Yahudi Sudah Tidak Relevan dengan Diutusnya Nabi Isa, Begitu Juga Nasrani Setelah Datangnya Islam?

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Nabi Muhammad sebagai Khatamul Anbiya’. Apakah agama Yahudi sudah tidak relevan dengan diutusnya Nabi Isa, dan agama Nasrani sudah tidak relevan setelah datangnya agama Islam atau diutusnya Nabi Muhammad? Pertanyaan ini diajukan oleh Gunawan, di Klaten, Jawa Tengah

Refleksi Podcast Episode 69
C

Diskursus Validasi Agama-agama Sebelum Datangnya Agama Islam

Umat Islam meyakini, bahwa Allah Swt. mengutus rasul dengan jumlah yang banyak sekali dan bertebaran di berbagai penjuru bumi sebelum pengutusan Nabi Muhammad saw. Para rasul ini membawa ajaran yang berasal dari wahyu-Nya dan kemudian menjadi pedoman hidup para pengikutnya (dari dulu dan masih berlangsung hingga sekarang). Menjadi pertanyaan bersama, ketika Nabi Muhammad saw. diutus sebagai khatamul anbiyaa’, apakah agama-agama yang sudah ada sebelumnya (seperti Yahudi dan Nasrani) sudah tidak valid dan tidak relevan lagi?

Alwi Shihab menjawab pertanyaan ini dengan memberikan dua pandangan berbeda dari perspektif pengkajian Islam. Pandangan pertama, adalah pendapat-pendapat ulama Islam yang menganggap bahwa kehadiran Alquran itu mengukuhkan apa yang telah disampaikan oleh Nabi Musa as. melalui Taurat, dan juga Nabi Isa as. melalui Injil. Akan tetapi, para ulama Islam ini menganggap bahwa ada hal-hal perubahan yang terjadi di dalam kedua agama atau kedua kitab suci tersebut, sehingga menjadi pertanda bahwa kedua agama tersebut sudah tidak valid lagi. Sebagian besar ulama Islam berpendapat dengan pandangan pertama ini.

Pandangan kedua, adalah pendapat-pendapat dari ulama Islam yang menganggap bahwa terdapat ayat-ayat Alquran yang menunjukkan bahwa agama-agama sebelum datangnya ajaran Nabi Muhammad saw. masih valid untuk diikuti oleh para pemeluknya. Seperti yang tertulis dalam QS. Al-Baqarah ayat 62:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ۝٦٢

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang sabi’in; siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta melakukan kebajikan (pasti) mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

Pandangan kedua ini menganggap bahwa ada orang Yahudi, ada orang Nasrani, dan ada orang (dari agama-agama) terdahulu yang percaya kepada Tuhan Yang Satu, beramal baik dan percaya hari kemudian, maka Tuhan akan memberikan ganjaran kepada mereka. Ulama Islam yang memiliki pandangan kedua ini beranggapan bahwa orang-orang Yahudi yang konsisten terhadap ajaran agama mereka, kitab suci mereka, maka termasuk dalam golongan yang diganjar oleh Tuhannya. Demikian pula untuk orang-orang Nasrani (dan lainnya) yang konsisten terhadap ajaran nabi mereka, maka mereka masuk di golongan ini. Oleh karena itu, sebagai umat Islam yang memegang pandangan kedua ini, siapa pun tidak bisa serta merta mengatakan bahwa agama selain Islam itu semuanya sesat.

Alwi Shihab melanjutkan, bahwa apa-apa yang menjadi dasar pandangan kedua ini sudah dijelaskan dalam Alquran. Di dalam Alquran disebutkan bahwa orang Yahudi, Nasrani, Majusi, bahkan Musyrikiin sekalipun kelak di hari kemudian hanya Tuhan yang dapat menentukan siapa-siapa dari semuanya yang akan masuk surga dan tidak (Al-Hajj, 17). Atas dasar ini, Alwi Shihab menekankan agar kita sebagai sesama manusia, sebagai alim, sebagai ustaz, mengambil alih hak prerogatif Tuhan dan mengatakan kelompok ini dan itu sudah sesat; apalagi di dalam kelompok Islam sendiri. Kita sering mendengar dan menyaksikan bagaimana orang dengan mudah mengkafirkan kelompok sana, mengkafirkan kelompok sini. Yang demikian ini jangan sampai terjadi.

Jadi, walaupun kelompok agama terdahulu tidak percaya bahwa Alquran ini datang untuk mengukuhkan apa yang dibawa oleh Nabi Musa as. dan Nabi Isa as., namun mereka tetap konsisten kepada ajaran agamanya, maka ada peluang bahwa mereka itu akan selamat. “Dan itu bukan saya yang bilang, tetapi ini di dalam Alquran,” tegas Alwi Shihab. Alwi Shihab kemudian mengutip QS. Ali Imran ayat 113:

لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ ۝١١٣

Mereka tidak sama. Di antara Ahlul kitab ada golongan yang lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dalam keadaan bersujud.”

Ya, mereka itu tidak sepenuhnya sama. Lantas bagaimana membedakan yang sesat dan tidak sesat? Jawabannya terdapat dalam QS. Al-Hajj ayat 17:

…اِنَّ اللّٰهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ…

Allah akan berikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat.

Ayat ini menunjukkan, bahwa hanya Allah yang akan memvonis dan menetapkan siapa di antara kita semua yang benar, siapa yang salah, siapa yang tiga-perempat benar, dan seterusnya.

Jadi, kita tidak dapat menentukan sesat tidaknya seseorang, itu adalah hak Allah Swt. sebagai Sang Pencipta. Alwi Shihab mengilustrasikan kondisi tersebut dengan seorang guru yang akan memberikan nilai pada murid-muridnya. Tentu guru akan memberikan nilai 10 kepada  murid yang menjawab soal dengan benar semuanya. Nah, tapi kalau ada murid yang salah menjawab 4 soal, berarti dia mendapat nilai 6. Apakah yang mendapat nilai 6 ini lulus atau tidak? Mungkin bisa dibilang bahwa dia lulus. Karena, yang terpenting kata Allah (QS. Al-Nisa ayat 116) adalah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ …

“Sesungguhnya Allah, yang pasti (dosa) yang tidak diganggu gugat adalah dosa mereka yang tidak percaya keesaan Tuhan. Tapi dosa selain itu, itu Tuhan yang menentukan apa mengampuni atau tidak.”

Guna tidak mudah melabeli liyan musyrik, Alwi Shihab mempersilahkan kita umat Islam untuk bertanya kepada saudara Yahudi maupun Nashrani (dan lainnya), apakah mereka percaya bahwa Tuhan itu Satu? “Wah, orang Yahudi sangat percaya. Tanya orang Kristen, percaya nggak Tuhan Satu? Oh iya, God The Father itu adalah Tuhan itu Satu,” tegas Alwi Shihab. Lantas bagaimana dengan Nabi Isa as. dalam konsep Trinitas? Menurut Alwi Shihab, hal ini sudah masuk di dalam lingkup Tuhan yang menentukan bahwa apakah mereka itu percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan sebagai sesuatu yang benar, ataukah Yesus itu bagian dari Tuhan; itu semuanya bukan kita manusia yang bisa menetapkan.

Menjadi penutup paparannya, Alwi Shihab memberikan nasihat agar kita yang (mudah-mudahan) selamat ini jangan menganggap kecil pandangan orang lain. Paling bagus bagi kita adalah mengatakan: agamamu adalah agamamu, dan agamaku adalah untukku, biar Tuhan yang nanti menentukan. Karena kepada Tuhan kita ini semuanya akan kembali. Nanti Tuhan pada waktu itu di hari kemudian akan menyampaikan hal-hal yang antara kalian ini ada perdebatan, ada perselisihan, ada permusuhan siapa yang benar siapa yang salah (QS. Al-Maidah ayat 48). Siapa kelak yang dapat angka 10, siapa yang dapat angka 6, siapa yang mendapat angka 2, itu yang menentukan kelak di hari kemudian adalah Allah Swt. Apabila sikap demikian yang kita praktikkan kepada siapa saja yang berbeda dengan kita, kita semua akan saling menghormati, karena kita tidak saling memvonis terhadap apa-apa yang kita yakini.

Apalagi kalau sesama umat Islam ada yang mengatakan dan memvonis bahwa ini atau itu adalah bid’ah, dan bid’ah dhalalah finnaar. Ini adalah sebuah perkataan yang sungguh berani dan berbeda dengan yang disampaikan oleh Nabi saw. Nabi Muhammad saw. mengatakan  bahwa mereka yang berkiblat ke Ka’bah yang percaya kepada Tuhan yang Satu, percaya kepada hari kemudian, percaya bahwa ada kebangkitan, itu semuanya adalah saudara seiman. Berdasarkan dalih ini, Alwi Shihab memberi pesan, “Jadi kalau urusan-urusan ziarah kubur dan sebagainya, ya boleh kita katakan bahwa kita tidak setuju karena ada hal-hal mungkin akan mengakibatkan yang tidak kita inginkan. Tapi jangan bilang dia kafir!”

Penjelasan lengkap Alwi Shihab di atas menjadi cambuk untuk kita semua untuk tidak sibuk mengoreksi apa-apa yang diyakini orang lain, apalagi sampai melabeli mereka karena keyakinannya itu. Toh kita semua sama-sama bisa selamat atau justru sama-sama tidak selamat. Alih-alih menjerumuskan diri menjadi tidak selamat karena terlalu asyik mengurus keyakinan orang lain, Alwi Shihab mengarahkan agar kita semua bisa saling menyelamatkan dengan saling memberikan ruang kepada semua umat beragama untuk dapat menjalankan ajaran agamanya dengan nyaman. Kenyamanan dalam beragama hanya dapat terwujud apabila tidak ada intervensi-intervensi dari dalam maupun dari luar yang dapat menimbulkan perdebatan, pertikaian, perpecahan, permusuhan, ataupun menghadirkan neraka dalam kehidupan di dunia yang menjadi tempat tinggal bersama ini. (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=TSEaDtuBtXU&list=PLWuE9NE-a3Bg3JdQtJ-GmoLls-axhwkaV&index=42 dengan judul “Yahudi Sudah Tidak Relevan dengan Diutusnya Nabi Isa, Begitu Juga Nasrani Setelah Datangnya Islam?”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...