Pancasila itu Produk Thagut? Begini Penjelasan Alwi Shihab yang Sebenarnya!
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Apakah Pancasila itu produk Thagut? Begini Penjelasan Alwi Shihab yang Sebenarnya!
Refleksi Podcast Episode 103
Pancasila Bukan Produk Thaghut: Hijrah Kerangka Berpikir Bersama Alwi Shihab
Di kalangan umat Islam, terdapat banyak komunitas-komunitas pengajian yang menjadi tempat berkembangnya sebuah ideologi keagamaan dengan beragam coraknya. Terdapat pula pengajian yang memberikan pandangan-pandangan yang menarasikan bahwasanya Pancasila merupakan bandingan dari kitab suci, Aquran. Narasi demikian membentuk cara berpikir yang membenturkan Pancasila dengan sumber hukum umat Islam, sehingga Pancasila diasumsikan menyelisihi/ mengingkari Alquran. Atau dengan kata lain, Pancasila dilabeli sebagai produk thaghut. Narasi yang demikian membuat komunitas pengajian tertentu menjadi eksklusif dan memonopoli tafsir dari kitab suci. Pun pula tidak tertinggal adalah narasi ‘hijrah’ yang menjadi gagasan tidak terlewatkan dalam semangat keagamaan umat beragama kontemporer.
Merespon hal ini, Alwi Shihab memaparkan, bahwasanya setiap manusia harus menyadari bahwa perbedaan penafsiran dan pemaknaan atas teks suci mungkin saja terjadi, demikian pula saat menghubungkan dan mencari relevansinya terhadap hal-hal yang tidak tercantum dalam kitab suci. Bagi Alwi Shihab, siapapun bisa menafsirkan kitab suci sesuai pandangannya; dengan catatan, selama pandangannya itu tidak mengingkari apa yang diketahui bersama tentang ajaran agama bersangkutan. Hal inilah yang kemudian melahirkan banyaknya pandangan keagamaan, aliran pemikiran maupun kelompok keagamaan yang umum dalam banyak agama-agama di dunia; termasuk pandangan keagamaan yang menganggap bahwasanya menggunakan ideologi Pancasila dalam hidup merupakan bentuk dari sikap meninggalkan Alquran. Alwi Shihab menilai, pendangan tersebut adalah pandangan yang terlalu radikal.
Guna melihat bagaimana posisi Alquran dan Pancasila dalam satu nafas kehidupan, Alwi Shihab mengarahkan agar umat Islam: pertama, sebagai umat beragama, maka kita semua harus memposisikan Alquran sebagai sumber kehidupan; kedua, sebagai warga negara yang memerlukan ideologi negara, maka kita harus menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara bersama; ketiga, menjadikan prinsip ‘Selama nilai-nilai ideologi negara/Pancasila tidak bertentangan dengan Alquran, maka tidak ada salahnya bagi umat Islam untuk memiliki dan menaati Pancasila maupun perundang-undangan yang berlaku di sebuah negara. Hal ini seyogyanya demikian, mengingat konteks negara Indonesia adalah negara dengan bangsa yang multikultural. Demikianlah yang disepakati para pendiri bangsa dan negara, termasuk para tokoh-tokoh Islam dan agama lainnya yang terlibat dalam pembentukannya di masa tersebut. Khususnya para ulama dari kalangan agama Islam bersepakat, bahwasanya kelima sila dalam Pancasila, tidak ada satupun sila yang bertentangan dengan Alquran. Sehingga, sebagai umat Islam dan warga negara Indonesia, sudah seharusnya menerima Pancasila sebagai ideologi negara dan tidak menganggapnya sebagai produk thaghut.
Jika telah pada kesadaran tersebut, Alwi Shihab menganjurkan agar umat beragama (khususnya Islam) agar: siap untuk berbeda; siap menerima pandangan orang lain; siap tidak menganggap diri paling benar, karena tiap kelompok memiliki dalih dan dalilnya sendiri; siap bersatu pada Alquran sebagai sumber kehidupan walaupun dengan penafsiran yang berbeda, selama semuanya berpegang teguh pada tauhid, rukun iman dan rukun Islam. Jikalau ada perbedaan penafsiran, masing-masing umat Islam hendaknya tidak terlalu ekstrem dalam mengkritisi pandangan yang berbeda, yang kerap memunculkan konflik di antara sesama.
Adapun perihal narasi ‘hijrah’ yang berkembang saat ini, juga kaitannya dengan teks hadis yang berbunyi laa hijrata ba’da fath (tidak ada hijrah setelah Fath al-Makkah), Alwi Shihab terlebih dahulu memberikan penjelasan umum. Ia menjelaskan, bahwasanya dalam memahami ayat Alquran harus dimulai dengan mengetahui asbab al-nuzul atau latar belakang yang menjadi sebab turunnya Alquran. Demikian pula dalam memahami Hadis, diperlukan memulai dengan mengetahui asbab al-wurud atau latar belakang yang menjadi sebab adanya ucapan, tindakan dan ketetapan Nabi Muhammad saw. Kemudian Alwi Shihab menjelaskan, maksud dari hadis laa hijrata ba’da fath pada konteks era Nabi Muhammad saw. adalah hijrah untuk mencari tempat membesarkan ajaran yang dibawanya. Hal ini diperlukan karena di tempat sebelumnya, Makkah, ajaran Nabi saw. mendapat pertentangan dan penindasan yang membuat ajaran yang dibawanya sulit untuk didesiminasikan. Hadis tersebut ada sebagai respon atas ayat yang mengapresiasi para sahabat yang mengorbankan hartanya untuk keperluan hijrah Nabi Muhammad saw. dan sahabat lainnya. Hijrah dalam konteks ini berakhir di saat peristiwa Fath al-Makkah, yakni saat umat Muslim saat itu telah bersatu di Makkah. Kendati demikian, esensi hijrah di masa lampau dapat dikontekstualisasikan oleh semua pengikut Nabi Muhammad saw. di era saat ini, yakni dengan mengambil esensi dari peristiwa hijrah yang berupa semangat mengubah diri dari tiga kondisi: pertama, semangat mengubah diri dari keadaan tertindas kepada kemerdekaan diri; kedua, semangat mengubah diri dari situasi mencekam kepada kondisi dengan jaminan keamanan diri; ketiga, semangat mengubah diri dari kondisi maksiat menjadi diri yang senantiasa menemui rida Allah Swt.
Alwi Shihab mengkategorikan hijrah menjadi dua bentuk berdasarkan historinya: pertama, hijrah fisik, yakni hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya; kedua, hijrah psikis/jiwa, yakni hijrah yang dilakukan umat Nabi saw. sejak terjadinya Fath al-Makkah hingga saat ini dan masa yang akan datang. Esensi hijrah jiwa setidaknya melalui tiga tanda/simbol semangat perubahan, yakni: meninggalkan hal jelek kepada hal yang baik, meninggalkan hal baik menuju ke hal yang lebih baik, dan meninggalkan hal lebih baik kepada hal yang paling baik. Demikianlah pemaknaan hijrah yang sangat relevan untuk kehidupan yang beragam dengan semangat kedamaian dan peningkatan kualitas spiritual. .(IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=0j1KIxxcIrw&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=9.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments