Bagaimana Memiliki Kemantapan untuk Hijrah?
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bagaimana caranya kita hijrah di tempat yang menawarkan banyak hal mengganggu dan menggiurkan kita untuk menjauhkan diri dari agama sedangkan kita sudah ada pada posisi menguntungkan dari sisi ekonomi/pekerjaan?
Refleksi Podcast Episode 98
Bersikap Moderat dalam Memilih Cara Hijrah
Fitrahnya manusia adalah menyukai hal-hal yang baik dan menentramkan. Namun dalam prosesnya, manusia kerap dihadapkan pada dua situasi yang memiliki konsekuensi yang berbeda. Ada kalanya nafsu membawanya untuk melakukan pilihan pertama, dan ada kalanya nafsu membawanya untuk melakukan pilihan kedua. Sepanjang hidup, manusia akan senantiasa ada dalam pilihan-pilihan hidup yang harus disikapi dengan bijak dan hati-hati. Termasuk dalam konteks hijrah (dari keburukan menuju kebaikan; dari kekurangan hidup menuju ke kecukupan hidup), manusia tidak akan terhindar dari dua pilihan yang acap membuat diri menjadi ragu, bingung dan sulit untuk membuat sebuah keputusan terbaik.
Saat seseorang berada pada titik kebaikan pada timbangan tertentu, ada saja hal-hal yang menarik agar kebaikan tersebut disertai juga dengan amal-amal buruk yang merugikan, atau juga ajakan-ajakan atas amal kebaikan yang tidak ingin dilakukan. Kedua opsi pilihan tersebut memiliki kekuatan yang membuat diri seseorang menjadi tidak tenang. Di satu pilihan, dirasakan bertentangan dengan norma agama; dan pada pilihan lainnya, dirasakan bertentangan dengan hati nurani. Lantas bagaimana menyikapi kondisi ini?
Shihab memberikan gambaran bahwasanya segala cobaan hidup manusia di dunia selalu diberikan jalan oleh Tuhan. Bahkan Tuhan mempersiapkan dua jalan untuk dipilih, wa hadaynahu al-najdayn (Al-Balad:10),dengan masing-masing konsekuensinya. Seperti saat kita memilih mengambil jalan kanan, maka inilah hasilnya; dan apabila kita mengambil jalan kiri, maka inilah hasilnya. Alwi juga mengilustrasikan dua pilihan jalan tersebut dengan bahasa Alquran menggunakan diksi ashaab al-yamiin (golongan orang yang taat) dan ashaab al-syimaal (golongan orang yang tidak taat). Kemudian, dimanakah posisi yang baik bagi manusia yang berada di persimpangan kegundahan ini? Alwi tidak mengkhususkan menggunakan diksi ashaab al-yamiin atau juga ashaab al-syimaal, melainkan melihat esensi dari dua jalan tersebut, yakni usaha untuk menjadi manusia yang mempunyai hati yang bersih.
Alwi mengajak sesama manusia untuk senantiasa berada pada posisi keseimbangan, yakni tidak berlebihan pada satu sisi. Menurutnya, hati dan nafsu manusia selalu menjadi rebutan antara sifat setan dan malaikat. Sehingga yang perlu dilakukan umat manusia adalah menjaga diri, baik menjaga hati maupun pikiran; karena menjadi bagian dari orang yang beruntung adalah orang-orang yang mampu menyucikan hatinya dari ajakan setan, qad aflah man zakkahaa (Al-Syams:9), dan merugi bagi mereka yang sebaliknya, wa qad khaaba man dassahaa (Al-Syams:9).
Ajakan pada keburukan dan kebaikan tiap orang tentunya tidak sama, sehingga terkadang kita merasa tidak cocok dengan standar keburukan maupun kebaikan yang orang lain paksakan pada kita (dalam konteks ini adalah standar cara hijrah tertentu). Alwi menegaskan, kita tidak perlu berlebihan dalam menyikapi mereka yang berada cara pandang dalam memahami nilai agama dengan apa yang kita fahami. Kita tetap harus menekankan sikap menghargai, sopan santun, adil dan tidak menyakiti. Tidak patut menolak dengan cara yang menyinggung perasaan liyan. Jika kita tidak menginginkannya, maka dapat kita katakan pada mereka, “Mungkin saya belum pas untuk berhijrah bersama anda karena saya mempunyai jalan yang lain.” Bagaimanapun, lakum diinukum waliya diin (Al-Kaafirun:6), atau dengan kata lain: kamu punya agama sendiri, kamu punya tujuan sendiri, kamu punya arah sendiri, dan saya juga punya arah yang lain. Dengan demikian, masing-masing individu dapat memupuk hubungannya dengan Tuhannya dengan cara yang masing-masing anggap paling sesuai, juga agar dapat saling mendoakan agar tujuan semua umat manusia dapat tercapai.
Ayat lakum diinukum waliya diin ini tidak saja dapat diterapkan dalam konteks perbedaan agama, melainkan juga perbedaan lainnya secara lebih luas, termasuk perbedaan dalam memahami ajaran keagaamaan dalam memaknai teks sumber yang sama. Apabila telah demikian, sesama manusia tidak akan saling mencemooh atas pilihan liyan, karena hal tersebut dilarang dalam agama. Sebagaimana mereka yang berbeda pandangan dengan kita, sejatinya kita juga sama, sama-sama sedang berusaha untuk mencapai kebaikan yang utama walaupun dengan cara yang berbeda. Sehingga pilihan kita bukanlah memonopoli kebenaran atau menjustifikasi kesalahan liyan, melainkan fokus pada perbaikan dan tujuan diri. Dapat disimpulkan, bukan kanan atau kiri yang paling baik, bukan juga kekurangan atau kelebihan yang lebih utama, bukan juga dua sumbu hidup berlawanan lainnya; yang lebih menguntungkan semuanya adalah ketika semua insan sama-sama belajar memperbaiki diri menjadi lebih baik dengan timbangan kemaslahatannya masing-masing.(IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://youtu.be/uuA6QhUqWxo?si=TphvQObS0MI8qg6-.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments