Ini Maksud Ayat Lakum Diinukum wa Liya Diin!?!

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Bagaimana cara kita memahami Lakum Diinukum wa Liya Diin dalam konteks masyarakat Indonesia yang sangat majemuk – baik itu budaya, bahasa, agama, sementara dalam setiap agama itu mengatakan bahwa agama itu sendiri yang paling benar? Simak jawabannya di #PodcastAlwiShihab episode ke-110 ini!

Refleksi Podcast Episode 110
C

Adab-adab Dakwah dalam Lingkungan Masyarakat yang Majemuk

Para pendakwah dari berbagai keyakinan, selain harus menguasai materi ajaran agama yang baik, mereka juga dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik pula dalam penyampaian. Terlebih dalam ruang lingkup masyarakat yang majemuk secara agama, bahasa, suku bangsa dan lainnya; para pendakwah harus menguasai ajaran agama tidak saja bersifat tekstual, namun juga yang sifatnya kontekstual. Hal tersebut diperlukan guna meminimalisir fanatisme buta suatu kelompok, monopoli kebenaran, dan penghakiman terhadap liyan yang kerap melahirkan konflik sosial. Pendakwah di sini tidak dikhususkan hanya pada para da’i di masjid dan tempat pengajian saja, namun juga para guru penyampai ilmu pengetahuan di sekolah, dan para orang tua sebagai ruang belajar di rumah (apapun agamanya).

Alwi Shihab merespon isu ini dengan mengutip Alquran Surah Al-Nahl (125) yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” Alwi menjelaskan, bahwasanya esensi ayat dakwah ini menganjurkan agar kita menerapkan adab dakwah dengan cara yang bijaksana/wisdom dan dengan anjuran yang baik. Jika telah demikian, maka sangat tidak dianjurkan untuk berdakwah dengan mendiskreditkan orang/kelompok lain, atau memaki dan menghina orang/kelompok lain. Tata cara berdakwah dalam ayat ini mengisyaratkan, bahwa cara dakwah yang bijaksana adalah dengan menyadari bahwasanya perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan tersebut memiliki potensi konflik, sehingga ajaran agama yang disampaikan harus berisikan tentang bagaimana para pemeluknya mampu menempatkan diri dengan baik dalam keberagaman guna menghindari konflik.

Ayat tersebut sekaligus memperingatkan umat Muslim untuk tidak mengusik liyan (demikian pula sebaliknya) dalam hal-hal yang berkaitan dengan keimanan. Alwi mengutip Alquran Surah Saba’ (25-26) yang artinya, “Katakan wahai Muhammad, kalian yang non Muslim, kalian tidak akan bertanggung jawab terhadap kesalahan yang kami lakukan; kami pun tidak akan bertanggung jawab terhadap apa yang engkau lakukan, wahai non Muslim. Katakanlah bahwa Allah akan mengumpulkan kita kelak di hari kemudian, lalu Allah-lah yang akan menetapkan siapa di antara kita yang benar dan sesat.” Ini berlaku dalam ruang perbedaan keimanan sekaligus dalam ruang interaksi sosial, agar bersama-sama tidak saling berargumentasi yang dapat menimbulkan konflik. Sehingga dapat disimpukan, kita umat beragama harus memiliki adab kepada diri sendiri dan liyan dengan cara: terhadap keyakinan diri, kita harus menyakini terhadap ajaran keselamatan dalam agama yang dipeluk; terhadap keyakinan orang lain, kita harus memberi peluang kepada mereka untuk meyakini apa yang menurut mereka benar.

Alwi mengatakan bahwasanya perbedaan lahir dari Tuhan. Kita semua harus menyadari dan memahami realita ini. Oleh karena itu, benar dan salah pun adalah hak kuasa Tuhan; sehingga dalam berdakwah, tidak diperkenankan menghina atau menganggap sesat pihak lain (baik yang berbeda keyakinan, maupun yang berada dalam keyakinan yang sama). Dakwah yang dilakukan dengan mengikuti anjuran Alquran akan mewujudkan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat majemuk. Dengan kata lain, para pendakwah harus memiliki kompetensi diri yang berupa pemahaman bahwasanya Alquran mengajarkan untuk mencari titik temu dalam perbedaan yang ada. Hal ini sebagaimana bunyi Alquran Surah Ali ‘Imran (64) yang artinya, “Katakan wahai Muhammad, orang-orang ahlul kitab, mari kita cari titik temu di antara kita; dan jangan kita cari titik beda di antara kita, karena kita diperintahkan untuk memakmurkan dunia ini.

Para pendakwah (penyampai ajaran agama) tidak cukup memiliki kompetensi tersebut saja, mereka juga dituntut untuk: memahami kondisi pemahaman jamaah; berhati-hati saat mengkomparasikan ajaran agama-agama; memberikan narasi dakwah yang berupa titik temu atas perbedaan ajaran agama. Dengan tegas Alwi mengatakan, “Kalau kamu ingin berdialog, berinteraksi, cari titik temu! Dengan titik temu, kedua belah pihak akan merasa bahwa dia mempunyai kesamaan (dengan yang lain).” Contoh dari titik temu antara Islam, Kristen dan Yahudi tertera pada Ten Commandments, 10 perintah Allah kepada Musa as., atau juga perihal pelaksanaan ibadah yang didahului dengan menyucikan diri.

Pada saat menyampaikan ajaran agama kepada jamaah, dianjurkan bagi para pendakwah secara teknis untuk: berhati-hati dalam memberikan penjelasan; berhati-hati dalam memberikan pencerahan; jangan menyinggung pihak lain; menunjukkan persamaan/titik temu. Poin utama dari materi ini adalah agar ‘Semua tokoh umat beragama belajar dari sejarah di masa lampau untuk menghindari konflik kemanusiaan. Upaya yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan berdakwah secara bijaksana/wisdom.’ Dakwah yang bijaksana hanya dapat terwujud apabila mengandung unsur: tidak menciderai perasaan orang lain; tidak membuat pernyataan yang membuat orang lain merasa rendah diri/inferior; tidak memberikan pandangan yang sulit diterima; dan materi dakwah tidak mengandung unsur penghinaan kepada siapapun. Jika telah demikian, tak ada pihak yang memonopoli kebenaran. Kita semua memiliki kebenaran yang kita pegang dan jalankan masing-masing. Semuanya menyadari, kebenaran sejati hanya milik-Nya, sehingga bersama-sama dapat menghindari dan meminimalisir terjadinya konflik. Karena perbedaan adalah keniscayaan, maka kebenaran yang berbeda juga menjadi keniscayaan. Lantas, jika kita masih ingin memonopoli kebenaran, apakah kita sedang menyaingi Tuhan?(IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://youtu.be/bYftR4sTK1U?si=G8agdtpdbD4BgYty .   

Nonton juga

C
Interaksi Islam VS Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani)

Interaksi Islam VS Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani)

Bagaimana seharusnya umat Islam berinteraksi ...
Apa dan Mengapa Islam Wasatiyya?

Apa dan Mengapa Islam Wasatiyya?

Belakangan ini Islam Wasatiyya mendapat ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...