Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

“Apakah sekarang ini ada kitab umat Yahudi dan Nasrani yang asli dari Tuhan? Jika masih ada atau sudah ditemukan, kenapa Yahudi dan Nasrani itu tidak menjadi Muslim? Bukankah ajaran asli mereka sama-sama bertauhid yang itu artinya otomatis mereka adalah beragama Islam. Karena satu-satunya agama yang diakui oleh Allah adalah Islam.”

Refleksi Podcast Episode 65
C

Kitab Suci Sebelum Turunnya Alquran: Orisinalitas dan Status Pemeluk Kitab Suci

Agama Yahudi, Kristen dan Islam dikenal sebagai agama Abrahamik. Dimana para penganutnya mengakui bahwa Nabi Ibrahim atau Abraham adalah Bapak dari orang-orang beriman. Baik umat Yahudi, Kristen dan Islam, masing-masing dari kelompok agama tersebut memiliki kitab suci yang berasal dari wahyu Tuhan melalui para pembawa firman. Rentang waktu yang tidak bebarengan menimbulkan spekulasi tentang orisinalitas dan masa berlaku dari dua kitab suci sebelumnya. Benang merah perihal ketauhidan dalam ketiga agama ini juga menambah spekulasi tersendiri, yakni, apakah pemeluk agama-agama tersebut sejatinya adalah pemeluk Islam? Bagaimana status mereka di masa setelah pengutusan Nabi Muhammad saw.? Mengingat posisi Alquran sendiri sebagai pelengkap dari kitab-kitab suci yang ada sebelumnya dan Nabi Muhammad saw. adalah khatamul anbiyaa.

Alwi Shihab merespon pertanyaan ini dengan menjelaskan, bahwasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan sesuatu yang juga telah dibahas oleh banyak cendekiawan dan ulama. Perihal orisinalitas kitab suci sebelum Alquran, Alwi mengatakan, “Saya kira yang ada sekarang ini adalah kumpulan daripada ajaran-ajaran yang ada di dalam Taurat dan ada di dalam Injil. Kalau kita melihat inti daripada ajaran kedua agama ini adalah perintah Ten Commandments itu semuanya bisa kita lihat di dalam ayat-ayat Alquran. Bahwa aslinya yang mana atau tidak, itu hanya Tuhan yang tahu, tetapi apa yang kita harapkan dari mereka (orang Yahudi dan Kristen) adalah kita bersama-sama mempercayai kitab kita masing-masing bahwa ada di antara kitab yang lalu umpamanya (terdapat) perubahan-perubahan, itu kita serahkan kepada Tuhan, karena Tuhan sendiri waktu menurunkan ayat tadi yang bahwa ada di antara orang Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in itu yang beriman kepada Tuhan dan beriman kepada hari kemudian dan beramal shaleh, mereka tidak khawatir.”

Alwi Shihab mengarahkan kita semua untuk tidak berkutat pada pertanyaan orisinalitas kitab-kitab terdahulu di masa sekarang, yang acap menimbulkan perdebatan dan permusuhan. Temuan-temuan para ilmuan tentang hal ini merupakan khazanah keilmuan, bukan lantas digunakan untuk menyalahkan atau menyerang kelompok lain dan mengklaim kebenaran hanya milik kelompok sendiri. Alwi Shihab membimbing kita untuk menekankan pada titik temu yang memungkinkan di antara kelompok-kelompok agama ini, seperti tentang ten commandments dalam Taurat yang juga terdapat dalam Injil dan Alquran. Sesama yang berbeda harus berinteraksi dalam titik temu yang ada, bukan mempermasalahkan perbedaan yang sejatinya kita semua tidak benar-benar mengetahui kebenarannya. Selanjutnya, Alwi Shihab mendudukkan kita agar menjadi umat beragama yang memegang teguh ajaran yang diimani oleh masing-masing pemeluk agama. Perihal apakah agama terdahulu sudah kadaluarsa atau tidak dengan kehadiran ajaran Nabi Muhammad saw., Alwi menjawab dengan mengutip terjemahan dari QS. Al-Baqarah, 62:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ۝٦٢

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari Akhir serta melakukan kebajikan (pasti) mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati.”

Kutipan tersebut secara lugas menegaskan status dari para pemeluk ajaran kitab suci sebelumnya, tidak saja Yahudi dan Nasrani, namun kitab suci lainnya yang juga telah ada sebelum Alquran. Para pengikutnya yang masih mengikuti ajaran kitab suci untuk beriman kepada Allah dan hari akhir, serta melakukan kebajikan, maka mereka mendapat pahala dari Yang Kuasa; dan mereka tidak akan merasakan kekhawatiran atas apa pun. Alwi Shihab meringkaskan, dengan kata lain, bahwa ada diantara kelompok-kelompok Ahlul Kitab ini yang selamat. Perihal siapa di antara mereka maupun di antara kita yang selamat, bukan kita atau mereka yang mengetahuinya, melainkan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan dekrit yang Allah Swt. sampaikan dalam QS. Al-Maidah, 48:

…وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ ۝٤٨

“…Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan.”

Secara tidak langsung, Alwi Shihab ingin kita tidak memonopoli kebenaran yang menjadi hak prerogatif Tuhan dalam menetapkannya. Ya, bukan saya, kamu, mereka yang dapat mengetahui mana yang paling benar di antara kita. Menentukan mana yang benar dan tidak atas apa-apa yang manusia perselisihkan adalah hak Yang Kuasa. Sehingga, tugas kita bukanlah mencari-cari mana yang benar dan salah, namun menjalani apa yang kita yakini benar dengan baik tanpa mengusik apa yang dianggap benar oleh orang lain.

Alwi Shihab mengutarakan realita, bahwa tentu ada saja penafsiran-penafsiran yang memiliki pandangan bahwa mereka yang tidak mengikuti yang asli maka mereka sesat. Akan tetapi, yang perlu diketahui, ini adalah pandangan ulama. Dan memang, di dalam Alquran disebutkan, ada dari ahlul kitab yang tidak mengindahkan perintah-perintah Tuhan. Bagaimana dan apa perintah-perintah Tuhan yang dimaksud dalam teks tersebut, tentu hanya Allah Swt. yang mengetahuinya. Oleh karena itu, hal ini tidak dapat kita generalisasi pada semua ahlul kitab.

Alwi Shihab memberikan pelajaran penting atas isu ini: pertama, sesama umat beragama, kita semua tidak perlu mencari hal-hal yang bisa menjadikan hubungan antar kita menjadi tidak harmonis. Sebagaimana QS. Al-Kafirun, 6:

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ ۝٦

Agama kamu untuk kamu, agamaku untukku.”

Dengan makna lain, kita harus mempersilahkan orang lain percaya pada agama yang mereka yakini dan tidak perlu mengusiknya, karena akan membuat hubungan menjadi tidak harmonis. Hal ini dikuatkan oleh QS. Saba, 25:

قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ۝٢٥

Ayat Alquran ini berarti “Kamu tidak akan bertanggung jawab atas apa yang kami lakukan (umat Islam), kami juga tidak bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan.” Atas dalik-dalil ini, maka dianjurkan bagi kita yang berbeda-beda ini untuk menjalankan apa-apa yang masing-masing dari kita yakini.

Kedua, sesama umat beragama seyogyanya mengikuti anjuran Allah untuk fastabiq al-khairaat, yakni berlomba-lomba kepada kebajikan, dan hal lainnya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Hal penting dalam berlomba-lomba kepada kebajikan terhadap umat manusia yang beragam agamanya ini adalah “Jangan (saling) Memaki!” Sebagaimana QS. Al-An’am, 108:

لَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ…

“Jangan kamu memaki kelompok yang tidak mematuhi Tuhan, yang menganggap Tuhannya itu bukan Allah.” Ya, siapapun tidak boleh memaki, tidak boleh menganggap mereka sesat. Itu adalah hak prerogatif Tuhan.

Berdasarkan hal-hal penting ini, dalam berinteraksi dengan kelompok Yahudi dan Nasrani, Alwi Shihab mengungkap, bahwa tokoh-tokoh hubungan antar umat beragama itu selalu menasehati kita semua untuk “Jangan masuk ke dalam lingkup teologi, ushuluddiin. Jangan! Karena kalau masuk pada ruang lingkup tersebut, ruang itu adalah ranahnya hati, iman, dan tidak bisa dirasionalisasi atau difikirkan bagaimana jalan keluarnya. Itu adalah keimanan yang hanya diketahui oleh manusia sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa.” Menutup paparannya, Alwi Shihab memberi pencerahan agar kita semua tidak perlu mencari-cari mana yang benar dan mana yang salah di antara apa-apa yang diajarkan dalam agama kita masing-masing; masing-masing dari umat beragama, khususnya umat Islam agar senantiasa memperbaiki diri (dari ilmu dan juga amal); dalam berhubungan dengan umat agama yang berbeda, umat Islam dianjurkan untuk berhubungan baik dengan mereka semua selama mereka tidak memerangi dan mengusir kita dari negeri kita. Hal ini didasarkan pada perintah Alquran agar kita senantiasa berlaku baik dan adil kepada mereka yang berbeda agama dengan kita.

Pertanyaan yang mengganggu pikiran sudah terjawabkan. Langkah-langkah yang harus dilakukan sudah diberikan. Kebahagiaan, perdamaian, kedamaian dan keselamatan sudah dijanjikan. Masihkah kita mengusik dan mencampuri urusan liyan? (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=NErXlP3-RZI&list=PLWuE9NE-a3Bg3JdQtJ-GmoLls-axhwkaV&index=47 dengan judul “Apakah Taurat Masih Ada?”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...