Bagaimana Beri Pengertian Non Muslim yang Bersikukuh pada Agamanya?

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Prof. Dr. H. Alwi Shihab menjawab pertanyaan bagaimana memberi pengertian mereka yang bersikukuh pada agamanya.

Refleksi Podcast Episode 68
C

Dakwah Lintas Iman adalah Mencari Titik Temu Kebaikan, Bukan Memaksakan Keyakinan

Kehidupan antar umat beragama selalu memiliki warna yang beragam. Kadang didominasi dengan warna gelap sebagai simbol pertikaian, kadang pula dipenuhi dengan warna-warni pelangi yang menjadi harmoni dalam kesatuan. Umat beragama dalam menjalankan ajaran agamanya dalam relasi dengan umat agama lain memiliki banyak cara pula. Ada yang menginginkan saudara berbeda agama dapat menjadi seagama dengannya; ada yang sangat ingin dengan memaksa agar mereka menjadi bagian dari agamanya; ada yang tidak memperdulikan tentang status agama mereka, asalkan dapat saling berdampingan dengan guyub; ada yang tidak perduli dengan umat agama lainnya dan tidak ingin menjalin hubungan dengan yang berbeda; ada yang mengutuk umat agama lainnya dan menghalalkan darahnya; dan lain sebagainya. Lantas, bagaiamanakah cara kita agar tetap dapat mendakwahkan ajaran agama kepada umat agama lain yang berbeda berdasarkan cara yang paling dianjurkan oleh Alquran?

Alwi Shihab menjawab pertanyaan ini dengan mengutip sabda Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. dalam QS. Al-Ghasyiyah ayat 22:

لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ ۝٢٢

Yang artinya, “Kamu (Muhammad) tidak bisa menguasai mereka.” Tidak bisa menguasai mereka ini berlaku luas, yakni kepada siapa saja. Oleh karena itu, Allah Swt. kembali menyampaikan dalam ayat sebelumnya, yakni QS. Al-Ghazyiyah ayat 21:

فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ ۝٢١

Yang artinya, “Maka, berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan.” Kedua ayat ini menjelaskan, bahwasanya Nabi Muhammad saw. itu hanya bertugas memperingati, tapi tidak bisa (dengan memaksakan). Ini juga yang seyogyanya umat Nabi Muhammad saw. lakukan.

Dari itu, jika ada yang tidak mau mendengar apa-apa yang kita dakwahkan (baik oleh sesama umat beragama yang sama maupun berbeda), sebagai pengikut keteladanan Nabi saw., maka kita harus tetap menyampaikan secara santun argumentasi masing-masing. Dan juga kita sampaikan, sebagaimana yang dicontohkan dalam QS. Al-Kafirun ayat 6:

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ ۝٦

 “Bagi kamu agamamu dan bagi kami agama kami.”

Dan QS. Al-Baqarah ayat 139:

…وَلَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۚ…

“Kita mempunyai sepak terjang amal, dan kalian juga punya sepak terjang amal.”

Berdasarkan ayat-ayat ini, Alwi Shihab mengarahkan agar saat kita umat antar beragama melakukan kerja sama dalam interaksi sosial, kita tidak perlu berargumentasi soal teologi, akidah; karena akidah itu sulit difahami, itu hanya bisa diimani. Dan apabila kalau sudah menjadi faktor iman, itu sulit untuk memberikan argumentasi. Oleh karena itu, para pemuka-pemuka agama dari semua agama menganjurkan untuk menciptakan suatu hubungan yang harmonis dengan mencari titik temu bersama. Apa titik temu antar umat beragama ini?

Alwi Shihab mencontohkan, saat umat Islam hendak berbicara dengan kelompok Yahudi, maka kelompok Yahudi akan membawa Ten Commandments (Sepuluh Perintah) dan umat Islam bisa membawa ayat-ayat Alquran yang sepadan dengan Ten Commandments tersebut. Seperti saat berbicara tentang larangan makan babi, dalam Taurat tidak boleh dan dalam Alquran juga tidak boleh. Hal serupa juga bisa diberlakukan saat kita berinteraksi dengan umat agama lainnya, yakni mengutamakan mencari titik-titik temu tersebut.

Poin utama dalam berdakwah ini menurut Alwi Shihab adalah, “Jadi, kita tidak dianjurkan untuk lebih daripada menyampaikan. Menyampaikan ini menurut pandangan saya: Kalau anda terima silahkan (dan sebaliknya)!” Hal ini dilandasi oleh QS. Saba ayat 24:

وَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ۝٢٤

 “Sesungguhnya kami atau kamu benar-benar berada dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.”

Yang maksudnya: Kalian atau kami salah atau benar. Jadi bisa saya salah anda bisa benar, bisa saya benar anda salah. Semua hal tersebut akan membawa semua manusia berada pada ujungnya, yakni sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Maidah ayat 48:

…اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ ۝٤٨

“Ujung-ujungnya Tuhan nanti akan mengumpulkan kita, lalu Dialah yang akan mengatakan ini yang benar, ini yang salah.”

Alwi Shihab menjelaskan, merujuk pada ayat tersebut, tentu saja dari pihak umat Islam merasa bahwa Tuhan yang mereka sembah akan membenarkan umat Islam; pihak umat Yahudi juga demikian, mereka juga merasa bahwa Tuhan yang mereka sembah akan mengatakan bahwa kelompok mereka yang paling benar; juga kelompok agama lainnya juga merasakan hal serupa. Oleh karena itu, Allah Swt. mengatakan agar kita semua fastabiquu al-khairaat, berlomba untuk kebajikan. Kebajikan yang dapat kita realisasikan bersama adalah berlomba-lomba untuk memakmurkan dunia ini, sebagaimana bunyi QS. Hud ayat 61:

…هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا…

Tuhan menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian (seluruh manusia) untuk memakmurkan, mensejahterakannya.”

Alwi Shihab kembali menegaskan, ini adalah ruang yang bisa semua umat manusia yang berbeda-beda ini lakukan bersama. Sebagai manusia yang beragam, tidak seyogyanya kita membicarakan soal hal-hal yang bisa menjauhkan kita. Nabi Muhammad saw. sudah memberi contoh dalam perjanjiannya bersama delegasi kelompok Kristen Najran. Dalam perjanjian itu diteladankan, bahwa kalau ada orang Kristen hendak membangun Gereja dan perlu bantuan, maka umat Islam harus membantunya; dan tidak dihitung sebagai hutang-piutang, melainkan sebagai solidaritas.

Berdasarkan keteladanan ini, Alwi Shihab mengharapkan umat Islam untuk dapat mengacu kepada ittiba’ir rasul, seperti yang ditekankan oleh Muhammadiyah. Ittiba’ir rasul itu adalah mengikuti Rasulullah saw. tentang bagaimana beliau memperlakukan orang-orang yang baik di antara ahlul kitab. Tentu saja ada kelompok yang tidak baik, yang mengingkari janji. Kalau dalam konteks Indonesia, kelompok-kelompok ini adalah mereka yang mengingkari Pancasila. Kelompok tersebut pasti akan didiskreditkan dan dijauhi oleh masyarakat. Begitu juga yang terjadi pada masa Nabi Muhammad saw. berada di Madinah. Ketika semua kelompok masyarakat di Madinah terikat atas Piagam Madinah, bahwa mereka adalah satu bangsa, satu negara, satu kelompok besar dan sama-sama berusaha untuk membela territory mereka tersebut. Akan tetapi, ada kelompok kecil Yahudi di Madinah yang menjadi mata-mata untuk menghancurkan kelompok Nabi saw. di Madinah. Kelompok kecil ini bersekutu dengan kelompok musyrikin yang berada di Makkah yang menghimpun kekuatan untuk menyerbu kelompok Nabi Muhammad saw. di Madinah. Atas dasar inilah, kelompok Nabi saw. dan lainnya mendiskreditkan kelompok kecil Yahudi tersebut. Karena mereka ini seperti duri dalam daging yang harus disingkirkan karena telah mengingkari kesepakatan bersama.

Sangat tampak dari paparan Alwi Shihab ini, bahwa dalam berdakwah, tugas pendakwah adalah sebatas menyampaikan ajaran, bukan memaksakan. Ini tidak saja berlaku data berdakwah dalam kelompok agama sendiri, melainkan dengan kelompok agama lintas iman. Dakwah lintas iman tidak selalu perihal keimanan, karena akan menimbulkan perpecahan. Dakwah lintas iman seyogyanya dilakukan dengan cara bersama-sama mencari titik temu kebaikan, agar semua umat beragama dapat bergandeng tangan untuk membuat dunia menjadi tempat yang makmur dan menenangkan.

Dakwah itu bukan memaksakan liyan mengikuti ideologi mazhab kita, prinsip agama kita, atau jalan hidup kita. Dakwah adalah bagaimana kita semua bebarengan melakukan kebajikan tanpa mengusik dan membuatnya sebagai sumber perpecahan, atau bahkan peperangan. Ini adalah dakwah yang diteladankan Nabi saw. Jadi, sebagai umat Islam yang menjadikan Nabi saw. sebagai rujukan, mari kita renungkan kembali, siapakah yang menjadi rujukan diri? Apakah sungguh-sungguh Nabi saw.? atau justru nafsu diri? (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=oo9pihJFTyQ&list=PLWuE9NE-a3Bg3JdQtJ-GmoLls-axhwkaV&index=44 dengan judul “Bagaimana Beri Pengertian Non Muslim yang Bersikukuh pada Agamanya?”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...