Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Apakah Yahudi musuh Islam? Apakah Cina, Tionghoa, ingin menguasai Indonesia? Bagaimana Islam memandang bangsa-bangsa atau ras-ras ini? Apa kata Al-Quran? Simak penjelasan lengkap dari Prof. Dr. H. Alwi Shihab, cendekiawan Muslim dan Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah dan Organisasi Kerjasama Islam (2015-2019).

Refleksi Podcast Episode 3
C

Apakah Yahudi dan Cina adalah Musuh Islam?

Perbedaan yang mengikat manusia tidak saja terbatas pada identitas agama saja, tetapi juga bahasa, bangsa, ras, dan lainnya. Juga menjadi pertanyaan di kalangan umat Muslim pada umumnya, bagaimanakah hubungan antara umat Muslim Islam dengan ras bangsa lainnya? Mengingat banyak sekali anggapan di kalangan masyarakat Muslim Indonesia bahwa orang Yahudi itu adalah musuh abadi bagi orang Islam. Apakah sungguh demikian? Alwi Shihab menjawab, bahwasanya hal tersebut tidaklah benar. Orang Yahudi merupakan orang-orang yang mendapatkan kitab Taurat. Dan mereka pada dasarnya tidak lain merupakan saudara-saudara seiman bagi umat Muslim (pengikut ajaran Nabi Muhammad saw.) dalam pengertian sama-sama mendapatkan kitab suci dari Yang Maha Kuasa. Atas dasar ini, umat Muslim tidak bisa serta-merta disebabkan hal-hal yang terjadi (seperti konflik Israel dan Palestina) lantas menjadikan umat Yahudi sebagai musuh bagi umat Muslim. Alwi Shihab memberikan pernyataan atas relasi baiknya dengan orang-orang Yahudi yang sangat commit/berusaha untuk selalu melakukan perdamaian untuk kemanusiaan.

Adalah sebuah kebenaran, bahwa terdapat perlakuan-perlakuan dari kelompok Yahudi Israel kepada rakyat Palestina (dan lainnya) yang tidak sejalan dengan peri kemanusiaan. Perlakuan tersebut membuat rakyat lainnya menjalani hidup dalam keterpurukan dan keterprihatinan. Akan tetapi, fakta ini tidak dapat digunakan untuk menggeneralisir bahwasanya kelompok Yahudi adalah musuh Islam dan umat Islam. Hal serupa juga terjadi di Indonesia, tentang adanya anggapan-anggapan yang mencap bahwa Tionghoa merupakan ras yang mau menguasai, sehingga ada usaha untuk menjadikan orang Tionghoa (maupun keturunan) sebagai musuh orang Indonesia. Hal ini juga sangat tidak dibenarkan.

Menyikapi problematika tersebut, pandangan kita berdasarkan Alquran adalah, “Karena saya orang Indonesia, anda menjadi orang Tionghoa, yang sana menjadi orang Rusia, yang sana menjadi orang Barat, ini bukan pilihan kita masing-masing, melainkan ketetapan dari Yang Maha Kuasa.” Sebagaimana firman Allah Swt.:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ …

“Wahai sejagad manusia, Kami (Tuhan) telah menciptakan kalian dari wanita dan pria, dan Kami juga menciptakan ras-ras, kelompok-kelompok, bangsa-bangsa, untuk saling berhubungan secara baik dan harmonis,” (QS. Al-Hujurat: 13. Rasulullah saw. juga menyampaikan, “Kalian ini wahau manusia, Ayahmu satu, Adam. Dan tidak ada perbedaan orang Arab dan non Arab. Yang membedakan adalah amal baktinya,” (HR. Ahmad & Baihaqi). Oleh sebab itu, kita semua perlu melakukan introspeksi atas kalim-klaim bahwa kelompok, ras, bangsa yang kita miliki adalah yang paling utama di sisi-Nya.

Alquran juga tidak pernah menunjuk bahwa satu ras tertentu adalah baik dan ras lainnya jelek. Tentu betul bahwa tiap ras menganggap dirinya adalah ras terbaik: orang Yahudi merasa bahnya kelompoknya adalah bangsa terpilih, orang Kristen juga demikian, orang Islam juga sama. Perlu menjadi catatan, penyampaian firman Tuhan perihal umat Rasulullah saw. sebagai bangsa terbaik pun tidak hadir begitu saja, melainkan ada syaratnya:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ …

“Kamu adalah sebaik-baiknya umat yang diturunkan di bumi ini, selama kamu berbuat yang makruf dan mencegah kemunkaran serta beriman kepada Allah Swt.,” (QS. Ali ‘Imran: 110). Jadi, ayat ini secara utuh memaparkan bahwa orang Islam (pengikut ajaran Rasulullah saw.) itu bukan otomatis paling baik di antara ras yang ada, melainkan orang Islam yang memiliki kualitas sesuai indikator-indikator yang telah disebutkan dalam ayat tersebut. Dengan demikian, tidak ada dasar bagi seorang Muslim untuk mengecam ras lain, karena ras adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana firman Allah Swt.:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًاۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ …

“Tiap kelompok yang berbeda ini, Kami ciptakan ada syariatnya, ada agamanya, ada metode di dalam kehidupannya, sehingga itu adalah Tuhan yang menciptakan. Kalau Tuhan mau, bisa saja Tuhan menciptakan kalian semua ini satu ras, satu agama, satu metode dalam kehidupan; tetapi Tuhan mau melihat dan menguji bagaimana komitmen tiap kelompok terhadap agamanya masing-masing. Dari itu, ayo berlomba-lomba mengerjakan kebaikan; bukan berlomba-lomba memaki satu dengan yang lain,” (QS. Al-Maidah: 48).

Alquran juga memberikan contoh bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk membenci satu ras, kelompok, grup, dan lainnya. Hal ini tergambar dalam Alquran. Namun, Alquran juga memperingatkan:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Jangan disebabkan karena kamu membenci terhadap suatu kaum (termasuk pada kaum Yahudi dan Tionghoa), lalu kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu jalan terdekat untuk bertakwa kepada Allah Swt,” (QS. Al-Maidah: 8). Jadi, apabila kita sedang tidak senang terhadap kelompok Tionghoa misalnya, kita tetap harus dapat berlaku adil; karena tidak semua orang Tionghoa itu jelek, dan banyak dari mereka yang baik. Apabila kita tidak menyukai kepribadian maupun sikap seseorang dengan ras tertentu, maka jelas, yang tidak kita sukai adalah kepribadian/sikapnya tersebut, bukan rasnya. Hal ini juga terjadi bagi warga Amerika yang sangat fanatik melihat Islam akrena dianggap sebagai agama teroris. Apapun yang memiliki sematan Islam, mereka akan menganggap hal tersebut tidak perlu masuk ke Amerika. Hal ini tentu tidak benar, karena yang dilakukan adalah menggeneralisir semuanya yang berkaitan dengan Islam. Seyogyanya tidak demikian, warga Amerika seharusnya dapat mengatakan bahwa tindakan terorisme seperti pembunuhan itu dilakukan oleh ISIS, Alqaeda, dan serupanya. Sebagai umat Islam yang memiliki prejudice/prasangka demikian oleh ras berbeda, kita juga tentu tidak setuju dengan sikap menggeneralisir tersebut. Demikian pula dengan orang Yahudi maupun Tionghoa, mereka juga tidak senang apabila orang Islam menggeneralisir semua dari kelompok mereka dengan mengatakan mereka semuanya tidak baik.

Islam datang untuk memberikan pencerahan, edukasi dan meningkatkan moral suatu bangsa. Oleh karena itu, seyogyanya kita berhati-hati agar tidak keblablasan saat terdapat hal-hal yang tidak berkenan di hadapan kita. Sangat tidak patut kita menggeneralisir dan membenci suatu ras/kelompok. Sebagaimana firman Allah Swt.:

…لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ ۚ…

“Jangan sekali-kali satu kelompok mendiskreditkan/menghina kelompok lain, karena mungkin kelompok lain itu lebih mulia dari kalian yang menghina ini,” (QS. Al-Hujurat: 11). Ini merupakan petunjuk dari sekian banyak petunjuk agar kita senantiasa berlaku adil. Bahkan Alquran juga menganjurkan:

وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ …

Dan apabila ada orang dari kelompok musyrik yang datang meminta perlindungan kepada kamu, (maka) berilah perlindungan!” (QS. Al-Taubah: 6).

Tidak hanya itu, Alquran juga memberi petunjuk, apabila sampai ada perselisihan antar kelompok yang ada, maka hendaknya kita mencari titik temu bersama untuk dapat dijadikan point of departure (landasan untuk bisa bekerja lebih baik dan rukun):

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ …

“Katakan wahai Muhamammad kepada orang-orang yang diturunkan kitab-kitab padanya (YAhudi, Nasrani, mungkin juga termasuk Hindu, dan lainnya), “Mari kita mencari titik temu di antara kita, (karena dengan titik temu ini, kita bisa menciptakan suasana yang rukun, tentram, dan jauh dari permusuhan),” (QS. Ali ‘Imran: 64).

Sebagai penutup, Alwi Shihab menyampaikan bahwa tidak benar kalau kita memiliki prejudice/prasangka pada suatu ras. Tidak benar pula apabila kita tidak berlaku adil kepada suat kelompok ras, karena yang demikian bertentangan dengan anjuran Alquran. Berlaku adil itu berarti kita tidak ingin memperlakukan orang lain sebagaimana kita diperlakukan oleh orang lain. Kita harus objektif dan menciptakan suasana kondusif untuk negara maupun dunia. Dengan demikian, kita bisa mempertontonkan ajaran Islam yang penuh damai, kasih, dan jauh dari sikap saling mencerca dan memaki yang berlandaskan dari keteladanan Rasulullah saw. Kisah Bilal bin Rabbah yang merupakan orang non Arab berkulit hita dan sikap Rasulullah saw. padanya merupakan bukti, bahwa demikianlah ajaran agama Islam dalam merepon perbedaan ras dan suku bangsa dengan segala perbedaannya. Juga tentang Salman Al-Farisi yang juga orang non Arab yang dianggap saudara oleh Rasulullah saw. Terhadap orang Yahudi yang terkadang kita simpan prejudice terhadapnya, Rasulullah saw. justru meneladankan untuk membangun relasi baik dengan mereka seperti dalam relasi perdagangan. Bahkan sebelum Rasulullah saw. meninggal, perisai miliknya masih beliau gadaikan pada seorang pengusaha Yahudi. Ini adalah bukti kuat, Alquran dan Rasulullah saw. menganjurkan adanya interaksi yang baik di antara berbagai ras dan kelompok yang berbeda.

Tulisan ini berdasarkan catatan digitial Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=BIN-ega5uJA&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=111.

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...