Boleh Tinggalkan Shalat Jumat. Jangan Sandingkan Takwa Pada Allah Dengan Pencegahan Corona!

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Di tengah wabah Corona / Covid-19, bagaimana dampaknya terhadap ibadah umat Muslim? Apakah boleh meninggalkan sholat Jumat? Bagaimana anjuran Nabi Muhammad SAW? Prof. Dr. H. Alwi Shihab menjelaskan dalam #PodcastAlwiShihab episode ke-6 ini.

Refleksi Podcast Episode 6
C

Beragama Harus dengan Akal!

Adanya wabah di suatu masa mempengaruhi tata cara beribadah bagi umat beragama, termasuk umat Muslim di berbagai penjuru dunia. Melaksanakan ritual keagamaan tidak seperti biasanya acap membuat umat Muslim ragu, juga menimbulkan banyak perdebatan. Khususnya untuk ritual wajib yang dilakukan secara bersama-sama/berjamaah, seperti salat Jumat. Merespon realita demikian, Alwi Shihab menyampaikan, sebagai umat beragama, kita tidak perlu takut dengan virus yang sedang mewabah (seperti Corona); yang kita perlu takut hanya Allah Swt. semata.

Tidak ada yang salah dalam pernyataan bahwa kita harus takut kepada Allah Swt., namun ada kekeliruan apabila kita menyandingkan ketakwaan/kedekatan kita pada Allah Swt. dengan tidak menghiraukan pencegahan terhadap wabah yang sedang melanda. Alquran banyak memberikan anjuran agar manusia menggunakan akalnya, nalarnya, rasionya dalam beragama. Dalam Hadis Nabi saw. disampaikan, “Apabila engkau hendak mendapatkan kebaikan, maka ikutilah tuntunan agama tetapi dengan menggunakan akal sebagai pertimbangan.” Sehingga ada ungkapan yang berbunyi:

لا دين لمن لا عقل له

Tidak sempurna agama seseorang kalau orang tersebut tidak menggunakan akalnya dalam menghayati ajaran-ajaran Alquran.”

Takut pada Allah Swt. merupakan suatu yang dianjurkan dan merupakan tanggung jawab seorang hamba. Akan tetapi perlu disadari pula, tentang bagaimana manusia menghindari diri dari malapetaka juga ada anjurannya dalam Alquran:

…وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ

Jangan sesekali engkau membinasakan/menjerumuskan dirimu dalam kebinasaan,” (QS. Al-Baqarah: 195). Maksud dari ayat ini adalah apabila ada hal-hal yang membawa pada kebinasaan bagi manusia, maka hendaknya manusia hindari. Ini adalah bukti ketakwaan pada Allah Swt. dengan senantiasa menghindari kemungkinan-kemungkinan terjerumus dalam kebinasaan.

Saat suatu wabah dapat menyebar melintas batas-batas negara. Setiap negara mengambil kebijakan untuk menyelamatkan warganya. Salah satu usaha untuk menghindari penyebaran virus wabah adalah dengan cara menjauhi kerumunan, termasuk kerumunan dalam ritual keagamaan seperti Majelis Taklim. Bahkan dalam kasus wabah Corona pada tahun 2019-2022, ulama-ulama Al-Azhar Mesir telah memberikan fatwa, untuk kewajiban salat Jumat pun boleh tidak dilaksanakan sebagai ikhtiar menghindarkan diri dari malapetaka.

Alquran banyak sekali menggunakan diksi, “Afalaa tubshiruun/tidakkah engkau melihat?, Afalaa tatafakkaruun/tidakkah engkau tafakkur?, Afalaa tatadabbaruun/tidakkah engkau tadabur (melakukan penelitian)?” Semua diksi ini diperuntukkan kepada umat manusia agar tidak begitu saja menerima ayat-ayat suci dan tanda kebesaran Tuhan, tetapi juga manusia diajak untuk menggunakan rasionya. Nabi Muhammad saw. juga memiliki anjuran saat terjadi wabah. Beliau bersabda, “Kalau ada wabah di suatu negara, maka hindarkanlah dirimu dari wabah itu, jangan masuk ke tempat itu! Dan mereka yang sudah ada di dalam tempat itu, jangan keluar!” (HR. Bukhari & Muslim). Anjuran Nabi saw. ini apabila dianalogikan maka sama dengan anjuran dari pemerintah untuk stay at home saat wabah Corona melanda. Anjuran agar masyarakat berada di rumah masing-masing, tidak keluar, karena dikhawatirkan ada perjangkitan. Kita bisa terjangkit, orang lain juga bisa terjangkit. Lebih khusus pada penyebaran virus yang memiliki sifat jangkitan/penularan yang tinggi.

Alwi Shihab mengisahkan sebuah kisah dari seorang guru di Mesir yang bernama Muhammad Salim. Guru ini meninggal setelah terjangkit virus Corona. Ia adalah tokoh yang sebelumnya kerap mengatakan bahwa manusia tidak perlu takut dengan virus Corona, virus ini akan hilang dengan sendirinya, dan manusia hanya takut pada Allah Swt. semata. Apa yang ia sampaikan ini justru merenggut nyawanya, bahkan anaknya pun terjangkit virus tersebut. Atas hal ini pula, Pemerintah Mesir menjadikannya pelajaran bahwa hendaknya manusia menghindarkan diri dari malapetaka; juga jangan sampai kita bersama-sama mengikuti orang-orang yang tidak menggunakan nalarnya, tidak menggunakan akal sehatnya, dan menganggap virus itu tidak berbahaya. Maka dari itu, dalam menjalankan kehidupan beragama, fungsi akal harus senantiasa kita gunakan sebaik mungkin.

Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=4OPNfNzeXkY&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=109.  

Nonton juga

C
Langkah Jitu Menjadi Muslim Toleran dan Rahmatan

Langkah Jitu Menjadi Muslim Toleran dan Rahmatan

Simak #PodcastAlwiShihab Eps 112 bersama ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...