Beginilah Cara Jitu Berpikir dan Bersikap Moderat!?!

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Beginilah Cara Jitu Berpikir dan Bersikap Moderat!?!
Bagaimana kita berpikir moderat dalam beragama? Apa manfaat berpikir dan bertindak moderat?

Simak jawabannya di #PodcastAlwiShihab episode ke-109 ini!

Refleksi Podcast Episode 109
C

Rukun-rukun Menjadi Muslim Pluralis yang Toleran

Kehidupan bersama yang harmonis hanya dapat diciptakan apabila masing-masing individu mampu berusaha untuk saling menghargai dan mengasihi. Namun realitanya, masih banyak insan yang tidak mampu menyikapi perbedaan. Alih-alih perdamaian yang harmonis, konflik acap membara dalam relasi masyarakat di manapun berada. Oleh karena itu, wacana menjadi insan pluralis yang toleran merupakan sebuah jawaban yang menjadi kewajiban.

Dalam diskusi keagamaan, diksi pluralis yang toleran kerap menjadi perdebatan panjang. Pluralisme kerap didefinisikan sebagai faham yang mencampur-adukkan agama dan menganggap semua agama itu benar. Definisi tersebut membuat narasi-narasi toleransi atas dasar agama menjadi alot untuk difahamkan kepada masyarakat; sehingga budaya Bhineka Tunggal Ika dalam konteks bangsa Indonesia dan agama menjadi dua hal yang sering diperbenturkan. Menyikapi kondisi ini, Alwi Shihab memberikan pemaknaan yang berbeda dengan memberikan trik atau rukun-rukun yang bersumber dari Alquran. Pemaknaan ini akan memberi wawasan baru pada para pembaca, bahwa tidak masalah menjadi Muslim pluralis yang toleran. Menjadi Muslim pluralis yang toleran sama halnya menjadi aktor perdamaian; yang tidak saja memahami nilai harmonisasi, melainkan pula mampu menjadi teladan dan penggerak perdamaian di mana pun berada, dan apapun profesinya.

Alwi Shihab memberikan tiga rukun yang harus dimiliki seorang Muslim (dan non Muslim) untuk dapat menjadi pemeluk agama pluralis yang toleran: pertama, menghormati pandangan orang lain. Rukun ini adalah dasar dalam bersikap toleran. Menghormati pandangan orang lain yang berbeda merupakan latihan jiwa yang harus dimiliki setiap umat Muslim. Karena pada umumnya, manusia dengan sifat kebinatangannya menginginkan bahwa pandangannyalah yang terbaik; sehingga, dalam aspek menghormati pandangan orang lain, terdapat proses belajar yang dalam, manusia tidak saja dituntut untuk mendengarkan dan memahami, tetapi juga tidak memaksakan kehendak diri. Pluralis bukanlah menganggap semua keyakinan itu benar, melainkan kita memberikan ruang pada liyan, bahwasanya mereka juga berhak untuk mengemukakan, meyakini dan melakukan apa yang menurut mereka benar tanpa intrupsi dari kita dengan versi kebenaran yang kita yakini. Saat masing-masing telah saling menghormati pandangan yang berbeda, maka tidak ada klaim kebenaran dan perdebatan yang melahirkan perpecahan.

Rukun yang kedua adalah setiap Muslim harus bertutur bahasa yang baik. Alwi Shihab mengutip Alquran Surah Al-Baqarah ayat 83 yang maknanya, “Bertutur bahasalah yang baik kepada seluruh manusia tanpa memandang perbedaan yang melekat padanya.” Bicara dengan bahsa yang baik menjadi rukun yang sangat penting dalam menyikapi perbedaan dan membentuk diri yang toleran. Dalam Alquran Surah Thaha ayat 44 juga dikisahkan, bagaimana Tuhan YME mengajarkan pada utusannya, Nabi Musa as. dan Nabi Harun as., untuk tetap menggunakan tutur bahasa yang baik kepada Fir’aun yang telah melewati batas, “Sampaikan kepada Fir’aun, ajaran agama yang engkau (Harun dan Musa) bawa dengan kata-kata yang lembut.” Alwi Shihab memberikan pemaknaan yang dalam pada ayat tersebut, bahwasanya perbedaan pandangan maupun agama tidak boleh dijadikan dasar untuk melakukan kekerasan, menghina, dan memonopoli kebenaran; seyogyanya setiap insan membuka ruang kepada liyan untuk dapat mengemukakan pandangannya.

Rukun ketiga untuk menjadi Muslim pluralis yang toleran adalah bekerja sama dengan baik. Umumnya, manusia merasa lebih nyaman hanya saat bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki identitas yang sama dengannya. Namun, apabila semua ruang kehidupan diberlakukan sistem yang demikian, maka ruang berbangsa dan bernegara akan sangat sulit untuk memiliki kemajuan, persatuan dan perdamaian. Hal ini tentu sangat mempengaruhi kualitas hidup para rakyatnya. Mengingat perbedaan adalah takdir Tuhan, maka manusia dituntut untuk dapat bekerja sama dengan mereka yang berbeda dengan baik. Alwi Shihab mengutip Alquran Surah Al-Maidah ayat 48 yang maknanya, “Kalian adalah hamba-hamba Tuhan yang semuanya dianjurkan untuk berbuat baik dan berkolaborasi untuk kepentingan kemanusiaan. Dan yang menilai siapa di antara kalian yang benar atau salah, sesat atau lurus, semuanya (adalah) di tangan Tuhan.” Alwi Shihab juga menegaskan, bawasanya ayat ini sangat menekankan agar umat Muslim tidak mendiskreditkan pihak atau umat agama lain. Untuk menguatkan pemaknaannya tersebut, Alwi Shihab mengutip kembali dari Alquran Surah Al-Hujurat ayat 11 yang maknanya, “Mungkin saja pihak lain yang dihina atau didiskreditkan tersebut lebih mulia dari kita.”

Prinsip dalam bertutur bahasa yang baik adalah dialog/interkasi tersebut harus mengandung nilai keadilan. Sebagaimana perintah Alquran Surah Al-Maidah ayat 8 yang maknanya, “Jangan sampai karena kalian tidak senang dengan kelompok lain, lalu kalian tidak berlaku adil kepada mereka.” Alwi Shihab menegaskan bahwasanya ayat ini dimaksudkan agar kita tidak boleh mengikuti hawa nafsu kita yang tidak senang kepada kelompok lain dengan berlaku tidak adil. Guna menguatkan esensi ayat tersebut, Alwi Shihab kembali mengutip Alquran Surah Mumtahanah ayat 8-9 yang maknanya, “Tuhan tidak melarang kalian untuk berbuat baik (dan) berbuat adil kepada kelompok lain, selama mereka tidak memerangi agama kalian atau mengusir kalian dari negeri kalian.”

Penjelasan tiga rukun menjadi Muslim pluralis yang toleran ini apabila diimplementasikan dalam konteks ke-Indonesiaan maka masyarakat akan mampu menghindari percekcokan dan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan konflik di antara sesama. Walaupun berbeda, yuk bebarengan kita semua membudayakan menyapa siapa saja dengan baik; berlaku adil dengan setara walaupun berbeda; dan berusaha untuk mampu bekerja sama dalam membangun masyarakat yang baik, dunia yang sejahtera, makmur dan sentosa untuk ruang hidup bersama..(IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=Vr0-iLGwPb8&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=7.   

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...