Wasiat dan Pesan Terakhir Nabi Muhammad SAW di Padang Arafah
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Di padang Arafah, Rasulullah SAW memberikan khutbah yang sangat penting. Inilah khutbah terakhir beliau di hadapan sejumlah besar umat pada haji pertama sekaligus haji terakhir Rasulullah SAW. Simak penjelasan Prof. Dr. Alwi Shihab pada episode ke-20 di Podcast Alwi Shihab berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 20
Menghayati Wasiat Terakhir Nabi Muhammad saw.
Haji merupakan salah satu pilar penting dalam Islam (setelah syahadat, solat, zakat dan puasa). Haji merupakan ibadah yang cukup berat. Oleh karena itu tidak diwajibakn bagi setiap orang kecuali bagi yang mereka siap secara finansial dan sehat fisik. Haji sangat erat hubungannya dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Alquran banyak sekali mengisahkan kisah para nabi untuk dijadikan pelajaran dan diikuti oleh para umat manusia, sebagaimana bunyi ayat:
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ
“Kami (Tuhan) memberikan kepada kamu kisah rasul-rasul untuk memantapkan jiwamu,” (QS. Hud: 120). Ayat ini tidak saja ditujukan pada Nabi Muhammad saw., tetapi juga kepada umat manusia semua. Maksud dari ayat ini adalah, mendengar cerita dari kisah para nabi dan rasul terdahulu yang penuh dengan pengorbanan, kesabaran, kepatuhan, maka hendaknya kisah-kisah itu dapat menjadi pedoman hidup, khususnya bagi Nabi Muhammad saw. ; yang pada waktu itu menghadapi cemoohan, serang fisik dengan pelemparan batu kepadanya hingga giginya tanggal, hinaan, dan hal lainnya yang membuat Nabi saw. terganggu. Jadi, kisah-kisah para nabi adalah penguat dan peneguh jiwa.
Bagi orang-orang Muslim, orang-orang yang percaya kepada Tuhan YME, ini merupakan mauidah (anjuran, nasihat, anjuran, juga peringatan). Sehingga, jika berbicara tentang haji, maka juga membicarakan sejarah Nabi Ibrahim, Ibu Hajar dan Nabi Ismail yang penuh pengorbanan. Disebutkan dalam Alquran:
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ
“Ibadah haji merupakan rangkaian ibadah yang ditetapkan beberapa bulan, barang siapa yang menyiapkan haji dan menjadi bagian dari penunaiaan ibadah haji, maka ingatlah bahwa orang-orang yang menunaikan haji itu tidak boleh melakukan hal tiga ini, yakni berhubungan suami-istri, semua bentuk maksiat/dosa juga harus ditinggalkan, dan jangan sampai pula ada pertengkaran (karena pertengkaran ini akan membawa pada hal yang menciderai haji itu sendiri, karena sesungguhnya Allah Swt. mengetahui perbuatan-perbuatan baik dari mereka yang menunaikan haji” (QS. Al-Baqarah: 197).
Maksud dari ayat ini adalah, orang bisa berniat haji pada masa yang ditentukan, sudah dimaklumkan. Karena sebelum datangnya Nabi saw. membawa ajaran Islam di jazirah Arab, musim pada bulan haji itu juga sudah dikenal oleh orang-orang. Jadi, musim haji adalah bulan Syawal, begitu selesai bulan puasa, Dzulqaidah sampai dengan tanggal 10 Dzulhijjah, dimana tanggal 10 Dzulhijjah ini adalah waktu lebaran Idul Adha. Momen lebaran Idul Adha ini adalah satu hari setelah mereka yang menunaikan ibadah haji berada di padang Arafah.
Orang yang berhaji syarat utamanya adalah ia harus berada di padang Arafah. Lokasi padang Arafah tidak jauh dari Makkah. Pada satu hari sebelum lebaran Idul Adha, Nabi Muhammad saw. berkata, “Al-hajj ‘arafah,” yang berarti haji itu tidak sah jika tidak dilakukan dengan singgah di padang Arafah. Patut juga untuk diingat, bahwa di padanga Arafah, Nabi Muhammad saw. memberikan khutbah yang sangat penting dan khutbah terakhir di hadapan jumlah umat Islam yang sangat besar. Nabi Muhammad saw. memulai khutbah perpisahannya ini (Khutbah al-wada’) dengan mengatakan,
“Ingat baik-baik wahai umat Islam, dan dengarkan apa ucapanku, karena belum tentu tahun depan kita akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk bertatap muka. Mungkin saya nanti tidak akan bertemu lagi dengan kalian umat Islam, maka ingat bahwa jiwamu, hartamu, adalah sakral, suci. Jangan sampai ada di antara kalian yang mencederai, menggangu jiwa dan harta muslim yang lain. Karena pada dasarnya, umat Islam adalah bersaudara, dan umat Islam diwajibkan untuk berbuat baik kepada sesama. Hari ini adalah hari yang seharusnya kita memaafkan, dan saya memberi contoh bahwa ada di antara keluarga saya, keluarga Harits bin Abdul Muthallib, yakni putra dari Rabi’ah bin Al-Harits, yang dibunuh oleh Bani sa’d dan Hudzail, saya maafkan hari ini. Dan saya minta agar semuanya yang masih mempunyai hubungan yang sifatnya berjarak, saya minta hari ini adalah hari pengampunan, hari maaf-memaafkan, jangan sampai ada tuntutan-tuntutan yang belum terselesaikan hadir kembali. Hari ini adalah hari diselesaikannya semua itu. Mereka yang selama ini memberikan rente/riba, hendaknya dikembalikan dan jangan sampai ada di antara kalian yang menganiaya saudaranya. Baik-baiklah terhadap wanita, istrimu, anak perempuanmu. Khususnya kepada istri, karena engkau telah menikah dengan amanat Allah kepada kamu. Dan engkau telah dapat menggauli secara sah dengan istrimu disebabkan karena adanya kalimat-kalimat Allah (akad nikah). Jangan sampai menelantarkan mereka! (karena dalam tradisi jahiliyah, sebelum Nabi saw. datang, tidak menghormati wanita, bahkan ada di antara mereka yang membunuh bayi perempuan karena khawatir akan kemiskinan). Saya pada hari ini menyatakan bahwa saya telah meninggalkan dua hal bagi kalian semuanya, apabila kalian konsisten , kalian berpegang teguh pada kedua ini, maka niscaya kalian tidak akan sesat dalam kehidupan, yakni Alquran dan Hadis Nabi saw.” (HR. Muslim)
Dari pesan Nabi saw. ini, kita semua hendaknya berpegang teguh pada nilai-nilai Islam untuk menghormati orang lain dan tidak mencederai orang lain, baik itu orang Islam maupun umat agama lain, karena Nabi saw. berkata sebagaimana firman Allah Swt.:
وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَۙ
“(Manusia ini senantiasa selalu dalam keadaan berbeda satu dengan yang lainnya,) tapi jangan sampai perbedaan itu menimbulkan perselisihan (apalagi pembunuhan),” (QS. Hud: 118). Larangan berselisih ini harus sungguh dilakukan, karena Allah Swt. menegaskan, “Kapada Allah kalian akan kembali dan Allah akan menyampaikan di antara kalian siapa yang benar dan salah,” (QS. Al-Maidah: 48). Sehingga, tidak perlu di antara kita saling menuding kelompok lain sesat, kafir, masuk neraka, karena itu adalah hak prerogatif Tuhan.
Adapun yang terjadi saat ini, keprihatinan yang terjadi pada umat Islam adalah karena adanya perselisihan yang seakan-akan tidak ada ujung pangkalnya. Dan perselisihan ini harusnya tidak perlu ada, karena Nabi saw. telah memesankan dua hal yang dapat dijadikan pegangan umat manusia, Alquran dan Hadis. Dan kita semua dapat melihat hal-hal baik dalam kehidupan Nabi saw., khususnya tentang toleransi dan saling menghormati. Jangan sampai apa yang diperselisihkan disebabkan oleh penafsiran-penafsiran belaka. Mari kembali kepada Alquran dan hadis. Pada dua hal ini, kita akan mudah sekali menemukan anjuran-anjuran, ketetapan-ketetapan, yang jauh berbeda dari apa yang kita alami. Semua mazhab yang ada itu lahir dari sejarah, bukan lahir dari Alquran dan Hadis. Apabila kita ingin kembali pada Alquran dan Hadis, maka semua kelompok yang merasa dirinya benar, itu tidak ada di zaman Nabi saw. Untuk itu, mari bersama-sama mencari titik temu di antara kita agar kita dapat mengurangi ketegangan, dan hal-hal yang mencederai diri kita dan masyarakat. Khususnya di Indonesia, mari bersama membangun negara ini, membangun kesejahteraan bangsa ini, dan jangan sampai ego kita mendikte kita untuk mempersalahkan kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan kita. Nabi saw. sudah menetapkan bahwa siapa yang kiblatnya Kakbah dari umat Islam, maka dia akan selamat; barang siapa yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka dia akan selamat; barang siapa yang berbuat baik, maka akan Allah beri ganjaran yang berlipat.
Semua paparan ini hendaknya membawa kita pada pemahaman dan penghayatan, bahwa suasana haji atau 10 hari terakhir dalam rangkaian ibadah haji merupakan hari-hari yang berharga bagi kita semua. Semoga kita semua senantiasa meningkatkan: ibadah: memaafkan mereka yang telah menyakiti, mengganggu; mengikuti apa yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, Ibu Hajar dan Nabi Ismail tentang kesabaran, kepatuhan kepada Allah Swt., dan juga ikhtiarnya untuk mencapai rida Allah Swt. (IL/AKR)
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=WqarkMdF5js&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=94.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments