Hadits Larangan Memulai Salam kepada Orang Yahudi dan Nasrani (Part 2)
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Simak penjelasan Prof. Dr. Alwi Shihab mengenai hadits: “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nasrani, dan desaklah mereka ke bagian jalan yang paling sempit.”
Refleksi Podcast Episode 23
Apakah Umat Islam Boleh Mengucapkan Salam Kepada Umat Yahudi?
Terdapat sebuah hadis yang berbunyi:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلامِ ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan maka desaklah ia ke jalan yang sempit,” (HR. Muslim). Apabila dibaca secra tekstual, hadis ini seolah-olah melarang umat Islam mengucapkan salam kepada non Muslim. Padahal, Rasulullah saw. meneladankan kehidupan yang harnonis kepada umat agama lain dalam bunyi hadis lainnya. Ini nampak sebagai suatu hal yang kontradiktif, lantas bagaimana seharusnya memahami hadis ini dengan semangat ajaran Islam yang rahmatan?
Alwi Shihab menyampaikan, hadis ini secara lahiriah seakan-akan Rasulullah saw. melarang umat Islam untuk menyapa dengan baik kelompok Yahudi (tidak ditujukan kepada kelompok Nasrani). Nah, apabila ada hadis yang tidak sesuai dengan semangat ajaran Islam atau ajaran Alquran, maka hadis itu harus ditolak. Sebagaimana yang Rasulullah saw. katakan, “Kalau ada riwayat mengenai saya, mengenai hadis saya yang bertentangan dengan Alquran, maka tinggalkanlah hadis itu dan tetap berpegang pada Alquran!” Namun, pada konteks hadis di atas, para ilmuan menganggap hadis ini adalah hadis yang benar. Sehingga, perlu rekonsiliasi, menghubungkan antara hadis ini dengan semangat Alquran yang begitu banyak menganjurkan agar umat Islam berlaku adil, berlaku baik, dan tidak menciderai perasaan-perasaan non Muslim. Pasti ada sebab yang melatar-belakangi keluarnya hadis ini. Oleh karena itu, jika umat Islam hendak berbicara tentang Alquran, maka harus selalu dimulai dengan memahami sebab turunnya ayat tersebut. Dan Hadis juga demikian, dalam memahami sebuah isi hadis, umat Islam dan para pengkaji perlu mengetahui konteksnya.
Mengembalikan isu ini pada Alquran, Alquran mengatakan:
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَاۗ
“Kalau ada orang yang menyapa, maka kembalikan sala/greetings itu dengan baik, atau paling tidak sama,” (QS. Al-Nisa: 86). Alquran juga mengajarkan umat Islam:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Allah tidak sama sekali melarang kalian umat Islam untuk berlaku adil, menyapa, dan berbuat baik kepada mereka yang tidak memerangi agamamu, dan tidak mengusir kamu dari negerimu,” (QS. Al-Mumtahanah: 8). Ayat-ayat ini apabila dikorelasikan dengan konteks hadis di atas, maka kita harus dengan sungguh memahami, bahwa relasi Rasulullah saw. dengan kelompok Yahudi di Madinah itu mengalami gangguan-gangguan di dalamnya.
Kelompok Yahudi (Bani Quraidah) adalah kelompok yang menyalahi ketentuan perjanjian antara umat Islam (Rasulullah saw.) dengan mereka. Kelompok Yahudi ini, pada saat kelompok Musyrikiin (penyembah berahala) datang dari Makkah ke Madinah, mereka justru mereka melanggar perjanjian yang bunyinya, “Siapapun yang menyerang Madinah, kota kita yang kita huni, maka kita harus pertahankan.” Namun ternyata, kelompok Yahudi Bani Quraidah berkonspirasi dengan kelompok Musyrikiin Makkah, dengan memberikan informasi-informasi agar Musyrikiin Makkah bisa mengalahkan kelompok Muslim di Madinah. Oleh karena konteks ini, ada alasan mengapa umat Islam boleh berbuat tidak baik pada komunitas Yahudi pada waktu itu, tidak lain karena mereka memerangi umat Islam.
Sejarah Islam mencatat, bahwa kelompok komunitas Yahudi pada saat hubungannya tidak harmonis bersama umat Islam (di masa itu), mereka tidak mengatakan, “Assalamualaikum,” namun yang dikatakan adalah, “Assamu alaikum,” yang artinya ‘kematian bagi kamu.’ Diriwayatkan di dalam hadis Bukhari & Muslim, pada suatu saat ada kelompok Yahudi yang datang dan menemui Rasulullah saw. Mereka mengatakan, “Assamu alaikum.” Sayyidah Aisyah langsung serta merta menjawab dengan, “Waalaikum saam wa la’nah.” Sayyidah Aisyah sungguh marah karena mereka menyalami Rasulullah saw. dengan makna, “Semoga Tuhan menjatuhkan kematian/keterpurukan kepadamu,” yang kemudian membuatnya menjawab tidak saja dengan kematian, tapi juga ucapan laknat. Yang dilakukan Sayyidah Aisyah ini langsung ditegur oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw. kemudian mengatakan bahwasanya Allah Swt. mengajarkan untuk mengucapkan ucapan yang lemah lembut dan Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Lembut dan Maha Penyayang.
Jadi, hadis ini konteksnya adalah pada saat komunitas Yahudi mau mengganggu Rasulullah saw.dengan cara memberi ucapan yang tidak baik, sehingga kemudian Rasulullah saw. mengatakan, “Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di suatu jalan maka usahakan ia dipinggirkan/ desaklah ia ke pojok jalan yang sempit, sehingga ia tidak bertatap muka dengan kalian, sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.” Hadis ini secara lahiriah bertentangan dengan ajaran Alquran yang mengajarkan kita untuk berkata baik:
وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Katakanlah hal yang baik-baik kepada manusia semuanya,” (QS. Al-Baqarah: 83). Ya, manusia semuanya, bukan hanya Yahudi dan Nasrani, tapi juga semuanya, siapapun itu. Dan siapapun yang mengajak pada kebaikan, maka umat Islam harus menjawabnya, meresponnya dengan kebaikan, atau juga yang lebih dari itu.
Alwi Shihab menegaskan, bahwa hadis tersebut sangat kontekstual, karena pada konteks saat itu, hubungan antara komunitas Islam dan komunitas Yahudi di Madinah yang sengaja ingin menjerumuskan umat Islam dengan cara yang terkadang keji dan konspiratif yang mengganggu hubungan tersebut. Dari itu, sangat perlu untuk mengetahui asbaab al-wuruud/sebab keluarnya sebuah hadis dalam memahami sebuah teks hadis. Dengan kata lain, tidak diperkenankan memahami hadis secara sepotong-sepotong. Inilah yang banyak terjadi, terkadang banyak di antara umat Islam yang merasa tidak senang terhadap satu kelompok tertentu, kemudian mencari hadis dan Alquran yang digunakan dan keluar pada masa perang juga konflik. Yang demikian ini sangatlah tidak diperbolehkan dan harus ditinggalkan.
Guna menyaring narasi-narasi agama yang menyimpang dari semangat ajaran Alquran dan Hadis, Alwi Shihab mengarahkan agar pada saat membaca Alquran, jangan hanya membaca Alquran saja, namun juga diusahakan untuk membaca tafsir Alquran. Dalam tafsir Alquran dijelaskan bagaimana sebuah ayat itu turun, mengapa ayat itu turun, dan apa arti dari ayat itu. Sehingga, banyak sekali ayat-ayat Alquran yang menimbulkan beragam interpretasi. Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Alquran ini memiliki wajah yang berbeda.” Arti dari ungkapan ini artinya adalah ulama yang terpengaruh oleh keadaan/konteks kehidupannya, bisa menjadi ulama yang keras, tidak senang dengan keadaannya, sehingga ia mencari rujukan/cantolan dari Alquran dan Hadis.
Pada konteks masyarakat Indonesia, sejauh ini, umat Islam tidak memiliki masalah dengan komunitas agama lain. Untuk itu, umat Islam Indonesia harus dapat mencari ayat dan hadis yang sungguh-sungguh dapat menciptakan hubungan yang harmonis. Seperti ayat yang menganjurkan untuk mencari titik temu, ayat yang tidak mengeneralisir seluruh ahlulkitab itu sama (ada kelompok yang baik dan tidak baik), dan ayat lainnya. Dari paparan ini semua, sebagai umat Islam kita harus pandai untuk memilah dan memilih tafsir Alquran maupun hadis yang penuh dengan petunjuk untuk kemanusiaan. Bagaimanapun, Alquran menjelaskan bahwa Alquran tidak saja hudan li al-muttaqiin, tetapi juga hudan li al-naas, yakni petunjuk bagi seluruh umat manusia. Ya, Alquran tidak saja diperuntukkan untuk umat Islam, tetapi juga umat non Muslim dapat menemukan petunjuk dari Alquran. Ini sebagaimana Injil dan Taurat yang menjadi petunjuk bagi umat manusia. Perlu diingat bersama, bahwa kitab dari Allah Swt. itu banyak sekali, termasuk Suhuuf Ibraahiim, Suhuuf Muusaa (lembaran kitab Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa as., Taurat, Zabur, dan kitab suci lainnya yang tidak disebutkan dalam Alquran. (IL/AKR)
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=7gwNljKaOYI&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=92.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments