(Part 3) Adakah Surga bagi Orang Non-Muslim yang Baik?: Masuk Surga bukan karena Amal!

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Simak penjelasan apa maksudnya masuk surga bukan karena amal tapi karena rahmat Allah, bersama Prof. Dr. Alwi Shihab. Di episode ini beliau juga menyinggung kekurangan dalam mempresentasikan Islam, khususnya di kalangan Barat.

Refleksi Podcast Episode 19
C

Manusia Masuk Surga Karena Rahmat Tuhan

Rahmat Tuhan itu sangat luas, sehingga rahmat-Nya meliputi sejagat raya. Rahmat Tuhan senantiasa bersama para hamba-Nya yang mendekat pada-Nya. Saking luasnya rahmat dan surganya Allah Swt., apabila dianalogikan, luasnya ini jauh lebih besar daripada siksaan-Nya. Mengenai hal ini, para ulama berbeda pendapat: para ulama salaf, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, dan reformis Rasyid Ridha, menganggap bahwa rahmat Tuhan yang luas inilah yang membuat neraka bagi orang-orang yang berdosa itu akan berlaku sepanjang masa/khaalidiina fiihaa; ulama lainnya mengatakan bahwa khaalidiina fiihaa dimaknai tidak sebagai sepanjang masa, melainkan waktu yang cukup lama, lebih lama daripada masa-masa yang biasa.

Maka tidak dapat dibayangkan, Allah Swt. dengan segala rahmat-Nya akan menyiksa hamba-Nya. Kendati demikian, perlu bersama kita ingat, sebesar apapun dosa yang dimiliki hamba-Nya sepanjang waktu yang ia miliki, Allah juga membuka pintu tobat sebesar-besarmya bagi semua hamba-Nya. Sebagaimana bunyi firman-Nya:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ   اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

“Katakan wahai Muhammad, kepada hamba-hamba-Ku yang berlumuran dosa, jangan putus asa terhadap rahmat Tuhan, Allah berjanji akan mengampuni semua dosa-dosa, karena Allah sangat Maha Pengampun dan Maha Penyayang,” (QS. Al-Zumar: 53).

Dalam hadis qudsi Allah menyatakan: bahwa Ia mewajibkan pada diri-Nya untuk memberi rahmat pada hamba-Nya; “Rahmat-Ku ini lebih dulu dari murka-Ku.” Jadi, rahmat itu selalu didahulukan daripada kemarahan-Nya. Ini menandakan Allah itu Maha Pengampun, Maha Pemberi Rahmat, dan mencintai hamba-Nya yang senantiasa mendekat pada-Nya. dan pada hadis qudsi lainnya disampaikan, “Hamba yang mendekat kepada-Nya dengan perbuatan-perbuatan baik, lama-kelamaan, Tuhan mencintainya.”

Perihal ayat-ayat yang membicarakan orang Yahudi, Nasrani, dan Saabi’iin, walaupun sebagian ulama menolak ayat tersebut sebagai dasar keselamatan, tetapi tidak sedikit pula ulama yang berpandangan berbeda. Kelompok ulama yang berbeda ini menganggap bahwa Allah Swt. melalui rahmat-Nya akan memberikan keselamatan dan tidak akan menjadikan kelompok yang lurus (beriman kepada Tuhan, beriman kepada hari kemudian, beramal saleh, mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran) ini dibiarkan di hari akhirat kelak/tidak selamat. Ya, Tuhan tidak akan membiarkan dan tidak akan membuat mereka tidak selamat. Secara sederhana, ada ulama yang berpandangan bahwa selain umat Islam itu tidak akan selamat, dan ada yang berpendapat bahwa selain umat Islam memilikki kemungkinan untuk selamat (dengan indikator-indikator yang telah disebutkan). Kedua kelompok ini memiliki dasar yang menjadi penguat argumen masing-masing. Namun, perlu difahami, tidak ada satu pun dari ulama serta pemuka agama yang dapat menyatakan siapa saja yang masuk surga dan siapa saja yang tidak masuk surga (neraka). Tidak ada yang tahu kecuali Allah Swt.

Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya, “Orang masuk surga bukan karena amalnya, tetapi semuanya bertumpu pada rahmat Tuhan,” (HR. Bukhari dan Muslim). Untuk itu, tugas kita semua adalah memohon agar mendapatkan rahmat Tuhan, sehingga Tuhan akan mengingat kita dan menempatkan kita di tempat yang layak atas amal-amal kita atas rahmat Tuhan.

