Alwi Shihab: Saya Mengoreksi! Saya tidak Berkata Yahudi & Nasrani Masuk Surga, tetapi …. (Part 4)

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Bapak menjelaskan bahwa ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) akan masuk surga. Lalu, bagaimana dengan orang Hindu, Budha, dan Konghucu, pak? Apakah mereka juga akan masuk surga?

Refleksi Podcast Episode 25
C

Apakah Ahlulkitab dan Orang Non Muslim akan Masuk Surga?

Berdasarkan ayat-ayat yang telah dijelaskan dalam tulisan dengan judul berbeda telah disampaikan oleh Alwi Shihab, bahwa ada dari kelompok ahlulkitab yang kemungkinan masuk surga dan itu dapat diyakini oleh umat Islam. Hal ini disebabkan karena ada sebuah ayat yang diulang dua kali dalam Alquran (Al-Baqarah: 62 dan Al-Maidah: 69):

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Sabiin, dan Nasrani, siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, tidak ada rasa takut/khawatir yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih.”

Jadi, kelompok-kelompok yang disebutkan dalam ayat ini tidak perlu merasa khawatir dan gusar, dengan kata lain mereka akan selamat. Walaupun ayat ini diulang dua kali dengan perbedaan redaksi yang kecil, tetapi mayoritas mufassiriin mengatakan bahwa yang di sebut orang Yahudi, Saabi’iin, dan Nsrani itu yang sebelum datangnya Nabi saw. Ada juga yang mengatakan bahwa bagi mereka di kelompok itu yang telah mengikuti Islam (ajaran Nabi saw.). Tetapi tidak sedikit pula ahli tafsir yang menganggap bahwa kalau ia telah masuk Islam, maka tidak perlu lagi disebut Yahudi, Saabi’iin dan Nasrani. Sehingga, kelompok ahli tafsir ini beranggapan (walaupun kelompok ini tidak banyak, namun pendapatnya perlu disebutkan dan dipertimbangkan) bahwa siapa saja yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa (dari kelompok-kelompok tersebut), yang percaya bahwa ada hari kemudian, ia berbuat baik di dunia, mengajak sesama melakukan hal baik, maka mereka akan berada di tempat yang aman.

Pendapat ini diperkokoh dengan ayat:

لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Ahlulkitab itu tidak semuanya sama, ada dari kelompok ahlulkitab yang konsisten terhadap agamanya, ia membaca ayat-ayat suci pada malam hari dan bersujud, dan percaya kepada Allah, percaya pada hari akhir, mengajak kepada yang baik, mencegah dari yang munkar, dan segera/mempunyai inisiatif mengejar kebajikan, dan mereka itu adalah orang-orang saleh,” (QS. Ali ‘Imran: 113-114).  Berarti, kalau mereka itu orang saleh, tentu tempatnya di surga. Dan Alquran mengatakan tidak semua ahlulkitab masuk surga dan tidak semua ahlulkitab yang tidak masuk surga.

Mengapa umat Islam tidak disebut juga? Karena umat Islam seyogyanya percaya kepada rukun-rukun iman yang mencakup semua indikator sebagia orang saleh tersebut. Adapun jika ia memiliki banyak dosa, maka itu diserahkan pada Allah Swt. Manusia tidak bisa mengatakan bahwa si A sudah beribadah sepanjang masa dan berbuat baik, pasti ia masuk surga. Tidak ada yang bisa memastikan itu. Dari itu, ulama bersepakat, masuk tidaknya seseorang ke dalam surga itu tergantung kepada rahmat Tuhan. Karena, kalau kita menggunakan keadilan Tuhan, maka kalau kita berbuat salah ya diganjar serupa, dan berbuat baik juga demikian. Apabila menggunakan keadilan, belum tentu perbuatan baik manusia lebih banyak atau juga lebih sedikit dari perbuatan jahatnya. Sedangkan kalau rahmat Tuhan, itu lebih luas. Jadi, bedanya antara gaji dan kebijaksanaan. Bisa saja bos memberi kita gaji 20 juta sesuai kontrak kerja, namun kalau bos kita senang, dia akan memberikan rahmatnya, ia bisa saja memberi 5 kali gaji dari yang biasanya kita terima. Dari itu, kita tidak dapat mengatakan siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka.

Sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari & Muslim yang artinya: Nabi saw. menceritakan, seorang laki-laki berjalan di Sahara dengan penuh dahaga, capek, untuk mencari air. Akhirnya ia mendapatkan sumur, dan ia turun ke sumur itu. Lalu ia ambil air dari sumur itu untuk kemudian ia minum. Begitu ia keluar dari sumur, di depan sumur itu ada anjing yang sudah mengeluarkan lidahnya dan yang pasti kalau tidak minum air maka ia akan meninggal. Ada rahmat, ada kasih sayang orang yang baru minum di sumur tadi untuk memberikan air kepada si anjing itu. Lalu diberikanlah air kepada si anjing ini. Rasulullah lalu mengatakan, “Karena perbuatan yang begitu baik dari orang ini, maka Allah masukkan dia ke dalam surga.” Ini artinya, Allah Swt. akan sangat senang kalau kita dengan tulus membantu orang lain, karena mungkin saja, pekerjaan yang kecil itu bisa menjadikan Tuhan memberikan rahmat yang besar. Dari itu, kalau umpamanya ada dari ahlulkitab yang berbuat salah dan sebagainya, kita sebagai manusia tidak bisa memvonisnya pasti masuk neraka. Yang dapat kita katakana adalah semuanya adalah hak mutlak Allah Swt. Kita semua hanya dapat berdoa semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita dan juga mengampuni dosa-dosa yang bersalah. Perlu diingat, sebagai umat Islam, kita dianjurkan tidak saja berdoa untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Yang menjadi pertanyaan demikian, mana yang lebih baik, menjadi bermoral tanpa agama, atau beragama namun tak bermoral? Alwi Shihab menyampaikan, keduanya tidak baik. Umat Islam berbuat baik kepada sesama manusia itu adalah anjuran agama. Kemudian, mereka yang berbuat baik ini apakah hanya berbuat baik atau sekaligus mengikuti tuntunan agama? Jadi, kalau ia tidak mempercayai adanya Tuhan, maka di dalam Alquran juga disebutkan, maka pada hari kemudian nanti mereka akan datang menghadap Tuhan untuk meminta ganjaran. Lalu, Tuhan mengatakan pada mereka, “Jangan datang kepada saya, datanglah kepada Tuhan yang kamu sembah. Jika kamu tidak memiliki Tuhan, maka pergilah kamu untuk bisa meminta pertolongan, dan kamu tidak akan pernah mendapat pertolongan.”

Intinya adalah bahwa yang mengerjakan segala macam kekejian, tetapi ia percaya kepada Tuhan Yang Esa, namun mungkin karena ia terpengaruh, disebabkan karena faktor pendidikan yang tidak baik, dan menjadikan itu sebagai kehidupannya; apabila ia bertobat, maka tentu saja Allah Swt. akan memberi hukuman terhadap mereka. Namun, di sisi lainnya, orang itu tidak pernah mengingkari keesaan Tuhan, dia tidak mengingkari Tuhan, sehingga ada plus point di sana, dan plus point di sini yang menentukan adalah Allah Swt. Jelasnya, plus point itu ada karena ia tidak menyembah selain Tuhan.

Bagi yang berbuat baik namun tidak mempercayai Tuhan juga memiliki plus point. Ia mungkin saja sebagiamana yang disebutkan dalam Alquran, orang-orang yang berbuat baik di dunia ini, maka Tuhan akan memberi ganjaran juga di dunia. Namun di akhirat, itu adalah hak prerogatif Tuhan, karena ia tidak percaya pada Tuhan, bagaimana Tuhan hendak memberi ganjarannya. percaya pada Tuhan adalah inti dari keselamatan; dan kalau manusia syirik, maka menurut Alquran, mereka tidak bisa diampuni. Tapi selain daripada itu, kita semua masih memiliki harapan untuk diampuni. Oleh karena itu, Allah Swt. memperingatkan kepada hamba-Nya yang berlumuran dosa dan mengatakan bahwa ia takut bertemu Allah, maka Allah telah menyampaikan:

لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ

Janganlah berputus asa dari rahmat Allah! Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh bentuk dosa (yang penting kamu percaya kepada Tuhan dan bertobat kepada-Nya sampai akhir detik-detik kehidupan),” (QS. Al-Zumar: 53). Manusia tidak akan luput dari dosa, maka dengan senantiasa percaya kepada Tuhan dan beramal baik, juga melakukan pertobatan sepanjang hidup, maka Tuhan akan senantiasa mengampuni semuanya. (IL/AKR)

Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=SURau-1o_6E&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=89.

Nonton juga

C
Sahabat Nabi yang Meninggalkan Segala Harta Demi Hijrah (Part 4)

Sahabat Nabi yang Meninggalkan Segala Harta Demi Hijrah (Part 4)

Simak bagaimana perjalanan hijrah mereka ...
Ini Maksud Ayat Lakum Diinukum wa Liya Diin!?!

Ini Maksud Ayat Lakum Diinukum wa Liya Diin!?!

Bagaimana cara kita memahami Lakum ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...