Apakah demi Toleransi, Seorang Muslim Dibolehkan Ingkar seperti Ammar bin Yasir?

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Seluruh keluarga Ammar bin Yasir syahid disiksa kaum Quraish. Ammar adalah satu-satunya yang bertahan, sehingga harus menanggung siksaan yang lebih pedih. Ia dipaksa mencaci Nabi Muhammad SAW dan keluar dari Islam. Karena tak tahan dengan deraan itu, Ammar pun menuruti apa yang dikatakan penyiksanya.

Refleksi Podcast Episode 101
C

Ingkar Demi Keselamatan Ala Ammar bin Yasir, Bolehkah Umat Islam Masa Kini Melakukan Hal Serupa?

Sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. memiliki kisah-kisah kegigihan atas keyakinan baru yang dipeluknya. Kisah-kisah kegigihan ini memiliki banyak pola berbeda dengan makna-makna yang berbeda pula. Hal ini disebabkan karena status ekonomi, status sosial, juga relasi kuasa yang mereka miliki berbeda-beda. Salah satu di antara sahabat Nabi saw. yang kisahnya penuh makna mendalam adalah kisah tentang Ammar bin Yasir. Ia adalah salah seorang yang merupakan bagian dari assabiqunal awwaluun, yakni orang-orang yang paling awal memeluk ajaran Nabi Muhammad saw. Karena menjadi orang yang pertama mengimani ajaran Nabi Muhammad saw., Ammar beserta keluarganya tentu tidak terlepas dari penyiksaan kaum kafir Quraish yang menginginkan mereka meninggalkan keyakinan barunya itu. Hingga pada penyiksaan yang teramat pedih dan dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, Ammar justru mengucapkan kalimat kemusyrikan agar penyiksaan tersebut dapat ia atasi.

Saat menyadari bahwasanya ia telah mengucapkan kalimat kemusyrikan, ia menyesal dan menyampaikan apa yang terjadi padanya kepada Nabi saw. Nabi Muhammad saw. mendengarkan dan menenangkannya, juga memintanya melakukan hal serupa apabila penyiksaan kembali dialami olehnya. Apa yang Nabi Muhammad saw, anjurkan padanya ini tidak lain adalah untuk menyelamatkan jiwanya tanpa mengubah keyakinan yang terdapat dalam hati nuraninya. Atas persitiwa inilah kemudian turun Alquran surah Al-Nahl ayat 106 untuk membebaskan Ammar bin Yasir dari beban atas pengingkaran lisan yang ia lakukan. Menjadi pertanyaan kemudian, apakah kebolehan terhadap sikap Ammar bin Yassir/ingkar atas keyakinan diri -yang dimafhumkan oleh Nabi Muhammad saw. juga diabadikan dalam Alquran- ini juga berlaku untuk umat Muslim saat ini atas dasar toleransi, kebersamaan, atau kondisi lainnya?

Alwi Shihab merespon pertanyaan tersebut dengan menjawab, bahwasanya apa yang terjadi terhadap Ammar bin Yasir berawal dari penyiksaan yang Ammar dan keluarganya terima dari para kaum kafir Quraish. Perlu digaris-bawahi bersama, pengingkaran yang Ammar lakukan adalah karena terpaksa. Jika ia tidak melakukan hal tersebut, nasibnya akan sama dengan nasib kedua orang tuanya, yakni telah terlebih dahulu menjadi syahid dalam penyiksaan karena memegang teguh keimanan. Ya, kedua orang tua Ammar bin Yasir adalah para syuhada yang tidak syahid dalam medan pertempuran dengan membawa senjata, namun mereka mendapat ganjaran syahid karena keteguhan dirinya dalam mengesakan-Nya. Atas apa yang Ammar bin Yasir lakukan ini, kemudian turunlah Al-Nahl ayat 106,

مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَىِٕنٌۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Alwi Shihab menafsirkan, yakni dalam hal-hal semacam itu (pengingkaran Ammar bin Yasir), Allah Swt. mengetahui apa yang terdapat dalam jiwa dan hati seseorang; dan pengingkaran itu ia lakukan bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan karena terpaksa tanpa pengingkaran sejati dalam hati.

Perlu diperhatikan, Alwi Shihab menegaskan, bahwasanya peristiwa yang terjadi pada Ammar bin Yasir tidak boleh kita jadikan dalih atau alasan untuk mengingkari apa yang telah kita yakini saat ini (apapun keyakinan yang kita pegang) hanya untuk toleransi dan lainnya. Untuk alasan-alasan seperti itu saat ini, siapapun tidak perlu mengatakan bahwa agamanya kurang sempurna hanya karena ia tidak mampu mengorbankan toleransinya kepada pihak lain dengan cara mengingkari keimanannya. Dalam toleransi beragama, setiap pemeluk agama tidak perlu seperti itu. Khususnya bagi umat Islam, ajaran agama Islam mengajarkan para pemeluknya agar meyakini agamanya tersebut sebagai agama yang paling benar, sebagaimana halnya para umat Muslim juga memberi ruang kepada pemeluk agama lain untuk menyatakan hal yang sama (agamanya adalah yang paling benar menurutnya). Dengan demikian, kita sebagai pemeluk suatu agama di zaman saat ini, tidak perlu mengorbankan keyakinan kita dengan mengatakan bahwa agama kita buruk, jelek, dan lain sebagainya untuk mencapai sebuah makna toleransi, atau hanya karena ingin mendapatkan sesuatu.

Alwi Shihab mengisahkan, suatu waktu, ia pernah terkejut saat berkunjung ke Amerika Serikat. Rasa terkejutnya itu disebabkan karena ia menemui seseorang bernama Muhammad namun ia tidak lagi memeluk agama Islam. Ia tidak memiliki iman yang kuat dan melakukan perubahan terhadap keyakinannya untuk mendapatkan suatu pekerjaan yang diinginkan. Menurut Alwi Shihab, alasan yang demikian tidak bisa diterima oleh agama sebagaimana yang terjadi pada Ammar bin Yasir. Bagaimanapun, kondisinya tidaklah sama, dan seyogyanya yang bersangkutan mau berjuang untuk mendapatkan pekerjaan tanpa mengorbankan agamanya, atau juga berpindah agama.

Pada kondisi-kondisi seperti ini, Alwi Shihab mengembalikan semuanya pada hati nurani yang dimiliki setiap para pemeluk agama, khususnya Islam; karena Allah Swt. yang akan melihat, sampai dimana hati nurani hambanya (dengan keyakinan yang dipeluknya masing-masing), apakah ia betul-betul terpaksa mengatakan hal-hal yang buruk tentang agamanya, seperti contoh terdapat senjata dihadapannya, yang membuat kondisinya sepadan dengan Ammar bin Yasir; atau hanya alasan-alasan tersebut diada-adakannya saja (dibuat-buat). Untuk alasan yang dibuat-buat tanpa diusahakan terelebih dahulu, maka sesungguhnya orang tersebut tidak mempercayai rahmat Allah Swt.; ia tidak mempercayai, bahwasanya rejeki yang diterima oleh manusia tidak saja merupakan hasil kerja kerasnya, melainkan juga atas rida dan juga limpahan rahmat Allah Swt. Sehingga, untuk dua alasan yang berbeda, maka kebolehan ingkarnya pun tak sama. (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=Yz3sdVe6TEU&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=11 dengan judul “Apakah Demi Toleransi, Seorang Muslim Dibolehkan Ingkar Seperti Ammar bin Yasir?”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...