Persaingan dan Ketegangan Islam dan Kristen

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Jumlah penganut Islam dan Kristen melampaui separuh jumlah manusia di bumi ini, namun hubungan keduanya banyak diwarnai ketegangan. Seperti apa dinamika hubungan Islam dan Kristen dalam sejarah? Apa yang disampaikan Al-Quran terkait Ahlul Kitab? Prof. Dr. H. Alwi Shihab membahasnya dalam #PodcastAlwiShihab episode ke-15 ini.

Refleksi Podcast Episode 15
C

Perjalanan Sejarah: Faktor Utama Pengubah Penafsiran Kitab Suci

Pada tahun 2007 di Yordania, 138 tokoh Muslim dunia dari berbagi mazhab menandatangani sebuah surat terbuka yang berisi tentang ajakan kepada para pemimpin gereja di dunia untuk berdialog dan bekerja sama untuk kebaikan manusia dan perdamaian dunia. Surat tersebut berjudul A Common Word between Us and You (Sebuah Persamaan di antara Kami dan Kamu). Isi dari surat ini menyatakan bahwa umat Muslim dan umat Kristen bisa bekerja sama untuk mencapai kedamaian dengan mendasarkan pada dua perintah terbesar yang sama ditemukan pada kedua agama, yaitu love of God (mencintai Tuhan) dan love of neighbor (mencintai sesama).

Topik hubungan Muslim dan kelompok agama lain (khususnya Islam-Kristen) seperti itu merupakan topik yang menjadi passion Alwi Shihab dan membuatnya bahagia membincangnya. Karena passion-nya inilah, pada saat tinggal di Amerika, ia menulis buku yang berjudul Islam Inklusif. Buku ini menggambarkan usahanya dan juga teman-temannya agar Islam dapat dipahami secara lebih baik; tidak saja oleh tokoh non Muslim, tetapi juga bagi tokoh dan umat Islam sendiri.

Hubungan antara komunitas Islam dan Kristen pada dasarnya dapat menjadi penentu untuk perdamaian dunia (terlebih pada tahun 1950-an, penganut kedua agama ini mencapai 61% dari populasi dunia). Tentu banyak yang bertanya-tanya, apa yang menjadikan hubungan antara komunitas Islam dan Kristen terkadang terasa renggang (ada semacam permusuhan/ketidak-serasian). Padahal kalau kita semua kembali pada kitab suci Alquran dan Injil, kita tidak akan mendapatkan sedikitpun tanda-tanda yang dapat dijadikan dasar untuk permusuhan dan konflik di antara dua komunitas ini.

Alquran sangat jelas menyampaikan:

لَتَجِدَنَّ اَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّا نَصٰرٰىۗ ذٰلِكَ بِاَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَّاَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ

Kamu akam mendapati kelompok yang paling dekat kecintaannya (hubungan mesranya dengan kalian umat Islam, adalah kelompok yang mengatakan: Kami ini pengikut Yesus/Nasrani. Dikatakan juga sebab dari kemesraan ini adalah karena di antara mereka ada pemuka-pemuka agama, pendeta-pendeta, dan yang paling menonjol (sebabnya) adalah karena mereka-mereka itu adalah orang-orang yang tidak menunjukkan arogansi,”(QS. Al-Maidah: 82). Ayat Alquran ini pada akhir dekade ini memang jarang terdengar, namun ini tercatat dalam Alquran bersama dengan ayat serupa lainnya.

Alwi Shihab memberikan sebuah analisa, tentang mengapa kedua agama ini tampak memiliki banyak ketidak-sefahaman, padahal keduanya memiliki banyak kesefahaman yang bisa menjadikan hubungan kedua komunitas ini lebih baik untuk bekerja sama dalam kepentingan bangsa Indonesia dan global. Langkah dasar dalam menganalisa ini adalah dengan membaca kembali sejarah. Diketahui bersama, Nabi Muhammad saw. diutus di Makkah. 3 tahun setelah masa pengutusan tersebut, terjadi pertempuran antara Persia dan Romawi. Pada saat itu, umat Islam merasa bahwa mereka ingin kalau bisa pihak Romawi-Kristen yang menang, dengan alasan memiliki kesamaan sebagai bagian dari ahlulkitab.

Kondisi selanjutnya dari peristiwa ini kemudian diabadikan di dalam Alquran:

غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُۗ وَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ

“Kali ini, Romawi-Kristen kalah, tetapi dalam beberapa tahun yang akan datang, kalian akan menyaksikan bahwa Romawi-Kristen akan mengalahkan Persia (yang yang menyembah berhala juga api/menyembah yang tidak Saya keinginan-Ku), dan pada waktu Romawi menang, orang-orang (Islam) yang beriman (di masa itu) akan merasa gembira, ” (QS. Al-Rum: 2-4). Jadi, sejak mulanya ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. ada, umat Islam selalu merasa ada kedekatan dengan umat Kristen, karena mereka sama-sama ahlulkitab.

Guna membuktikan kedekatan ini, sewaktu Nabi saw. mulai menyebarkan ajarannya di Makkah, beliau dimusuhi oleh para penduduk Makkah. Beliau dan para sahabat mendapat penganiayaan verbal dan fisik, sehingga para sahabat diminta bermigrasi ke Abisinia, Ethiopia, yang kala itu dipimpin oleh seorang raja pemeluk Katolik yang bernama Negus/Najasy. Raja Negus menerima para sahabat dengan sangat baik. Bahkan, setelah itu, kelompok Makkah datang kepada Raja Negus agar para sahabat ini diekstradisi/dipulangkan ke Makkah dengan alasan bahwa mereka ini telah membawa agama baru yang mencerca Yesus Kristus. Maka kemudian, Raja Negus memanggil pimpinan dari delegasi umat Islam yang bernama Ja’far bin Abi Thalib dan bertanya padanya, “Apa benar agama yang dibawa Muhammad ini mencerca dan menghina Yesus Kristus dan ibunya?” Lalu Ja’far menyampaikan ayat Alquran:

الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهَا مِنْ رُّوْحِنَا وَجَعَلْنٰهَا وَابْنَهَآ اٰيَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Ibu Maria yang telah menjaga kehormatannya, dan Kami (Tuhan) telah meniupkan ruh Kami dan menjadikannya sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan untuk semesta alam,” (QS. Al-Anbiya: 91).

Ja’far melanjutkan membaca ayat:

يٰٓاُخْتَ هٰرُوْنَ مَا كَانَ اَبُوْكِ امْرَاَ سَوْءٍ وَّمَا كَانَتْ اُمُّكِ بَغِيًّاۖ فَاَشَارَتْ اِلَيْهِۗ قَالُوْا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِى الْمَهْدِ صَبِيًّا قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِۗ اٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّاۙ:  ذٰلِكَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَۚ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَمْتَرُوْنَ

(Ketika orang-orang ragu akan kejadian yang menimpa Maria, mereka berkata:) Wahai Maria, ayahmu bukanlah seorang yang jelek, dan ibumu bukanlah perempuan yang tidak benar, kenapa kamu bisa melahirkan seseorang (dianggap dari seseorang yang tidak dikenal), maka Ibu Maria menunjuk kepada anaknya/Yesus Kristus untuk berbicara, lalu romobongan orang-orang ini mengatakan: Bagaimana bisa kita berbicara dengan bayi yang masih ada dalam buaian. Langsung Yesus Kristus/Nabi Isa as. mengatakan: Saya ini hamba Allah, dan saya diberikan kitab Injil, dan saya dijadikan rasul; itu adalah kisah Isa putra Maria, cerita yang benar, (apakah kalian masih ingin melakukan argumentasi terhadap itu?)”(QS. Maryam: 28-30; 34).

Mendengar Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan ayat-ayat ini, Raja Negus kemudian berkata, “Hal yang saya dengar dari Ja’far bin Abi Thalib tusan Muhammad ini tidak jauh dari apa yang kami yakini.” Maka selanjutnya, Raja Negus tidak menerima permohonan orang-orang Makkah untuk mengekstradisi para sahabat Nabi saw. yang sedang dalam perlindungan Raja Negus. Ini adalah bukti dari hubungan yang erat antara komunitas Islam-Kristen pada waktu itu. Mengapa kemudian pada perkembangan selanjutnya ada yang berbeda?

Alwi Shihab menganalisa, bahwasanya perkembangan hubungan antara dua komunitas ini tidak jauh dari sejarah yang penuh dengan rivalitas, karena kedua agama ini adalah agama misi. Apabila kita berbicara dalam tatanan doktrin, maka banyak sekali ayat-ayat Alquran yang memberikan landasan untuk umat Islam senantiasa berbuat baik dan tidak mencerca kelompok ahlulkitab. Terdapat sebuah ayat yang sangat populer tentang hal ini:

وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

Jangan berargumentasi dengan ahlulkitab, kecuali dengan cara yang paling baik. Dan katakanlah pada mereka, kami berdua (Islam-Kristen) sama-sama percaya pada kitab yang diturunkan pada kami. Tuhan kami dan Tuhan kalian itu Satu, dan kami berdua menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Satu itu,” (QS. Al-Ankabut: 46). Akan tetapi, perkembangan rivalitas yang terjadi antara kelompok umat Islam-Kristen, menjadikan hubungan di antara mereka menjadi tidak harmonis. Tepatnya pada masa 100 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw., komunitas Islam telah menguasai kawasan Timur Tengah, Persia, Afrika Utara, Liberia, Spanyol dan India Barat. Ini dilakukan dengan ekspansi yang sangat luar biasa.

Kemudian, pada abad ke-11 terjadi Perang Salib I, yang membuat pihak gereja (atas permintaan Kristen Timur) meminta bala bantuan dari Barat karena ibu kota Bizantium telah dikepung oleh kekuatan Islam. Perang salib/Crusade ini terjadi dari perang pertama sampai keenam. Abad ke-11 ini adalah masa terjadinya Crusade I, yang pada masa ini banyak pihak yang mengkritik pecahnya perang ini dengan alasan tidak sesuai dan tidak sejalan dengan anjuran Yesus Kristus untuk tidak menunjukkan kekerasan kepada siapapun. Namun, pihak gereja pada waktu itu mempunyai alasan bahwasanya perang ini harus dilakukan untuk membebaskan daerah yang awalnya dikuasai Romawi dan Bizantium yang pernah dijadikan tempat kehidupan Yesus Kristus. Inilah yang menjadi motivasi umat Kristen pada masa itu untuk kembali menguasai Yerusalem. Hingga sampai Crusade VI (abad ke-13) berakhir dengan suatu perdamaian, yakni Yerusalem diserahkan pada Romawi-Kristen dengan perjanjian damai 10 tahun. Penyerahan Yerusalem dilakukan oleh tokoh Islam yang bernama Sultan Al-Kamil dan tokoh Romawi/Roman Emperor yang bernama Friedrich II pada tahun 1229 M dalam hubungan yang sangat baik.

Selanjutnya, pada abad ke-13, tepatnya 1453 M, pasukan Islam Turki melakukan ekspansi dan menguasai sebagian besar kawasan Balkan, Afrika Utara, dan Konstantinopel. Kelompok komunitas Islam juga mengepung Vienna pada tahun 1529 M. Pada abad ke-16, gerakan gereja muncul dengan tokohnya yakni Marthin Luther dengan tulisan-tulisannya yang anti kepada Nabi Muhammad saw. Tulisannya yang demikian dapat dimengerti karena suasana perang yang terjadi antara kelompok umat Islam dan Kristen yang kembali terjadi di masa itu. Tulisan yang tidak bersahabat tersebut merupakan suatu cara untuk membangkitkan semangat agar kelompok Islam tidak maju sampai perbatasan Eropa Barat.

Seorang penulis bernama Bernard Lewis mengatakan, “Sejak umat Islam menguasai Spanyol dan melakukan pengepungan kedua terhadap Vienna pada tahun 1683, Eropa berada di bawah ancaman kekuatan Islam.” Jadi, hubungan rivalitas antara kelompok Islam-Kristen ini telah sampai pada titik yang sangat rendah dalam hubungan yang pernah terjalin, yakni dengan terjadinya perang. Kemudian terjadi kembali serangan balik dari Kristen Barat yang dimulai pada abad ke-15 dengan munculnya kelompok-kelompok kolonialisme, hingga berlanjut selama satu abad. Pada masa itu, kekuasaan kelompok Islam dan pengaruhnya menurun, dan kolonialisme berlanjut ke negara-negara Islam. Perlu dicatat, pada masa kejayaannya, kekuasaan umat Islam telah melampaui tiga kali luasnya kekuasaan Romawi. Pada abad ke-18, kekalahan Turki Usmani  menyebabkan (secara perlahan-lahan) kondisi seluruh dunia Islam dari Afrika Barat sampai Timur jatuh pada kekuatan Kolonial Barat.

Persepsi negatif terhadap Islam dimulai sejak wafatnya Nabi saw., karena sejak saat itulah ekspansi kelompok Islam terjadi. Namun yang terjadi pada akhirnya, wilayah Mesir, Suriah, dan Irak, semuanya ini berada di bawah pengaruh Kristen. Kondisi inilah yang menjadikan hubungan antara komunitas Islam-Kristen mencapai titik terendahnya sepanjang masa. Termasuk juga sejak jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M, terdapat perbedaan-perbedaan pandangan di dalam komunitas umat Islam. Hal ini ditandai dengan lahirnya seorang tokoh yang bernama Ibnu Taimiyah dengan pemikiran khasnya, khususnya dalam pandangannya yang mengkritik keras kelompok Kristen dan pandangan yang mengarahkan umat Islam untuk menjauhi umat Kristen.

Pandangan Ibnu Taimiyah inilah yang kemudian melahirkan kelompok Islam garis keras, seperti kelompok yang dibentuk oleh tokoh Arab Saudi yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab. Tokoh ini menganggap bahwa pandangan Ibnu Taimiyah ini perlu dilestarikan dan disebar-luaskan. Disebabkan petrodollar (dolar AS yang diterima negara pengekspor minya hasil penjualan minyak mentah), Arab Saudi berhasil untuk mempengaruhi dunia Islam (seperti Afrika dan juga Indonesia) dengan menjadikan pandangan umat Islam terhadap umat Kristen (juga hal lainnya: Syiah, filsafat, sufisme) sama seperti pandangan yang dimiliki Ibnu Taimiyah. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan orang-orang yang tidak memahami dan mengambil inti dari ajaran Islam, karena mereka tidak langsung merujuk pandangannya dari sumber utama, Alquran dan Hadis. Sehingga, yang mereka lakukan adalah mereka mendistorsi pandangan Islam terhadap komunitas Krsiten.

Alwi Shihab menegaskan, bahwa perjalan sejarah telah mengubah penafsiran terhadap doktrin agama. Padahal, kitab suci Alquran telah jelas mengatakan bahwa, “Bagi tiap kelompok Kami telah ciptakan syariat/metodenya. Kalau bisa, Tuhan bisa menjadikan semua kelompok ini monoletik, satu saja,” (QS. Al-Maidah: 48). Dengan kata lain, adanya kelompok Kristen, Yahudi, Islam, Hindu, Budha dan lainnya, semuanya memiliki syariat masing-masing. Tuhan mengehendaki perbedaan ini untuk melihat hasil amal dari setiap kelompok tersebut untuk kemudian Dia yang akan menilai. Maka dari itu, kita semua jangan saling bermusuhan, melainkan berlomba menciptakan kebajikan. Pun masing-masing dari kita tidak akan dimintai pertanggung-jawaban atas apa yang dilakukan oleh umat lain, pun sebaliknya (QS. Saba: 25).

Rangkaian sejarah selanjutnya, pada abad ke-21, mulai ada perkembangan yang sangat menarik di antara hubungan komunitas Islam-Kristen. Ini ditandai dengan gereja yang sebelumnya memusuhi Islam, sekarang kembali dengan hasil Konsili Vatikan II (1962-1965 M) yang isinya berusaha untuk mencapai suatu kesepakatan yang harmonis bagi komunitas Islam-Kristen. Konsili Vatikan II ini berhasil mengubah hubungan rivalitas menjadi hubungan yang sangat bersahabat; sama dan sesuai dengan anjuran Alquran; sama dengan prinsip yang diambil oleh Raja Negus. Konsili ini berisikan The Plan of Salvation also Includes, atau suatu usaha dari gereja merangkul umat Islam sebagai saudara yang bersama-sama mempercayai Tuhan yang Satu; dari kisah Isa dan Ibunda Maria merupakan akhir juga permulaan bagi kedua komunitas untuk melestasikan dan membangun rasa saling pengertian yang harmonis antara komunitas Islam-Kristen. (IL/AKR)

Tulisan berdasarkan catatan digital Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=PR1fVrG8AWA&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=100.

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...