Bagaimana Bisa Istiqomah Berdakwah di Negara Barat?

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Bagaimana bisa memantabkan diri istiqomah berdakwah di negara barat? Simak pesan Prof. Alwi Shihab kepada umat Islam di negara barat berikut ini.

#PodcastAlwiShihab episode ke-67 ini merupakan rekaman tanya jawab pada acara webinar “Diplomasi dari Santri Menjadi Menteri” oleh Istiqlal Toronto.

Refleksi Podcast Episode 67
C

Akhlak Karimah (Keteladanan) sebagai Corak Dakwah Islam di Negara-negara Barat

Sejarah antar umat beragama yang pernah terjadi di masa lampau masih menyisakan trauma dan stigma yang melekat di dalam benak masing-masing kelompok. Masih ada ketakutan bagi sebagian orang Barat untuk sekedar berkunjung ke negara-negara Islam di Semenanjung Arab (juga negara Islam lainnya), atau juga sekedar berinteraksi dengan orang-orang Islam. Demikian pula yang terjadi sebaliknya, masih ada orang Islam yang antipati terhadap orang dan negara Barat. Trauma sejarah yang membentuk stigma, juga tindakan intoleransi kelompok agama garis keras, membuat relasi antar umat beragama semakin berjarak, bahkan mempengaruhi kebijakan di beberapa wilayah negara tertentu perihal penggunaan atribut keagamaan.

Phobia atas nama agama menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Khususnya di era saat ini, islamphobia merupakan fenomena yang masih terjadi bagi sebagian orang Barat saat melihat, mendengar dan memikirkan tentang kelompok umat Islam. Akan tetapi, hal ini tidak membuat para pendakwah kehabisan semangat untuk tetap dapat menunjukkan wajah Islam yang rahmatan kepada dunia. Lantas, adakah cara khusus yang dapat dilakukan oleh umat Islam yang ingin senantiasa konsisten berdakwah di negara-negara Barat dalam kondisi tersebut?

Alwi Shihab merespon pertanyaan ini dengan menjelaskan, bahwa apa yang dibutuhkan umat Islam yang tinggal di negara Barat dengan segala macam keadaan yang tidak menyenangkan bagi mereka dikarenakan adanya islamphobia (Islam sebagai agama, dianggap sebagai agama yang keras; agama yang tidak menghargai hak-hak asasi manusia dan sebagainya) adalah dengan berdakwah melalui keteladanan. Alwi Shihab kemudian memaparkan bagian dari otobiografinya sebagai seorang Muslim yang pernah hidup di Philadelphia. Ia tinggal di sana untuk kurun waktu tertentu bersama keluarganya (anak-anak dan istrinya). Tempat tinggal mereka berdampingan dengan tetangga yang beragama Yahudi. Mereka berhubungan dengan baik sebagai tetangga. Keluarga Alwi Shihab selalu menyapa tetangganya ini, contohnya seperti memberi ucapan “good morning.” Ketika musim dingin hingga bersalju menyelimuti daerah tempat tinggal mereka, Alwi Shihab meminta anaknya yang saat itu masih berusia Sekolah Dasar (sekitar 3 dekade yang lalu) untuk sekalian membersihkan salju di area depan rumah tetangga Yahudinya ini.

Apabila hubungan yang terjalin sebelumnya hanya sekedar sapaan sederhana sebagai protokoler etiket bertetangga (good moorning, evening) saja, namun setelah kejadian itu, relasi yang terjalin bisa lebih dari itu. Membayar orang yang membersihkan salju di negara tersebut merupakan sesuatu yang lumrah, sehingga membuat tetangga Yahudi ini juga ingin membayar sang anak. Akan tetapi, sang anak memegang apa yang ditanamkan oleh sang ayah, Alwi Shihab, bahwa di tempat tersebut, mereka harus berbuat baik kepada tetangga. Karena, berbuat baik kepada tetangga merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang mereka yakini. Makusdnya, sang anak melakukan hal tersebut bukan karena untuk mencari uang, melainkan untuk membantu tetangga Yahudinya yang sudah lansia.

Melihat hal ini, tetangga Yahudi ini merasa bahwa ini adalah suatu hal yang tidak wajar, aneh; karena, mereka tidak pernah melihat hal ini terjadi di tempat lain. Kemudian, tetangga Yahudi ini bertanya tentang asal negara dan agama yang menjadi identitas Alwi Shihab dan keluarga. Alwi Shihab menjawab bahwa ia berasal dari Indonesia dan beragama Islam. Mengetahui jawaban ini, seketika tetangga Yahudi tersebut berkata, “Tapi, kebaikan ini pasti bukan dari Islam, tapi ini dari Indonesia.” Menurut Alwi, secara tidak langsung, tetangga Yahudi ini sudah membedakan antara Islam yang dibenaknya (yang tidak friendly, keras, kasar, anti Yahudi dan sebagainya) dan Indonesia yang notabenenya mungkin belum sama sekali ia ketahui, namun ia sudah bisa memilahnya berdasarkan perspektif pribadinya.

Pada momen tersebut, Alwi Shihab memiliki kesempatan untuk menjelaskan, bahwa apa yang anaknya lakukan itu sebenarnya merupakan bagian dari ajaran Islam. Dalam bertetangga, Islam mengajarkan untuk senantiasa menghargai tetangga, membantu orang tua, dan lainnya. Atas penjelasan ini, Alwi Shihab dapat memastikan, bahwa tanpa sadar tetangga Yahudinya itu telah masuk pada pandangan (perspektif) yang positif terhadap Islam. Alwi Shihab menambahkan, apabila umat Islam bisa melakukan seperti halnya dalam kisah tersebut pada skala yang lebih besar (di dalam komunitas yang lebih besar) dengan menonjolkan keteladanan-keteladan akhlak Islam, maka in sya Allah mereka akan berubah menjadi lebih baik. Islamphobia dapat tergerus dengan sendirinya, dan relasi antar umat beragama di negara Barat pun dapat harmonis seperti harapan bersama.

Alwi Shihab melihat fenomena islamphobia dapat terjadi karena banyak sebab. Salah satunya karena pada dasarnya, masyarakat Eropa maupun Amerika banyak dipengaruhi oleh FOX, CNN dan media lainnya yang hanya ingin menonjolkan hal-hal yang spektakuler dari apa yang terjadi di dunia Islam. Media-media tersebut menonjolkan ISIS, Alqaeda, dan serupanya yang membuat islamphobia menjadi sesuatu yang dialami oleh masyarakat di negara-negara Barat tersebut. Atas dasar ini, Alwi Shihab memberikan keyword “keteladanan, contoh akhlak Islam, akhlak karimah” dalam mendakwahkan ajaran Islam sekaligus menjadi life style umat Islam di manapun berada.

Paparan Alwi Shihab ini memberi beberapa poin penting yang dapat kita teladani sebagai umat Islam, di manapun kita tinggal; karena, phobia terhadap agama tertentu bisa saja terjadi tidak hanya di negara Barat, tetapi di manapun tempatnya (terlebih Indonesia dengan kemajemukan masyarakatnya). Poin penting tersebut adalah: pertama tentu menjadikan budi pekerti, akhlak karimah, sebagai gaya hidup. Kedua, peran orang tua sebagai sekolah pertama anak-anaknya dalam menanamkan ajaran agama yang rahmatan dan membentuk semua anggota keluarga menjadi agen perdamaian dalam ruang-ruang yang dimiliki. Ketiga, berusaha menjadi umat beragama yang fleksibel dalam melihat keadaan dimana kita tinggal; memahami kondisi sosial-agama-kebudayaan yang melingkupi tempat tersebut; memahami phobia yang umat lain alami sebagai ruang untuk mendakwahkan ajaran Islam, bukan sebagai ajang memusuhi dan menyalahkan. Tidak saja hafal secara teks, namun kita juga bisa menghidupkan teks-teks sakral yang kita miliki tersebut dalam konteks hidup yang penuh warna-warni kehidupan. (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=T2nF4BB2oLU&list=PLWuE9NE-a3Bg3JdQtJ-GmoLls-axhwkaV&index=45 dengan judul “Bagaimana Bisa Istiqomah Berdakwah di Negara Barat?”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...