Pilih Kerja atau Ibadah? Alwi Shihab: Tidak Perlu Terlalu Berlebihan Beribadah
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Ketika kita dihadapkan pilihan antara bekerja atau ibadah? Mana yang harus dipilih? Simak penjelasan Prof. Dr. Alwi Shihab terkait hukum bekerja dalam Islam di #PodcastAlwiShihab episode ke-2.
Refleksi Podcast Episode 2
Bekerja atau Beribadah? Dunia atau Akhirat?
Bekerja kerap dikaitakan sebagai hal duniawi, dan ritual ibadah sebagai hal ukhrawi. Umat Muslim terkadang berada dalam posisi dilematis antara bekerja dan ibadah. Bagaimanakah bekerja dan ibadah yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim? Alwi Shihab merespon pertanyaan ini dengan menjelaskan dua hal utama: pertama, pentingnya bekerja; kedua, pentingnya pemaknaan bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Alwi Shihab mengisahkan, pada suatu waktu Rasulullah saw. berada di masjid. Rasulullah saw. memperhatikan ada seorang sahabat yang sangat tekun beribadah, seperti salat, mengaji, bahkan selama berhari-hari secara berkesinambungan. Hingga pada suatu saat, Rasulullah saw. bertanya kepada sahabat yang lainnya, “Siapa yang membelanjakan untuk kehidupan orang ini, sehingga saya tidak melihat dia pernah ke pasar?” Kemudian seorang sahabat menjawab bahwa saudara orang yang rajin ibadah itulah yang memberi bantuan nafkah untuk kehidupannya, dan saudaranya itu adalah seorang pengusaha di pasar Madinah. Kemudian Rasulullah saw. berkata, “Niscaya saudaranya yang bekerja di pasar itu lebih mulia di sisi Tuhan daripada orang ini yang tekun dalam ibadah (ibadah ritual).”
Berdasarkan pernyataan Rasulullah saw. inilah maka kita harus dapat memaham ibadah yang dimaksudkan dalam Alquran,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Saya tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.” (QS. Al-Dzariyaat: 56)
Maksud ibadah di sini bukan saja ibadah secara ritual, tetapi juga ibadah lainnya yang sama pentingnya bagi kehidupan, yakni memakmurkan dunia serta menyejahterakan masyarakatnya. Sehingga, hal ini senada dengan ayat:
…اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ …
“Apabila dikumandangkan azan pada hari Jumat, maka hendaknya kalian pergi ke Masjid dan berusaha untuk mengingat Yang Maha Kuasa, dan meninggalkan transaksi-transaksi dagang.” (QS. Al-Jumuah: 9)
Ayat ini jelas menggambarkan bahwa ada waktu-waktu tertetu untuk kita menghadap pada Yang Maha Kuasa dengan meninggalkan segala hal yang kita lakukan sebelumnya. Namun dalam lanjutan ayat (QS. Al-Jumuah: 10) dijelaskan:
… فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ …
“Maka setelah salat Jumat, segeralah bergegas untuk kembali kepada kehidupan yang bisa menghasilakan suatu manfaat.” Ya, pedagang harus kembali pada usahanya, guru kembali pada kelasnya, dan sebagainya.
Boleh dikatakan, bahwa ibadah adalah upaya kita untuk menciptakan diri menjadi makmur dan kaya agar dapat bermanfaat bagi kehidupan orang lain. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw., “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberi manfaat kepda orang lain.” Adapun orang yang hanya menitik-beratkan kepada ibadah ritual saja, tentu ada manfaat bagi dirinya, namun belum tentu ada manfaatnya bagi orang lain. Sedangkan orang yang bekerja di pasar, ia menghasilkan materi dan siap untuk membantu sesamanya dengan cara bersedekah, maka dialah yang disebut manusia dengan peribadatan sejati.
Perlu bersama-sama kita ingat, bahwa kita tidak dituntut melakukan lebih banyak dari apa yang telah ditetapkan, seperti salat lima waktu dalam sehari-semalam, puasa 30 hari dalam setahun, zakat apabila memiliki penghasilan tambahan. Namun, di sisi lainnya, kita dianjurkan untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan hanya hanya disa dilakukan melalui bekerja dan berkerja. Kita pun dapat berkerja secara efektif apabila kita belajar serta melakukan hal-hal inovatif, sehingga kita bisa mencapai tujuan dari apa yang kita kerjakan itu. Rasulullah saw. bersabda, “Tangan yang di atas yang dipergunakan untuk memberi itu lebih mulia daripada tangan yang menadah (menerima),” (HR. Bukhari-Muslim).
Alwi Shihab meminta pada generasi milenial (dan seterusnya) sebagai penerus bangsa agar tidak memiliki anggapan bahwa bekerja, menuntut ilmu dan berusaha bukan bagian dari ibadah yang dikehendaki Tuhan pada hamba-Nya. Sungguh jangan demikian! Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saw., “Tidak perlu terlalu tekun dalam beribadah (ritual), kaerna sebenarnya yang dituntut itu adalah (ibadah) yang berkesinambungan.” (HR. Bukhari-Muslim). Dengan demikian, apabila kita salat, puasa, dan lainnya, maka harus memiliki skala prioritas antara yang wajib dan yang sunnah. Mengerjakan yang sunnah sangat baik, namun jangan sampai mengganggu aktivitas kita untuk membangun suatu keluarga yang bermanfaat bagi keluarganya, juga kebermanfaatan bagi manusia secara keseluruhan. Tentu banyak pandangan yang bisa dijadikan rujukan dari hadis Rasulullah saw. Dalam ucapannya pun Rasulullah saw. pernah berkata, “Apabila kiamat sudah diketahui akan datang dan seseorang memegang bibit kurma di tangannya, maka hendaknya ia selesaikan tugasnya dengan menanam bibit tadi,” (HR. Bukhari-Ahmad). Pada konteks ini Rasulullah saw. tidak mengatakan agar hamba-Nya pergi ke Masjid untuk berzikir, melainkan tetap melanjutkan bekerja; karena dengan bibit yang ditanam itu sebagai simbol akan adanya pemberian manfaat pada generasi mendatang, sebaliknya yang terjadi apabila kita pergi ke Masjid, yang mendapat manfaat hanyalah diri kita sendiri saja.
Simpulannya, kita bekerja merupakan bagian dari ibadah untuk akhirat. Kita memakmurkan dunia juga bagian dari ibadah. Memakmurkan memiliki makna bahwa kita harus siap untuk menerima perbedaan di antara kita, akrena menerima perbedaan adalah sebuah kelaziman dan keniscayaan. Jangan sampai dalam hidup kita membuat keagduhan, karena hal tersebut tidak akan memberi manfaat pada diri kita, keluarga, keturunan, bangsa dan juga negara.
Tulisan berdasarkan catatan digital Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=UgGOAJ3C1oc&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=112.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments