Wabah Datang, Jangan Hanya Tawakal!!
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Apakah tawakal kepada Allah SWT mampu menghentikan wabah Corona? Apa yang dikatakan Nabi terkait hal ini? Simak #PodcastAlwiShihab episode ke-7 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 7
Tawakal Harus Dibarengi dengan Ikhtiar!
Manusia umumnya menyadari, dan juga para pemuka agama kerap sampaikan, “Kemana pun kita pergi, maka kematian itu akan menjemput kita.” Pernyataan ini senada dengan firman Allah Swt.:
اَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ
“Kemana saja kamu menghindari mati, maka kematian itu akan datang kepadamu, walaupun kamu berlindung di tower-tower yang tinggi,” (QS. Al-Nisa: 78). Oleh karena itu, kita tidak perlu merasa takut terhadap virus yang mewabah (seperti Corona), karena kematian itu sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Namun harus digaris bawahi bersama, kita tetap harus menggunakan nalar kita dalam menjalani kehidupan ini.
Alwi Shihab mengisahkan sebuah kisah yang dapat menjadi rujukan. Pada suatu waktu, seorang Badui mendatangi Rasulullah saw. di kemahnya. Badui itu masuk dan mengatakan bahwasanya ia ingin berbicara dengan Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw, bertanya padanya, “Dimana kamu taruh unta kamu?” Badui itu pun menjawab, “Di luar.” Rasulullah saw. kembali bertanya, “Apakah kamu sudah ikat unta itu?” Badui menjawab kembali, “Tidak, saya tawakal pada Allah Swt., saya serahkan kepada Allah. Karena, apapun yang saya lakukan itu untuk Allah Swt.” Kemudian Rasulullah saw. mengoreksi Badui ini dengan mengatakan, “Kamu ikat dulu untamu, baru kamu tawakal kepada Allah Swt.”
Kisah tersebut bisa digunakan untuk menganalogikan situasi wabah yang sedang melanda. Ya, kita percaya bahwa semua itu telah ditentukan oleh Allah Swt., ajal juga telah ditentukan oleh Allah Swt., tetapi kita harus tetap berusaha/berikhtiar sedemikian rupa agar dapat terhindar dari malapetaka. Itulah yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw. dengan mengikat unta sebagai ikhtiar manusia. Dalam situasi wabah juga demikian, kita dapat mencegah penyebaran virus dengan berikhtiar tinggal di rumah, tidak berbondong-bondong pergi ke masjid untuk salat Jumat hanya karena mau mendekatkan diri dan tawakal pada-Nya, dan tidak lupa bahwa kita harus berikhtiar. Ikhtiar merupakan anjuran jelas dari Rasulullah saw. Tidak hanya tawakal saja, manusia tetap harus berikhtiar.
Banyak contoh dalam kehidupan manusia dimana mereka hanya mengandalkan tawakal pada-Nya saja, hanya berpasrah sepenuhnya tanpa melakukan ikhtiar apapun. Yang demikian perlu kita koreksi bersama. Alwi Shihab memberikan i’tibar dari kisah dua temannya yang keduanya mengalami gagal ginjal. Satu di antaranya tidak mau meneruskan pengobatan dengan cuci darah, dan satu lainnya menggunakan akalnya serta mau mengikuti nasehat dokter untuk cuci darah. Yang pertama mengatakan, “Kalau ajal saya sampai, kapan pun saya akan meninggal.” Adapun yang terjadi kemudian padanya, ia meninggal 20 tahun lebih awal daripada yang melakukan cuci darah. Ini menandakan bahwasanya ajal seseorang memang sudah ditetapkan, namun Tuhan tahu ada ajal yang disebabkan karena hamba-Nya lalai untuk berikhtiar, dan ada juga ajal yang ditetapkan karena hamba-Nya berikhtiar. Ini juga yang menjadi salah satu faktor usia rata-rata umumnya orang Jepang lebih panjang dari umur rata-rata orang Indonesia. Tidak lain karena fasilitas medis di Jepang lebih baik, sehingga jika warganya sakit dapat segera diobati dan memperpanjang usia mereka. Yang demikian bukan berarti Tuhan lebih sayang kepada orang Jepang daripada orang Indonesia, tetapi orang Jepang menggunakan akal sehat, menggunakan hukum-hukum alam yang ditetapkan oleh Allah Swt. untuk menjadi manusia yang sehat dan panjang umur.
Penjelasan ini seyogyanya dapat membawa kita untuk kembali pada anjuran Alquran, yakni menjadi hamba yang senantiasa tafakur, melakukan riset/penelitian, senantiasa menggunakan akal sehat dan scientific research untuk kita dapat menghindarkan diri dari kematian, kesengsaraan, dan lainnya. Ujar Alwi Shihab, “Allah Swt. tentu saja senang kepada hamba-Nya yang menggunakan dua cara tersebut, tetap dekat dan takut pada-Nya, tetapi pada saat yang sama berikhtiar untuk bisa hidup dengan sehat, tentram, dan tidak terganggu oleh wabah apapun.”
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=9PYvgVm2hFU&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=107.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments