Adakah Surga Bagi Orang Non-Muslim? Al-Quran Sangat Fair! (Part 1)
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Non-Muslim, tapi baik, masuk surga atau neraka? Simak penjelasan lengkap Prof Dr. Alwi Shihab. Klik juga episode sebelumnya, Interaksi Islam VS Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani): Podcastalwishihab – 16-interaksi-islam-vs-ahli-kitab-yahudi-nasrani
Refleksi Podcast Episode 17
Ahlulkitab yang Menjadi Bagian dari Golongan Al-Shaalihiin
Ada keistimewaan yang membuat terjalinnya hubungan yang harmonis antara kelompok Islam dan Kristen, dan dibuktikan dalam peristiwa: hijrahnya para sahabat mencari suaka ke Raja Negus di Ethiopia; dan Raja Muqauqis dari Mesir yang memberikan hadiah pada Rasulullah saw. Keistimewaan tersebut disebabkan perintah Allah Swt. yang meminta Rasulullah saw. mencari titik temu bersama para ahlulkitab. Umumnya, jika seseorang merasa dekat dan akrab dengan orang lain, maka orang-orang tersebut akan selalu berusaha untuk mencari titik temu agar hubungan itu jadi semakin erat. Perintah ini termaktub dalam firman-Nya yang berbunyi:
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا
“Katakan (Muhammad) kepada ahlulkitab (Kristen dan Yahudi), mari kita mencari titik temu yang mulia antara kami dan kamu. (Apa titik temu yang tidak didapatkan bersama kaum musyrikin? titik temu itu adalah kami dan engkau percaya bahwa Tuhan adalah pencipta) dan dari itu, kita tidak beribadah/berbakti (solat, memohon ampunan, memohon pertolongan) kecuali hanya pada Allah. Dan kita tidak mempersekutukan Allah dengan siapapun dan apapun. (QS. Ali ‘Imran: 64). Isi ayat ini merupakan tanda bahwasanya Alquran mengajak ahlulkitab untuk mencari jalan bersama agar hubungan ahlulkita menjadi semakin akrab.
Alquran itu sangat positif sekali dan adil. Saat membincang sebuah isu, Alquran selalu fair, termasuk membincang ahlulkitab. Alquran mengatakan:
وَمِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مَنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُّؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ اِنْ تَأْمَنْهُ بِدِيْنَارٍ لَّا يُؤَدِّهٖٓ اِلَيْكَ اِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَاۤىِٕمًاۗ
“Dari kelompok ahlulkitab, apabila kamu memberikan amanat/harta yang besar dibandingkan Dinar, maka dia akan menunaikan amanat itu dan mengembalikan kepadamu, dan ada pula di antara mereka yang kamu beri amanat Dinar, dia tidak menjaga amanat itu kecuali kamu sungguh-sungguh untuk mengejar mereka,” (QS. Ali ‘Imran: 75). Seorang mufti Mesir, Syekh Ali Jum’ah mengatakan bahwa Alquran sungguh adil saat membincang ahlulkitab, tidak menjelekkan dan juga mengakui keistimewaan-keistimewaan yang mereka miliki. Konsep fair-nya Alquran ini disebut inshaaf atau objektivitas. Sesungguhnya yang demikian dapat diterjemahkan pada usaha untuk semua ahlulkitab secara bersama-sama menjalin hubungan yang baik.
