Adakah Surga Bagi Orang Non Muslim yang Baik? Siapa Ahli Kitab dalam Al Quran? (Part 2)

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Prof. Dr. Ahli Shihab menjelaskan kontroversi terkait siapa sesungguhnya ahli kitab, dan bagaimana rahmat Allah terhadap umat non-muslim yang baik, di Podcast Alwi Shihab episode ke-18 ini. Simak juga bagian pertama dari topik ini di episode sebelumnya.

Refleksi Podcast Episode 18
C

Ahlulkitab sebagai Ummah Qaaimah: Pandangan Ahli Hukum dan Ahli Tasawuf

Perbedaan pandangan tentang siapa ahlulkitab terjadi di kalangan para ulama. Pandangan yang berbeda ini tentunya juga dipengaruhi oleh hubungan Islam-Kristen yang diliputi oleh konflik dalam waktu sejarah yang sangat panjang. Hal ini sangat tampak pada pandangan ulama yang mengatakan bahwasanya kemorosotan dunia Islam itu disebabkan karena adanya beberapa aliran yang lahir dalam tubuh umat Islam itu sendiri. Termasuk di dalamnya aliran yang ditokohi oleh Ibnu Taimiyah beserta hasil pemikirannya yang melarang umat Islam menjalin hubungan baik dengan umat Kristen. Perlu menjadi catatan, tidak semua pandangan Ibnu Taimiyah itu tidak baik, karena ada pula hasil dari ijtihadnya yang dapat diterima. Dalam kondisi demikian, tentu juga ada ulama-ulama yang memiliki pandangan lebih luas sebagai penyeimbang dunia Islam dalam merespon perkembangan zaman.

Ahlulkitab yang merupakan kelompok lurus/ummah qaaimah (QS. Ali ‘Imran: 113) adalah istilah yang tentunya menjadi pertanyaan banyak umat Islam. Karena, ahlulkitab dengan kategori ini termasuk dalam golongan para nabi. Para ulama tentu berbeda pandangan pada pemaknaan ini: pertama, kelompok ulama yang mengatakan bahwa ummah qaaimah ini adalah para ahlulkitab yang telah masuk Islam, sehingga tidak ada masalah jika mereka digolongkan dalam ummah qaaimah ini. Kedua, kelompok ulama yang  mengatakan bahwa mereka itu sungguh ahlulkitab (Yahudi dan Nasrani), tetapi mereka hidup di zaman sebelum pengutusan Nabi Muhammad saw. Dengan kata lain, mereka belum mengenal ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi saw. Ketiga, kelompok ulama (termasuk Syekh Ali Jum’ah) yang mengatakan bahwa sebenarnya istilah ahlulkitab sebagai ummah qaaimah itu mengacu pada ayat Alquran yang lain, yang isinya menerangkan bahwa di antara ahlulkitab itu ada pendeta-pendeta, pemuka-pemuka agama yang tidak arogan:

مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَّاَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ

“Karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri,” (QS. Al-Maidah: 82).

Syekh Ali Jum’ah menegaskan bahwasanya Alquran itu sangay objektif, fair, dan mengakui adanya kelompok-kelompok yang lurus. Kelompok yang lurus adalah kelompok yang percaya kepada Allah Swt., tidak memusuhi Nabi Muhammad saw., berpikir dan bersikap positif, dan mereka konsisten terhadap ajaran nabinya (baik Nabi Musa as. atau juga Nabi Isa as.). Pandangan ini dapat membawa kita semua pada penafsiran-penafsiran ayat Alquran yang dari segi bahasanya/linguistiknya berisikan pandangan bahwa sebenarnya memang ada dari kelompok ahlulkitab yang tidak perlu merasa khawatir akan kehidupannya kelak di akhirat. Ayat yang sangat populer tentang ini adalah QS. Al-Baqarah ayat ke-62 dan QS. Al-Maidah ayat ke-69, yang artinya: “Mereka yang beriman (orang-orang Islam), orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, orang-orang Saabi’iin (ada yang menganggap ini adalah agama yang sudah kuno yang sudah tidak ada, ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah bagian dari Kristen), mereka itu semuanya yang percaya kepada Allah, kepada hari akhir, dan hari kemudian, serta melakukan amal saleh; mereka akan mendapat ganjaran dari Yang Maha Kuasa. Dan dari itu mereka tidak perlu khawatir dan susah di hari kemudian.”

Implikasi dari ayat ini kemudian adalah timbulnya ulama yang menganggap bahwa ayat ini sudah tidak berlaku lagi (naasikh-mansuukh). Konsep naasikh-mansuukh ini juga menjadi perdebatan di kalangan para ulama sampai sekarang, ada yang memberlakukannya, dan ada juga yang tidak memberlakukannya. Ulama yang tidak memberlakukan konsep ini karena menganggap naasikh-mansuukh itu membuat ada ayat yang menghapus dan ayat yang dihapus. Ayat yang menghapus itu merupakan ayat yang baru turun kemudian. Dan bagi kelompok ulama kedua ini, konsep ini sangat tidak mungkin. Bagi mereka, sangat tidak mungkin Tuhan menghapus satu ayat lalu mendatangkan ayat yang lain. Memang, ada di dalam Alquran kata nansakh:

مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ اَوْ مِثْلِهَاۗ 

Kami tidak mungkin menghapus suatu ayat atau suatu tanda-tanda kebesaran Allah, kecuali digantikan dengan ayat yang sama (atau yang lebih baik,”  (QS. Al-Baqarah: 106).

Mereka yang berpendapat tentang adanya naasikh-mansuukh juga berbeda-beda pendapat. Ada yang menganggap bahwa yang dimaksud naasikh-mansuukh pada pemaknaan ayat tersebut adalah syariat yang ada sebelum Nabi Muhammad saw. diutus. Jadi maksud dari pandangan ini adalah, syariat di Taurat dan Injil itu terhapus dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw. Ini adalah perbedaan pendapat dalam rangka mencari solusi terhadap ayat ini yang menganggap adanya kelompok-kelompok yang beramal saleh, sebagaimana yang dijelaskan pada QS. Al-Baqarah ayat ke-62 dan QS. Al-Maidah ayat ke-69. Mayoritas ulama berusaha untuk menafsirkan ayat ini, bahwa ahlulkitab yang dimaksudkan itu adalah ahlulkitab yang sudah memeluk ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Tapi seperti yang telah dijelaskan, ada pula ulama yang menyanggah pandangan tersebut.

Hal tersebut adalah sebuah kontroversi/khilafiyah di antara para ulama. Kendati demikian, perlu digaris bawahi dalam menghadapi khilafiyah para ulama, yakni adanya kelompok-kelompok yang tidak black and white (yang tidak strict, umumnya mereka adalah kelompok yang berada di bidang hukum), yakni kelompok yang mengedepankan rahmat Tuhan. Kelompok yang mengedepankan rahmat Tuhan biasanya dipegang oleh kelompok –kelompok spiritual sufisme. Mereka memiliki alasan, bahwasanya Allah Swt. ini penuh dengan rahmat. Allah Swt. menyebut diri-Nya dengan dua nama yang selalu umat Islam baca setiap hari, yakni Al-Rahman (Maha Penyayang) dan Al-Rahim (Maha Pengasih). Jadi, kelompok ini mengacu bahwa Allah itu Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Dia/Allah tidak menggunakan nama-nama seperti Al-Jabbar (Maha Perkasa), Al-Qawwi (Maha Kuat), Al-Muhaimin (Maha Menguasai), Al-Qahhar (Maha Menaklukan), Al-Muntaqim (Maha Balas Dendam) dan Al-Mutakabbir untuk senantiasa dibaca berulang kali oleh hamba-Nya, melainkan justru Dia mengedepankan Al-Rahman dan Al-Rahim. Ini untuk menunjukkan bahwa Allah itu sangat rahmat.

Juga oleh Nabi saw. disampaikan bahwa pada hakikatnya ada 100 cabang rahmat, dan hanya satu rahmat yang diturunkan di bumi ini, sedangkan 99 lainnya ada bersama Allah Swt. Atas dasar ini, orang-orang yang sudah melakukan kesalahan-kesalahan berat, pada saat ia bertobat, maka Allah akan menerima kembali dan mengganti kesalahan-kesalahan yang besar itu menjadi amal yang baik. Sebagaimana bunyi firman-Nya:

اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ

“Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kesalahan yang besar itu kepada amal kebajikan,” (Qs. Al-Furqan: 70). Allah juga menyampaikan:

وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ 

“Rahmat-Ku ini meliputi semua alam semesta ini,” (QS. Al-A’raf: 156). Dan dikuatkan dengan firman-Nya:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ

Dan Allah sama sekali tidak akan berlaku zalim/semena-mena kepada hamba-Nya,” (QS. Fussilat: 46). Pada sebuah hadis Nabi Muhammad saw. disampaikan yang isinya melukiskan betapa rahmat Allah Swt. kepada hamba-Nya itu lebih banyak dibandingkan dengan kasih sayang ibu kepada anaknya.

Demikianlah pandangan kaum Tasawuf/sufi yang selalu mengedepankan hal-hal yang bisa mengajak kepada kebajikan dan mencerminkan rahmat Tuhan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, aliran yang menekankan rahmat Tuhan ini lebih longgar dalam melihat sesuatu dibandingkan dengan mereka yang menitik-beratkan pada hukum yang bersifat kaku/strict. Maka sangat wajar apabila kelompok-kelompok hukum pada masa lalu banyak yang memvonis orang-orang Tasawuf yang pandangannya menitik-beratkan pada rahmat Tuhan; sehingga, tokoh seperti Al-Hallaj dibunuh, sufi besar Suhrowardi juga dibunuh. Kemudian datang Al-Ghazali yang mengambil jalan tengah dan mengatakan bahwa para tokoh sufi tersebut sebenarnya tidak melakukan dosa, mereka mendapatkan ilmu dari Tuhan yang sebenarnya tidak perlu diutarakan kepada masyarakat umum/luas, tetapi mereka tetap percata dan dekat kepada Allah Swt. (tetapi dari segi hukum, para tokoh tersebut tetap dianggap bermasalah).(IL/AKR)

Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=oWavzoqDAsM&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=96.

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...