Apabila membincang tentang kondisi ahlulkitab masa kini, maka akan didapati data bahwa 60% (survei yang dilakukan banyak kelompok lintas iman) dari penduduk dunia Barat tidak menganggap Islam sebagai agama damai. Bagi mereka, Islam adalah agama yang mempromosikan kekerasan dan terorisme. Fenomena ini dapat kita amati saat menyaksikan televisi negara-negara Barat yang berisikan diskusi tentang agama Islam. Sangat sedikit dari mereka yang menyatakan bahwa mereka tidak menganggap bahwa agama Islam merupakan agama damai dan penuh kasih sayang. Atas dasar ini, seluruh umat Islam harus melakukan koreksi pada diri masing-masing, apakah kita semua sudah menyampaikan misi dan petunjuk Alquran kepada orang-orang Barat, agar tidak ada permusuhan dan antipati terhadap Islam dan umat Islam.

Seorang pemimpin di dunia Barat juga tidak segan untuk mengkritik dan mengecam agama Islam, terlebih lagi dengan kelahiran ISIS yang membantai banyak orang. Sebenarnya korban dari ISIS ini lebih banyak umat Islam daripada umat agama lainnya, namun karena mereka membawa nama Islam, maka orang-orang di Barat yang menyaksikan televisi itu langsung mengambil suatu kesimpulan bahwa agama Islam adalah agama yang keras. Perkataan seorang penulis dapat dibenarkan, ia berkata, “Islam adalah agama yang paling tidak dipahami, agama yang tidak dikenal, agama yang tidak diresapi oleh manusia. Ini disebabkan karena fanatisme dari satu pihak, dan kebodohan di pihak lain.” Dalam Alquran disampaikan:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“Kami (Tuhan) tidak akan menyiksa siapapun, sebelum Kami mengirimkan utusan,” (QS. Al-Isra’: 15).

Pada konteks zaman sekarang ini, rasul tidak lagi ada, maka ada al-ulamaa’ waratsah al-anbiyaa’, para ulama inilah yang menjadi kepanjangan tangan dan yang bisa bebricara atas nama Rasulullah saw. Para ulama ini bertugas pula menjelaskan Islam kepada non Muslim. Namun yang terjadi, 60% penduduk Barat tidak mendapatkan informasi yang seharusnya tentang Islam, atau juga mereka mendapatkan informasi tentang Islam tetapi telah penuh dengan distorsi.

Menurut para ulama besar (seperti Syekh Mahmud Syaltut (Grand Syekh Al-Azhar 1958-1963), Syekh Shalih bin Fauzan (Arab Saudi), dan Syekh Ahmad Ath-Thayyeb), mereka menyatakan bahwa persyaratan bagi orang-orang yang telah mendapatkan informasi tentang Islam dan tidak akan disiksa oleh Allah,hingga sampai risalah Islam padanya, adalah:

  1. Seseorang yang sudah menerima informasi tentang agama Islam. Hampir semua orang di dunia mengetahui bahwa ada agama Islam, kecuali di daerah-daerah terpencil yang memang risalah Islam belum sampai di sana.
  2. Balaghah shalihah, artinya, informasi yang diterima adalah benar dan tidak distorsif. Informasi yang benar dan telah sampai kepada orang-orang yang sudah menerima Islam. Dapat disaksikan bersama, bahwa pada umumnya orang-orang yang menerima informasi tentang Islam dan menjadikan 60% orang-orang Barat itu tidak senang dengan Islam itu tidak lain disebabkan karena mereka belum menerima informasi yang akurat dan komprehensif tentang Islam (mereka ini tentunya memiliki tempatnya sendiri, karena mereka belum menerima ajakan yang benar dari kelompok Islam).
  3. Orang yang mempunyai tingkat intelektualitas yang cukup. Mereka yang menerima Islam dan mereka itu adalah orang-orang yang memiliki intelektualitas memadai, yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
  4. Orang-orang yang sudah memenuhi tiga persyaratan di atas, harus juga meluangkan waktu untuk melakukan penelitian tentang agama Islam. Jadi, tidak saja menerima, tetapi juga meneliti. Dan membawanya pada pemahaman bahwa agama Islam adalah jalan yang benar.

Apabila seseorang memenuhi 4 syarat ini, namun ia mengingkarinya, maka ia termasuk orang yang bertanggung-jawab di hadapan Allah Swt. Pengalaman Alwi Shihab yang tinggal di Amerika selama 10 tahun, ia mengatakan bahwasanya sesungguhnya banyak orang yang tidak mengetahui apa sebenarnya Islam itu. Ia pernah mengajar tentang Islam di beberapa universitas. Pada kelas pertama, ia selalu memberikan kuisioner perihal Islam. Adapun hasilnya, pada umumnya para mahasiswa ini sungguh-sungguh tidak tahu tentang Islam. Bahkan, ada mahasiswa yang menyelesaikan course bersama Alwi Shihab, mahasiswa itu mengatakan (yang artinya), “Oh, kalau begitu, Nabi Muhammad ini tidak terlalu jelek ya.” Pernyataan ini menandakan bahwa apa yang ada di dalam benaknya selama ini itu ia menganggap Nabi Muhammad saw. adalah nabi palsu dan tidak membawa kebaikan.

Berdasarkan realita ini, juga relevansinya dengan ayat-ayat yang disebutkan di atas, Syekh Al-Azhar menganjurkan agar umat Islam tidak memvonis orang yang mendapatkan informasi yang tidak utuh untuk kemudian memasukkan mereka kepada kelompok yang ingkar kepada Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw. Alwi Shihab menganalisa, 50% dari orang Amerika itu tidak sungguh tahu mengenai Islam sebenarnya. Sesungguhnya ini adalah tugas bagi umat Islam untuk menyampaikan ajaran-ajaran Alquran kepada mereka. Kondisi ini sebenarnya juga dialami oleh Nabi Muhammad saw., keluhan beliau kepada Allah diabadikan dalam Alquran:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Berkata Rasulullah saw., wahai Tuhanku, kaumku telah berperilaku acuh tak acuh terhadap Alquran,” (QS. Al-Furqan: 30). Alwi Shihab menilai, apa yang dikeluhkan Nabi Muhammad saw. ini juga terjadi pada masa kini. Hal ini ditandai dengan banyak sekali kelompok Islam, termasuk para tokoh agamanya, yang tidak menjalankan secara konsisten apa yang diajarkan di dalam Alquran (seperti yang dilakukan oleh ISIS).

Alwi Shihab memiliki pengalaman pribadi perihal fenomena Islamphobia yang pernah terjadi di Barat. Ia bercerita, sewaktu tinggal di Amerika bersama keluarganya, anaknya yang saat itu berusia 10 tahun ingin memperlancar bahasa Inggris. Akhirnya, oleh Alwi Shihab, setap akhir pekan sang anak dikirim ke desa di daerah tempat Alwi Shihab menempuh studi. Setiap Sabtu dan Minggu, sang anak menginap di keluarga pendeta di Illinois ini. Pendeta ini memiliki anak yang seusia dengan anak Alwi Shihab. Mereka sangat akrab. Setiap akhir pekan, dua anak ini menginap secara bergantian. Setelah beranjak dewasa, anak Alwi Shihab yang telah mencapai usia 30 tahun, ia kembali mencari dan menghubungi keluarga pendeta ini. Namun siapa yang dapat menyana, sang anak tidak diterima. Hal ini disebabkan karena keluarga pendeta ini memiliki persepsi tentang orang Islam dan ajaran Islam secara keliru. Padahal sang pendeta dan istrinya sangat mengenal betul anak dari Alwi Shihab ini, bahkan juga telah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Dengan pasti Alwi Shihab masih mengingat, bagaimana sang anak ikut ke gereja setiap hari Minggu. Sang anak selalu menelepon, “Pak, saya diajak ke gereja.” Alwi Shihab merespon telepon anaknya dengan menjawab,” Enggak apa-apa, kamu tetap Islam. Ikut saja! Untuk kamu memperlancar bahasa Inggris kamu.”

Pengalaman ini dan pengalaman lainnya membuat Alwi Shihab setengah yakin, bahwa orang-orang Barat sebenarnya yang tidak simpati pada umat Islam dan ajaran Islam itu disebabkan karena umat Islam sendiri yang tidak mempresentasikan Islam secara utuh dan baik; sehingga mereka mempunyai pandangan yang negatif terhadap Islam. Bagi Alwi Shihab, mereka ini tentunya memiliki tempatnya sendiri, karena mereka belum menerima ajakan yang benar dari kelompok Islam. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah Islam yang penuh dengan kedamaian, Islam yang penuh dengan kasih sayang. Ajaran ini tidak jauh berbeda dengan apa yang disyariatkan pada Nabi Isa as. yang mengedepankan saling sayang-menyayangi. (IL/AKR)

Tulisan ini berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=cPEHy9WMsYY&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=95.

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...