Dengan semua penjelasan ini, perlu ditanamkan pada diri masing-masing, apabila ingin berargumentasi dengan sesama ahlulkitab, maka hendaknya dengan cara yang terbaik dan penuh kebijaksanaan. Terdapat ayat yang sangat menonjol yang membicarakan tentang ahlulkitab dan pemberian predikat golongan al-shaalihiin pada mereka. Golongan al-shaalihiin adalah kelompok yang didambakan oleh para nabi. Dan sungguh banyak ayat di dalam Alquran yang membincang tentang orang yang bertakwa/al-muttaqiin, orang yang adil/al-muqsitiin, orang yang berbuat baik/al-muhsiniin, dan al-shaalihiin. Di antara empat kelompok ini, al-shaalihiin adalah kelompok yang paling tinggi. Sehingga, Nabi Ibrahim as. pun memohon untuk dimasukkan kepada golongan al-shaalihiin kepada Allah Swt., sebagaimana bunyi ayat:
رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَۙ
“Ya Allah, berikanlah aku hikmah/ilmu, dan ikutkan saya dalam kelompok salihin/orang-orang yang saleh,” (QS. Al-Syu’ara: 83)
Alquran juga menggolongkan kelompok Kristen dan ahlulkitab sebagai al-shaalihiin. Terdapat ayat Alquran yang mengatakan keburukan dari sebagian ahlulkitab (kelompok Yahudi yang tidak mengindahkan perjanjian dan mengkhianati perjanjian dengan Rasulullah saw.), namun kemudian Alquran menambahkan dengan pernyataan penyeimbangnya:
لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Tapi mereka tidak semuanya sama, di antara ahlulkitab, ada kelompok yang lurus/konsisten pada kebaikan, yang senantiasa membaca teks-teks yang diturunkan oleh Allah Swt. pada malam hari, dan mereka itu menyembah Tuhan Yang satu, dan mereka percaya kepada Tuhan (yang mengutus para nabi), juga percaya hari kemudian, mengajak kepada hal-hal yang baik/makruf, berusaha untuk mencegah kemunkaran/kejelekan, dan selalu berada di garis dengan (cepat-cepat) untuk melakukan kebajikan-kebajikan, dan mereka itu termasuk orang-orang al-shaalihiin/yang baik,” (QS. Ali ‘Imran: 113-114).
Golongan al-shaalihiin adalah golongan yang paling tinggi, para nabi memiliki predikat ini, seperti Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa, dan Nabi Ilyas. Golongan al-shaalihiin adalah golongan orang yang senantiasa beramal saleh. Amal saleh adalah perbuatan yang tidak saja disebabkan dengan banyaknya ibadah (salat, puasa, dan haji berkali-kali), melainkan sebuah amal yang jika dilakukan oleh seseorang, amal itu akan diangkat langsung kepada Allah Swt. dan diterima sebagai amal yang sangat berharga. Amal saleh berbeda dengan amal hasan. Amal hasan adalah amal yang baik, tapi kalau amal saleh ini meliputi semua bentuk ibadah dan juga semua hal yang dilakukan adalah untuk kemanfaatan dan kebaikan manusia. Karena tingginya predikat ini, Alquran menyampaikan:
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
“Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman, dan mereka yang melakukan amal saleh,” (QS. Al-Ashr: 1-3). Jadi, diksi beriman dan beramal saleh dalam Alquran senantiasa disebut bersamaan.
Kembali pada pembahasan kelompok Kristen yang dianggap sebagai kelompok yang tulus, ikhlas, baik, lurus, percaya kepada Tuhan, percaya hari kemudian, menganjurkan hal baik, dan mencegah hal yang buruk, maka mereka itu adalah orang-orang dari golongan al-shaalihiin. Kemudian timbul pertanyaan: apakah ahlulkitab yang disebutkan dalam Alquran ini adalah para pengikut Nabi Musa dan Nabi Isa?; apakah ahlulkitab di sini bukan pengikut Nabi Musa dan Nabi Isa pada masa Nabi saw.? Para ulama berselisih pendapat perihal jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, dan Syekh Ali Jum’ah mengatakan bahwa ahlulkitab yang dimaksud adalah orang-orang Kristen dan Yahudi yang ada pada masa Nabi saw. Ahlulkitab di zaman Nabi saw. ada yang percaya kepada Tuhan Yang Maha esa, dan mereka memiliki predikat al-shaalihiin. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa ada dari kelompok Kristen yang bisa dikatakan sebagai golongan al-shaalihiin sebagaimana pernyataan Alquran.
Pandangan berbeda disampaikan oleh mayoritas ulama Muslim yang mengatakan bahwa ahlulkitab yang menjadi bagian dari al-shaalihiin adalah para ahlulkitab yang telah memeluk Islam. namun pernyataan ini dibantah oleh para ulama yang sependapat dengan Syekh Ali Jum’ah dengan mengatakan bahwa tidak mungkin Tuhan akan mengatakan mereka yang sudah masuk Islam dengan predikat Nasrani dan Yahudi (identitasnya), dan tidak mungkin juga Tuhan mengatakan bahwa mereka itu semua tidak sama. Ini menjadi pertanda bahwa ahlulkitab yang menajdi bagian dari al-shaalihiin adalah mereka dengan identitas syariat yang dibawa nabinya dengan indikator-indikator yang telah dijelaskan.(IL/AKR)
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=gY23XDjwYaQ&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=97.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments