Langkah Jitu Menjadi Muslim Toleran dan Rahmatan

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Simak #PodcastAlwiShihab Eps 112 bersama Prof. Alwi Shihab.

Chapters:
0:00 Pertanyaan diajukan oleh Moderator
0:45 Bagaimana Menjadi Umat Muslim yang Toleran dan Rahmatan?
3:30 Cara Menjadi Umat Muslim yang Toleran
5:09 Langkah-Langkah Toleransi dalam Al-Quran
5:11 Contoh Logis dalam Beragama
5:31 Interaksi yang Toleran dalam Beragama Seperti Apa?
6:28 Islam sebagai Agama yang Toleran dan Rahmatan

Refleksi Podcast Episode 112
C

Langkah Jitu Menjadi Muslim Toleran dan Rahmatan

Semua insan mendamba kehidupan bersama yang penuh kedamaian dan ketenangan. Adanya perbedaan dalam aspek-aspek kehidupan, khususnya aspek agama/keyakinan, acap membuat insan memiliki dilema tentang apa saja langkah yang harus ditempuh. Pedoman akan langkah ini menjadi suatu hal yang penting, agar sesama manusia tidak mengusik keyakinan liyan atau mencampur adukkan keyakinan diri. Terlebih dalam ajaran Nabi Muhammad saw. yang membawa misi kerahmatan, bagaimanakah sikap toleran yang seharusnya seorang Muslim lakukan?

Alwi Shihab menjawab pertanyaan ini dengan menyampaikan dua langkah dasar: pertama, siapa pun harus mengetahui bahwa perbedaan di antara sesama manusia bukanlah keinginan manusia, melainkan keniscayaan (kehendak Tuhan). Kedua,  setelah mengetahui bahwa perbedaan adalah kehendak Tuhan yang tidak bisa kita sangkal, maka tugas kita adalah merawat perbedaan itu dengan baik. Merawat perbedaan dapat dilakukan dengan cara: mempelajari titik perbedaan diri dengan liyan; mau mendengar, menghargai dan mengetahui apa-apa yang disampaikan liyan; serta tidak menolak mentah-mentah apa yang disampaikan liyan. Cara-cara ini harus dilakukan karena, “Terkadang penjelasan yang berbeda dari liyan akan membuka wawasan (baru bagi) kita,” ungkap Alwi Shihab.

Dengan mendengarkan apa yang diyakini liyan atas pemahaman dan perspektifnya itu sama halnya dengan kita mengisi ketidak-tahuan diri terhadap detail perbedaan yang ada. Dari momen saling mendengarkan inilah kemudian menimbulkan sikap saling mengerti, mengetahui, dan menyadari bahwa perbedaan tidak bisa disatukan. Kesadaran ini akan membawa setiap manusia untuk dapat menghormati apa yang menjadi pilihan orang lain. Ya, perbedaan yang dirawat dengan baik dapat melahirkan rasa dan sikap menghargai (toleransi). Sebagaimana QS. Saba’ ayat 25:

قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ۝٢٥

“Mereka yang berbeda dengan kalian (umat Islam), katakan pada mereka, “Kalian tidak dan tidak akan bertanggung jawab terhadap apa yang kami yakini sebagai Muslim. Juga, kami tidak akan bertanggung jawab atas apa yang kamu/kalian lakukan.”

Ayat ini mengarahkan agar kita bersama-sama menganggap bahwa kita tidak bertanggung jawab dan juga mereka tidak bertanggung jawab (atas apa yang diyakini dan dilakukan liyan, masing-masing manusia bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing). Karena sebagaimana bunyi lanjutan ayat, QS. Saba’ ayat 26:

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّۗ …

 “Kalian nanti akan kembali kepada Yang Maha Kuasa dan Dia-lah yang akan membuka (tentang) siapa yang benar dan siapa yang salah.”

Dengan jelas ayat ini menjelaskan alasan mengapa kita tidak harus merasa repot akan apa-apa yang dipilih oleh liyan, karena pada akhirnya kita akan kembali pada-Nya; dan Dia yang akan menentukan tentang perkara mana yang benar dan salah di antara kita.

Alwi Shihab menegaskan, “Kalau kita memiliki pandangan yang diarahkan oleh Alquran ini, (maka) kita bisa menutup celah-celah perbedaan yang bisa menimbulkan konflik.” Dengan kata lain, menjadi toleran adalah kunci untuk menghindari konflik yang dapat terjadi disebabkan perbedaan-perbedaan yang menjadi kehendak Tuhan ini. Prinsip menjadi toleran yang dapat ditanamkan/di-souunding-kan pada masing-masing individu adalah:

  1. Kami menghormati pandangan anda;
  2. Kami tidak akan bertanggung jawab terhadap apa yang anda lakukan;
  3. Kami berharap, anda juga menghormati pandangan kami;
  4. Anda tidak bertanggung jawab atas apa yang kami lakukan, dan sebaliknya;
  5. Mari kita serahkan semuanya pada Tuhan;
  6. Penentuan kebenaran adalah hak prerogratif Tuhan.

Dengan menanamkan prinsip-prinsip ini, kita maupun liyan dapat saling berinteraksi dengan hangat tanpa harus kehilangan jati diri yang menjadi identitas khas masing-masing pribadi. Hal ini dikuatkan oleh QS. Al-Maidah ayat 8:

…وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ

“Jangan karena kita memiliki rasa tidak senang  terhadap suatu kelompok, menjadikan dia tidak berlaku adil dengan mereka. Lalu kamu menganggap dia salah walaupun dalam hal yang sebenarnya dia benar.”

Ayat tersebut tidak saja berlaku dalam perbedaan antar kelompok agama/keyakinan, tetapi juga dalam bentuk perbedaan lainnya, madzhab, harakah, pemikiran, dan lainnya. Ayat-ayat yang telah disebutkan adalah bukti bahwa kita sudah dituntun oleh kitab suci perihal cara-cara untuk menghindari konflik di antara kita. Dengan mengikuti langkah-langkah toleransi dalam Alquran, secara bersamaan kita sedang menciptakan suatu suasana yang penuh dengan kedamaian dan kerahmatan. Sehingga, kita tidak perlu lagi berdebat dengan kawan yang berbeda keyakinan, karena kepercayaan tidak bisa diukur secara ilmiah, (kepercayaan) bisanya diukur di hati. Ilustrasi untuk memudahkan bagaimana keyakinan itu tidak bisa diukur itu seperti: Saya percaya, istri saya yang paling cantik; saya harus percaya pandangan anda bahwa istri anda istri paling cantik di dunia ini; demikianlah perasaan cinta (bagi masing-masing jiwa).

Dalam kehidupan beragama, kita tidak boleh mengatakan dan menghukumi agama orang lain salah. Ini harus sungguh-sungguh dihindari bersama. Kita semua harus bersama menciptakan kehidupan yang dipenuhi sikap toleransi dengan menyampaikan apa yang diyakini diri, mendengarkan apa yang diyakini orang lain, sehingga menimbulkan titik-titik temu dalam perbedaan. Sebagaimana esensi dari ayat ke-64 surah Ali ‘Imran, “Mari kita cari titik temu diantara kita.” Di antara titik temu agama-agama adalah semua umat beragama tidak menyekutukan Tuhan dan menyembah hanya pada-Nya. Ringkasnya, menjadikan Islam sebagai agama yang rahmatan adalah menciptakan kedamaian dan perdamaian serta menjauhi/menghindari permusuhan, sesuai dengan langkah-langkah yang telah diresepkan oleh kalam Tuhan.

Alwi Shihab menekankan, “Peperangan antar umat Islam, Kristen dan Yahudi bukan peperangan antar agama, melainkan peperangan antar ‘umat’ yang memeluk suatu agama.” Ya, kita tidak bisa melihat tragedi-tragedi serupa sebagai peperangan antar agama, melainkan antar umat beragama. Ini adalah dua hal yang berbeda. Realita yang terjadi dalam perang antar umat beragama (contoh Perang salib) bagi para tokoh agama saat ini dianggap sebagai kekeliruan ‘umat’ beragama di masa lampau dalam memposisikan dan memahami ajaran agama. Kekeliruan tersebut kemudian menciptakan pertempuran yang begitu dahsyat disertai trauma dalam jejak sejarah umat beragama.

Menutup paparannya, Alwi Shihab menegaskan, bahwa Islam yang toleran dan rahmatan dapat terwujud apabila umat Islam mampu bergaul dengan baik dengan liyan, menyikapi perbedaan dengan tenang, tidak gampang menuding orang ‘kalian akan masuk neraka dan kami akan masuk surga,’ serta menyadari bahwa klaim kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan. Jadi, sudah sejauh mana kita melangkah untuk mewujudkan visi Islam ini? (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=qtyqyQ1nZCM&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=2 dengan judul “Langkah Jitu Menjadi Muslim Toleran dan Rahmatan.”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...