal dari kata ahli, ahli menjadi ali. Seperti juga saat membincang tentang ahlul bayt, keluarga Rasulullah saw. atau juga Ali Ya’kub, keluarga Nabi Yakub as. Jadi ali dan ahli itu artinya keluarga.
Mengapa Alquran memanggil ahlulkitab sebagai ahlulkitab? Karena ahlulkitab memiliki kitab yang diturunkan oleh Allah Swt. Sebagaimana diketahui bahwa Allah Swt. mengutus sekian banyak nabi dan rasul:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَّنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَۗ
“Telah kami utus rasul-rasul sebelum kamu wahai Muhammad, di antara mereka ada yang Kami sampaikan riwayatnya (ceritanya), dan ada juga yang tidak kami sampaikan,” (QS. Ghafir: 78). Maksudnya adalah, ahlulkitab adalah keluarga kitab, atau kelompok yang pernah mendapatkan kitab dari Yang Maha Kuasa.
Diketahui bersama bahwa ada beberapa dari kitab dari ahlulkitab yang masih dikenal saat ini, seperti kitab Taurat, Injil dan Alquran. Alquran juga dikatakan sebagai kitab:
الۤمّۤ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
“Itu Alquran adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 1-2). Sehingga dapat pula dikatakan bahwa Islam juga bagian dari ahlulkitab.
Ayat ke-78 surah Ghafir menggambarkan banyaknya nabi dan rasul yang tidak diceritakan dalam Alquran. Sekian banyak nabi sejak Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad saw. juga kelompok-kelompok yang ada saat ini disebut pula oleh Alquran sebagai saabi’iin. Saabi’iin adalah kelompok yang keluar dari satu kelompok yang aslinya. Sehingga tidak dapat diketahui, apakah kelompok ini keluar dari kelompok Yahudi, atau apakah ia keluar dari kelompok pengikut Nabi Nuh, statusnya tidak jelas. Ada pula kelompok majuus, dan kelompok ini juga bisa dikatakan ahlulkitab, karena pada zaman Nabi saw., beliau menerima jizyah dari para ahlulkitab; dan al-majuss juga diminta pajaknya oleh Nabis saw. pada waktu itu. Ketika Nabi saw. ditanya, apakah kelompok majuus ini merupakan ahlulkitab, beliau menjawab, “Iya, mereka pernah punya nabi, dan sayang nabinya mereka bunuh dan kitabnya mereka bakar.”
Jadi, maksud dari ahlulkitab adalah kelompok keagamaan yang mempercayai Tuhan Yang Maha Esa. Adapun perihal asumsi yang mengatakan bahwa mereka adalah kelompok yang mengubah-ubah kitab, sesungguhnya di zaman Nabi saw. pun sudah ada kelompok Trinitas. Ini adalah kelompok yang diakui oleh kelompok Kristen. Kendati demikian, tetap saja Alquran menyapa mereka sebagai ahlulkitab:
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ
“Wahai ahlulkitab (Yahudi dan Nasrani), jangan berlebihan dalam agama kamu, dan jangan kamu menyampaikan tentang Tuhan, kecuali yang benar, sebenarnya Al-Masih anak Maryam itu utusan Allah,” (QS. Al-Nisa’: 171). Artinya, pada masa Nabi saw., sudah ada kelompok yang mengakui bahwa Al-Masih itu bukan rasul, melainkan bagian dari substansi Ilahi/trinitas. Ahlulkitab tidak saja yang asli pada masa Nabi Isa as., tetapi juga pada masa Nabi Muhammad saw., sehingga mereka dipanggil sebagai ahlulkitab.
Jelas, Alquran memanggil dan menyapa kelompok selain pengikut Nabi Muhammad saw. sebagai ahlulkitab, apapun yang terjadi, baik di masa sebelum maupun setelah pengutusan Nabi Muhamamd saw. Ahlulkitab dilarang Alquran untuk berlebihan dalam agamanya, karena kalau terlalu mengkultuskan Nabi Isa as., sehingga Nabi Isa as. tidak dianggap sebagai rasul. Ini menandakan, bahwa pada saat Nabi Muhammad saw. jumeneng, ahlulkitab ya tetap saja ahlulkitab. Di dalam Alquran sebenarnya dikelompokkan, ada kelompok yang beriman:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالصَّابِـِٕيْنَ وَالنَّصٰرٰى وَالْمَجُوْسَ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓاۖ
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang kelompok Yahudi dan Saabi’iin, dan Nasrani (pengikut Nabi Isa as.), dan orang-orang kelompok Majuus, dan mereka yang musyrik (menyembah berhala),” (QS. Al-Hajj: 17). Alquran satu persatu menyebut nama-nama kelompok ini, dan nanti Dialah yang memutuskan status dari masing-masing kelompok tersebut secara satu-persatu. Oleh karena itu, umat Islam dan umat agama lainnya tidak dapat mengatakan bahwa orang yang Majusi itu pasti masuk neraka, atau orang Saabi’iin itu sesat, karena Allah sudah menegaskan bahwa penentuan itu adalah hak prerogatif Tuhan. Kita semua yang berbeda ini hanya diminta Alquran untuk mencari titik temu, bukan mencari titik beda. Karena, kalau kita mencari titik beda, maka berujung konflik; namun apabila kita mencari titik temu bersama, maka ujungnya adalah pengertian. (IL/AKR)
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=v52DalL0fBw&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=92.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments