Hukumnya bagi Muslim yang Melecehkan yang Berbeda dengannya di Sosial Media #TanyaJawab
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bagaimana menggunakan media sosial sebagai media yang bisa membuat semua orang bersatu? Seperti apa hukumnya bagi seorang muslim yang mencaci, melecehkan orang lain yang berbeda dengannya di sosial media? Simak tanya jawab bersama Prof. Dr. H. Alwi Shihab di Podcast Alwi Shihab episode ke-56.
Refleksi Podcast Episode 56
Etika Bermain Media Sosial
Era modern dan digitalisasi saat ini mengondisikan manusia untuk melakukan relasi sosial secara daring melalui beragam media sosial. Selain sebagai sumber informasi yang baik, ternyata media sosial juga memiliki sisi negatif, seperti: menjadi wadah pertengkaran dan perpecahan bagi mereka yang memiliki perbedaan atas segala hal; menjadi ruang untuk memberikan pengaruh pada paham-paham yang ekstrem; dan lainnya. Sebagai umat yang beragama, tentu ada pertanyaan yang lahir dari benak kita, sebenarnya bagaimana sih etika bermain media sosial yang baik itu agar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain?
Alwi Shihab menyampaikan bahwasanya apa yang terjadi dalam bermedia sosial berikut dampaknya merupakan tanggung jawab kolektif yang tidak mungkin hanya dapat dilaksanakan oleh satu orang saja. Untuk itu, para pengguna media sosial hendaknya memiliki kesadaran untuk bersatu guna berupaya meng-counter hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Kesadaran ini harus didasari atas keadaran akan keniscayaan perbedaan itu sendiri. Allah Swt. mengatakan, “Tiap kelompok Kita berikan jalan/metode/syariat, kalau Tuhan mau pasti Tuhan akan menjadikan kalian semua umat yang satu/monoletik. Tetapi Allah mau menguji tiap kelompok terhadap yang mereka percayai/terima. Perbedaan ini hendaknya dijadikan momentum untuk kita berlomba menciptakan kebaikan di atas perbedaan ini, karena pada akhirnya kalian semua akan kembali pada-Ku, dan Allah nanti yang akan memvonis/membeberkan perbedaan-perbedaan yang ada, dan siapa yang benar dan siapa yang salah,” (QS. Al-Maidah: 48). Perintah ini sesuai dengan perintah Allah Swt. pada manusia untuk memakmurkan, menyejahterakan bumi. Dan jangan sampai sebagai manusia ada yang berkeinginan mengambil hak prerogatif Tuhan sebagai penentu yang salah dan benar atas perbedaan ini.
Jadi, sebagai umat beragama, kita semua harus berpegang pada nilai-nilai agama yang kita peluk. Bagi orang Islam, Islam mengatakan:
وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Kalau mengucap, mengucaplah yang baik,” (QS. Al-Baqarah: 83). Ini tidak saja hanya kepada orang Islam, tapi semua manusia. Terlebih di media sosial, apabila ada orang Islam yang mengkritik, menghajar, melecehkan, maka kita perlu mengingatkannya dengan ayat tersebut. Atas kondisi ini pulalah Rasulullah saw. diutus, yakni untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik. Orang yang memaki dan mencaci di media sosial itu bukan bagian dari budi pekerti yang baik. Rasulullah saw. mengingatkan kita semua, “Sebaik-baik kalian adalah mereka yang berbudi pekerti yang luhur. Mereka yang akan bersama saya dan dekat bersama saya kelak di hari kemudian,” (HR. Tirmidzi).
Para pengguna media sosial tentu memerlukan pencerahan dari tokoh-tokoh agama perihal etika bermedia sosial sesuai dengan nilai-nilai agama. Jangan sampai tokoh agama justru membesarkan api yang telah berkobar dari perseteruan dan hal buruk yang sudah ada di ruang tersebut. Apabila ada pandangan berbeda di media sosial, bukan masalah bagi kita untuk menghormati pandangan berbeda tersebut. Itu adalah pendapat mereka dan kita juga memiliki pendapat kita sendiri. Sehingga, sebagai pengguna media sosial, kita tidak patut mengatakan bahwa sebuah pendapat itu sesat atau tidak sesuai dengan Alquran maupun Hadis. Bersama-sama kita semua mengedukasi para pengguna media sosial untuk tidak hanya merujuk pada satu tokoh agama dan menganggapnya sebagai representasi Allah Swt.
Perbedaan pendapat merupakan hal yang sangat luar biasa, seperti contoh tentang siapa yang akan masuk surga, maka tidak akan ada satu orang pun yang dapat memastikan dan mengatakan bahwa si A, B, C yang akan masuk surga. Namun yang pasti, yang tidak masuk surga adalah al-mujrimuun, yakni orang yang memotong daging dan memisahkannya dari tulang, maksudnya adalah orang yang memutuskan hubungan dengan Allah Swt. Ini adalah kelompok manusia yang dikecam masuk surga dalam Alquran. Mereka tidak percaya bahwa Allah itu Esa, juga tidak percaya bahwa Allah akan mengadili. Sedangkan orang-orang yang percaya pada Allah Swt., berbuat baik, dan percaya hari kemudian, maka mereka memiliki paspor untuk masuk surga. Seorang ulama di Syiria pernah mengeluarkan pendapat yang sangat mengejutkan, bahwa pada dasarnya orang-orang yang peraya kepada ketuhanan Yang Maha Esa, berbuat baik, dan percaya pada hari kemudian, maka mereka akan selamat sesuai ayat yang tertera dalam Alquran. Ya, apabila kita telusuri, banyak ayat yang mengacu pada pandangan tersebut.
Ulama Syiria tersebut juga mengatakan bahwa Ibu Theresia/Teresa yang begitu besar dedikasinya terhadap kemanusiaan, dan pada saat yang bersamaan juga percaya bahwa Tuhan itu Esa, terlepas dari yang lainnya, maka ia bisa dikategorikan sebagai mereka yang dijanjikan tempat yang selamat oleh Tuhan. Atas dasar ini, kita semua perlu membuka wawasan kita, menerima perbedaan-perbedaan dan tidak mengecam perbedaan tersebut; karena kita semua adalah manusia yang diperintahkan untuk menjadi khalifah, atau pengganti yang memakmurkan bumi yang diciptakan untuk kita. Perlu digaris bawahi, pandangan-pandangan keagamaan yang terus diperdebatkan itu adalah hasil dari perjalanan sejarah, bukan hasil renungan dari Alquran.
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://youtu.be/qxP0zxbrgpQ?si=uYIXUnW7OImjerjM.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments