Apakah Kaum Yahudi dan Nasrani dalam Surat Al-Baqarah Masih Ada dalam Era Sekarang Ini?
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Apakah Kaum Yahudi dan Nasrani dalam Surat Al-Baqarah Masih Ada dalam Era Sekarang Ini? Simak tanya jawab bersama Prof. Dr. H. Alwi Shihab dalam Podcast Alwi Shihab episode ke-63 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 63
Memuliakan Semua Manusia Tanpa Stigma: Menghidupkan Surah Al-Baqarah Ayat 62
Sejarah bersama antar umat beragama dunia mencatat, terdapat memori baik dan buruk yang terjadi di masa lampau. Perihal bagaimana umat beragama yang satu menjalin hubungan dengan umat beragama lainnya juga menjadi suatu hal yang senantiasa diserukan oleh masing-masing pemuka agama. Kemampuan membaca, menganalisa dan memahami merupakan kompetensi yang sangat mempengaruhi bagaimana para pemuka agama menyampaikan teks suci beserta sejarah yang terjadi sepanjang perjalanan hidup umat antar agama. Sehingga dapat ditemukan bersama, terdapat pemuka agama yang sedikit keras, lentur, bahkan sangat lentur dalam menyikapi relasi antar umat beragama. Umumnya umat Muslim mengakui, bahwa Alquran memuat banyak hal yang bisa diimani; namun, karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan, juga penafsiran-penafsiran yang beragam, tak ayal membuat umat Muslim yang awam dilanda kebingungan. Seperti yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah, 62:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ٦٢
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta melakukan kebajikan (pasti) mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih hati.”
Jika menelisik surah tersebut, seyogyanya tidak ada lagi sesuatu yang menjadi bahan perdebatan antar umat beragama. Akan tetapi, pada realitanya, diduga telah terjadi banyak peristiwa yang mengarah pada pergeseran-pergeseran ajaran. Realita ini turut memberi dampak pada penafsiran para ulama terhadap kelompok-kelompok agama yang disebutkan dalam ayat ke-62 surah Al-Baqarah ini. Penafsiran-penafsiran ini kemudian berdampak pula pada bagaimana umat Muslim memandang kelompok tersebut. Dampak terburuknya adalah lahirnya stigma-stigma negatif yang memperburuk hubungan antar umat beragama. Menjadi pertanyaan bersama, sesungguhnya, apakah kaum Yahudi dan Nasrani yang dimaksudkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 62 ini masih ada di era saat ini?
Merespon pertanyaan ini, Alwi Shihab memberikan pemetaan yang baik saat memberikan jawaban. Beliau menyampaikan, bahwa ada tiga kelompok Yahudi dalam Alquran, yakni Bani Israil, Al-Yahuud, dan Al-Ladziina Haaduu. Alquran menggunakan diksi Al-Yahuud sering kali untuk menggambarkan hal yang negatif, bahkan kecaman. Berbeda dengan Al-Yahuud, penggunaan diksi Al-Ladziina Haaduu merujuk pada makna: kembali pada, atau yang tobat. Penggunaan diksi Al-Yahuud seperti yang tertera pada QS. Al-Tawbah, 30:
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ࣙابْنُ اللّٰهِ…
“Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah”…”
Dan juga pada QS. Al-Maidah, 64:
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ يَدُ اللّٰهِ مَغْلُوْلَةٌۗ …
“Orang-orang Yahudi berkata bahwa tangan Tuhan itu terbelenggu…”
Jadi, ada konotasi negatif pada penggunaan diksi Al-Yahuud dalam Alquran, termasuk kecaman terhadap sebagian dari mereka, bukan semua. Perlu menjadi perhatian bersama, kecaman tersebut diperuntukkan bagi sebagian dari kaum tersebut, bukan seluruhnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Maryam ayat 58, bahwasanya Bani Israil itu adalah:
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ مِنْ ذُرِّيَّةِ اٰدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۖ وَّمِنْ ذُرِّيَّةِ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْرَاۤءِيْلَۖ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَاۗ اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُ الرَّحْمٰنِ خَرُّوْا سُجَّدًا وَّبُكِيًّا ۩ ٥٨
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yakni para nabi keturunan Adam, orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, keturunan Ibrahim dan Israil (Ya‘qub), serta orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka tunduk, sujud, dan menangis.”
Alwi Shihab melanjutkan, bahwa kecaman terhadap Bani Israil yang terdapat dalam Alquran itu berbentuk alaa lisaan, atau menggunakan ucapan Nabi Isa as. dan Nabi Daud as. Kedua nabi ini adalah sosok yang menyampaikan bahwa kaum Bani Israil itu adalah kaum yang dilaknat. Namun, jika kita kembali membaca Al-Baqarah ayat 62, haaduu pada ayat ini tentu berbeda makna dengan Al-Yahuud. Sehingga jelas, tidak bisa kita menganggap bahwa kecaman laknat kepada Bani Israil itu berlaku untuk seluruh Bani Israil. Hal ini disebabkan karena yang disebut dalam Alquran dengan ucapan Nabi Daud as. dan Nabi Isa as. itu merupakan pengalaman kedua nabi tersebut terhadap Bani Israil. Kecaman tersebut tidak berlaku sama rata kepada seluruh Bani Israil, karena Bani Israil ini termasuk juga para nabi-nabi Allah yang lain, seperti Nabi Yusuf as., Nabi Isa as., Nabi Daud as., Nabi Harun as., Nabi Musa as., mereka semuanya merupakan bagian dari Bani Israil, namun bukan bagian dari Bani Israil yang mendapat kecaman laknat.
Ada kelompok dari Bani Israil yang berpandangan, bahwa yang menyebut laknat itu adalah Nabi Isa as. dan Nabi Daud as. Hal ini juga terdapat dalam QS. Al-Baqarah, 65:
… كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ ٦
“Jadilah kalian jadi kera yang hina.”
Kecaman laknat di sini ditujukan untuk kelompok kecil dari suatu daerah. Sehingga, tidak bisa umat beragama saat ini menyama-ratakan bahwasanya semua Bani Israil itu dilaknat; karena Bani Israil ini besar sekali, luas sekali, dan Bani Israil pernah mendapatkan kehormatan, seperti yang diabadikan dalam QS. Al-Baqarah, 47:
يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ٤٧
“Wahai Bani Israil, ingat sewaktu nikmat-Ku Saya anugerahkan kepada kalian dan Aku jadikan kalian menjadi lebih mulia daripada segenap alam ini.”
Tentunya kehormatan ini juga hanya berlaku pada Bani Israil tertentu.
Alwi Shihab menekankan, berdasarkan jawaban yang telah dipaparkan, maka kita tidak bisa menganggap bahwa orang Yahudi ini semuanya dilaknat; karena yang dilaknat itu adalah sebagian dari orang-orang Bani Israil. Hal ini dikuatkan karena keberadaan kalimah al-hurf “min” yang memiliki arti ‘sebagian’, bukan semuanya, pada ayat-ayat yang berisikan kecaman laknat. Min yang bermakna sebagian ini tentu memiliki maksud tertentu, yakni supaya kita dapat membedakan. Dengan kata lain, orang Yahudi jelas termasuk Ahlul kitab yang disebutkan dalam Alquran; dan semua Ahlul kitab itu tidak semuanya sama, ada di antara mereka yang baik. Hal ini dicontohkan dalam keteladan Nabi Muhammad saw., di waktu kelompok Nabi saw. sedang memiliki relasi yang tidak baik bersama kelompok Yahudi Madinah (karena mereka menganggap bahwa ekonomi kelompok mereka yang sedang terpuruk disebabkan sistem yang disepakati dengan kelompok Nabi Muhammad saw.). Ada seorang Yahudi yang meninggal dan arak-arakan jenazah tersebut melewati Nabi saw. Kemudian Nabi saw. yang sedang duduk langsung berdiri. Seorang sahabat Nabi saw. berkata, “Itu orang Yahudi.” Nabi saw. merespon, “Iya. Bukankah dia itu seorang manusia yang dimuliakan Tuhan? Wa laqad karramnaa banii aadama, Kami telah memuliakan anak-anak Adam.”
Jawaban Nabi saw. ini juga terdapat dalam QS. Al-Isra’, 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ ٧٠
“Sangat Kami muliakan keturunan Adam dan Kami sebarkan segala yang beradad di darat dan di lautan, juga Kami mengutamakan mereka lebih utama dari makhluk lainnya.”
Alwi Shihab memberikan kesimpulan, bahwa kita tidak bisa serta merta megeneralisir bahwa orang Yahudi pasti dilaknat. TIDAK; karena tentu ada orang Yahudi yang baik sebagaimana dikatakan Alquran. Para pembaca pun dapat berandai-andai dan mengusahakan bersama, apabila kita sebagai umat beragama mampu mengambil poin utama dari penjelasan Alwi Shihab ini, tentu tidak akan ada stigma dan phobia terhadap kelompok agama tertentu, baik itu kepada kelompok Yahudi, Kristen, Islam, juga kelompok agama lainnya yang ada di dunia. Terlepas dari agama-agama berbeda yang menjadi identitas seluruh manusia, perbedaan tersebut tidak menghapus identitas bersama yang dimiliki semuanya, yakni sama-sama keturunan Adam yang dimuliakan oleh Tuhan YME. (IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=LqO1Po3pEN0&list=PLWuE9NE-a3Bg3JdQtJ-GmoLls-axhwkaV&index=49 dengan judul “Apakah kaum Yahudi dan Nasrani yang diceritakan dalam surat Al Baqarah masih ada dalam Era sekarang ini?
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments