Ketika Ulama Mengadopsi Pandangan yang Seakan Absolut, dan Mazhab Lain Keliru
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bagaimana sebenarnya umat Islam berespon terhadap perbedaan mazhab? Banyak yang saling mengkafirkan, menuduh sesat. Apa penyebab konflik dan bagaimana solusi agar toleransi dalam Islam semakin tumbuh, sehingga Islam dapat bersatu dan menjadi semakin kuat? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Prof. Dr. H. Alwi Shihab di Podcast Alwi Shihab episode ke-54 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 54
Perpecahan Umat Islam: Ketika Agama Digunakan Sebagai Alat Politik
Fenomena yang terjadi di masyarakat, mewujudkan sebuah persatuan umat nyatanya bukan hal yang mudah. Bahkan, banyak hal yang dapat mengakibatkan persatuan itu justru semakin luntur. Dalam kelompok agama yang sama dengan beragam kelompok aliran yang berbeda, sering kali ditemukan antar kelompok aliran tersebut saling melabeli label sesat, kafir, tidak selamat. Kondisi ini tentunya menjadi keresahan banyak umat Islam dimana pun berada. Lantas, bagaimana umat Islam akan menjadi umat yang kuat dan bersatu jika di antara sesamanya sangat rendah tingkat toleransinya?
Alwi Shihab menyampaikan, terdapat sebuah kekeliruan dalam fenomena tersebut, yakni saat para tokoh dari aliran-aliran tersebut/ulamanya mengadopsi pandangan-pandangan yang seakan-akan tidak bisa berubah. Mereka menganggap bahwa pandangannya itu absolut. Jika mereka memiliki mazhab tertentu, maka mereka menganggap bahwa mazhab lain pasti keliru. Inilah yang menjadikan adanya benih-benih permusuhan. Padahal sebenarnya, banyak sekali dari mazhab-mazhab yang telah ada itu dikendalikan oleh kepentingan politik.
Alwi Shihab memberikan sebuah contoh, saat ia menjabat sebagai Menko Kesra (Menteri Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat), ia diminta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mewakili Pemerintah menghadiri Konferensi Negara-Negara Islam. Ia duduk sebagai kepala perwakilan/delegasi bersama dengan presiden dan raja dari negara-negara lainnya. Dalam peristiwa tersebut, ia melihat secara langsung bagaimana Ahmadinejad (Presiden Iran) dan Raja Abdullah (Arab Saudi) bergandengan tangan dengan mesra. Alwi Shihab juga mengajak kita kembali pada fakta sejarah di masa Syah Iran. Pada masa itu, hubungan Syah Iran dengan negara-negara teluk (termasuk Arab Saudi) merupakan teman baik dan satu kubu. Padahal mazhab Syiah di Iran telah berlangsung selama lebih dari 1.000 tahun, dan tidak berubah sampai sekarang. Namun yang merubahnya adalah orientasi politiknya. Adapun orientasi politik belakangan ini, yakni adanya ketegangan antara Arab Saudi dan Iran, sehingga dengan sendirinya Iran dan mazhab yang besar di sana harus dianggap bukan bagian dari Islam. Mengapa demikian? Supaya umat Islam di negara lainnya menganggap bahwa mereka tidak boleh berhubungan dengan yang bukan Islam.
Politik itu berjalan dinamis, ada kalanya relasi antar dua negara itu berjalan baik, seperti saat Arab Saudi mengutus kepala intelijennya untuk bertemu dengan kepala intelijen Iran di Irak, dan Irak menjadi sebagai jembatannya. Dan Pangeran Muhammad bin Salman telah mengeluarkan pernyataan yang bersahabat dengan Iran, “Iran adalah saudara-saudara kita, kita perlu menjalin hubungan yang baik.” Dengan kata lain, jadi, kalau politiknya berubah, maka semua propaganda itu pun berubah. Contoh lain, saat Turki berhubungan dengan Mesir, orang-orang yang anti terhadap sang presiden (Abdel Fattah el-Sisi) di Mesir yang berasal dari kelompok Ikhwanul Muslimin, kelompok tersebut dibungkam di Turki. Ini terjadi karena politik berubah. Oleh karena itu, Alwi Shihab berharap agar hubungan Arab Saudi dan Iran, juga semua negara lainnya, bisa lebih erat; sehingga umat Islam tidak perlu dipilah-pilih.
Sebagai penguat, dalam Amman Message diakui bahwa mazhab-mazhab yang ada dalam agama Islam adalah bagian dari keluarga besar Islam; termasuk Syiah Zaidi dan Syiah Ja’fari. Karena semuanya bagian dari keluarga umat Islam, maka semuanya boleh melaksanakan ibadah Haji. Maka jelas, bahwa semuanya ini adalah urusan politik, bukan urusan agama. Jika itu urusan agama, pandangan yang berbeda dalam keagamaan (seperti tentang para Imam yang dianggap maksum dalam Syiah), itu bukanlah urusan akidah. Bahkan Syekh Al-Azhar pun bisa menerima ini, dari yang selama ini dianggap bahwa hal tersebut tidak bisa diterima karena ada makian terhadap sahabat Nabi saw. Perlu diketahui, pemimpin besar Iran telah menyanggah perkara tersebut, ia mengatakan bahwa tidak boleh seseorang menciderai sahabat dan istri Nabi saw. Akan tetapi, pernyataan ini tidak pernah disampaikan ke masyarakat luas. Sehingga, makian terhadap sahabat dan istri Nabi saw. tidak berhenti. Ini disebabkan karena mesin politik masih berjalan dan yang terjadi harus demikian.
Perubahan-perubahan politik yang ada di negara-negara bersangkutan sangat berpengaruh pada persatuan Islam. Hal ini akan sangat tampak dari bagaimana eratnya relasi antar pihak-pihak tersebut. Ringkasnya, politiklah yang merubah suasana dalam persatuan umat Islam. Sehingga, teman bisa jadi musuh dan musuh bisa menjadi teman.
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://youtu.be/Jnq7j9oUyXg?si=0ZiCY6Qm0nIR3sNo.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments