Bagaimana Sikap Kita Jika Ada yang Mengatakan Semua Agama Sama?
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bagaimana sikap kita jika ada yang mengatakan semua agama sama, menuju yang sama namun caranya berbeda-beda. Apakah perlu bertoleransi dengan mereka, atau kita teguh pendirian saja terhadap apa yang kita yakini?
Refleksi Podcast Episode 66
Apakah Paham ‘Semua Agama Sama’ adalah Bagian dari Toleransi?
Narasi keagamaan perihal kehidupan antar umat beragama yang penuh dengan sikap toleransi terkadang melahirkan kebingungan bagi masyarakat awam, seperti tentang pemahaman bahwa ‘Semua Agama Sama.’ Pemahaman ini di satu sisi memiliki dampak positif, yakni lahirnya sikap terbuka dan toleran antar umat beragama. Namun, di sisi lainnya, pemahaman ini membuat masyarakat awam mengalami krisis identitas. Alih-alih kuat dalam menjalani apa yang diyakini, umat beragama yang kurang tepat dalam memaknai paham tersebut justru mencapur-adukkan apa-apa yang terdapat dalam banyak agama menjadi satu; sehingga menimbulkan banyak perdebatan di masyarakat. Lantas, bagaimana cara memahami paham ‘Semua Agama Sama’ dalam berinteraksi antar umat beragama tanpa mengusik pengamalan dan pengalaman atas keyakinan masing-masing?
Alwi Shihab merespon pertanyaan ini dengan mengatakan, “Sebenarnya jawabannya yang tadi itu, bahwa kita tidak mengatakan semua agama itu sama, semua agama itu sama dari segi apa? Semua agama itu sama dalam mendidik masyarakatnya untuk menuju kebaikan. Jadi tidak kita bicara soal teologi, semua agama itu sama di Indonesia ini di dalam memegang teguh Pancasila, semua agama memegang teguh Pancasila. Semua agama itu sama dalam pengertian bahwa semua agama mengajarkan kita untuk tidak saling cekcok, tetapi kita tidak mengatakan semua itu perinsipnya sama, ushuluddinnya, perinsip-perinsip agamanya sama, tidak! Hanya ke tujuan yang sama, semua itu kan menuju apa namanya, menuju Yang Maha Esa.”
Berdasarkan penjelasan Alwi Shihab, paham ‘Semua Agama Sama’ itu tidak sepenuhnya salah, dan tidak sepenuhnya benar, tergantung dari perspektif apa paham tersebut diaplikasikan dalam kehidupan bersama. Pertama, paham ‘Semua Agama Sama’ itu tidak berlaku dalam aspek teologi, ushuluddin, atau prinsip dalam masing-masing agama. Karena, dari perspektif ini, tentu antara satu dan lainnya, masing-masing agama memiliki kekhususannya yang membuatnya berbeda dengan prinsip agama lainnya. Ruang ini adalah ruang privat yang menjadi hak masing-masing individu dan tidak bisa diintervensi oleh siapapun. Setiap orang dapat dengan bebas mengekspresikan apa-apa yang dia yakini sesuai dengan ajaran agamanya tanpa harus diusik dan mengusik apa-apa yang juga diyakini liyan.
Kedua, paham ‘Semua Agama Sama’ itu bisa diberlakukan dalam relasi publik. Dimana selain menjadi insan yang memiliki ruang privat secara individu, insan beragama juga perlu mencari titik-titik temu secara sosial yang dapat membuat relasi antar umat beragama dapat harmonis tanpa mengganggu gugat hak privat masing-masing. Teologi tidak dapat diganggu gugat. Namun dalam hal-hal sosial, semua umat beragama dapat saling berkontribusi dan bekerja sama dalam ruang yang sama. Alwi Shihab mencontohkan, dalam ruang Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari masyarakat dengan beragam latar belakang agama, kita semua memiliki pedoman yang sama dalam bernegara dan berbangsa, yakni Pancasila. Oleh karena itu, pedoman bersama ini harus senantiasa diwujudkan agar tidak ada hak-hak privat (beragama) yang terciderai. Contoh lainnya, persamaan antar umat beragama juga dapat dilihat dari tujuan semua agama yang ada di dunia ini, yakni untuk mendidik pemeluknya untuk menjadi diri dengan citra dan pesona yang baik, tidak saling memusuhi liyan. Dengan kata lain, semua agama sama dalam menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan sebagai sesama makhluk Tuhan yang semuanya menuju dan akan kembali pada-Nya dengan jalan yang berbeda-beda.
Mengapa akan kembali pada-Nya? Alwi Shihab menjelaskan, “Semuanya kalau ditanya, kamu kalau mati, tanya ahlul kitab! Semuanya mengatakan akan kembali kepada Tuhan. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Tetapi tidak bisa kita samakan, (antara) kami (kelompok) Muslim sama kelompok Kristiani atau kelompok Yahudi. (Mereka) Dia memiliki jalan sendiri, kita juga mempunyai jalan sendiri. Kita mempunyai keyakinan sendiri, (mereka) dia mempunyai keyakinan sendiri. Tidak bisa dikatakan bahwa (agama kita semua) sama, tapi dalam hal-hal tertentu itu jelas bisa kita kenali (titik persamaannya).”
Penjelasan Alwi Shihab ini mengajarkan kita untuk bijak dalam merespon segala sesuatu, khususnya dalam paham “Semua Agama Sama.’ Apabila ada yang mengatakan demikian, kita tidak perlu menolak keras atau menelan mentah-mentah. Kita harus pahami maksudnya, menganalisa dan membaca ulang dengan seksama. Agar pemahaman yang kita miliki tidak menimbulkan perdebatan antar umat beragama, dan juga tidak membuat diri kebingungan dalam menyikapinya. (IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=xYVI0HNhcJ0&list=PLWuE9NE-a3Bg3JdQtJ-GmoLls-axhwkaV&index=46 dengan judul “Bagaimana Sikap Kita Jika Ada yang Mengatakan Semua Agama Sama?”
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments