100 Tahun Pertama Perkembangan Islam
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Podcast Alwi Shihab episode ini akan membahas bagaimana perkembangan Islam di masa awal. 100 tahun pertama, Islam menjalar bagaikan api yang tidak terbendung sampai melampaui 3 kali kekuasaan kerajaan romawi. Namun suatu masa terjadi kemerosotan, umat Islam terpuruk. Apa penyebabnya? Dan bagaimana upaya yang dilakukan di masa tersebut? Apakah kejayaan Islam berhasil kembali? Kenapa malah belakangan muncul Islamophobia?? Mari kita simak Podcast Alwi Shihab episode ke-61 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 60
Kilas Balik Peradaban Islam Era Awal Hingga Era Kontemporer
Mempelajari sumber teks ajaran Islam, berarti juga mempelajari sejarah yang sudah terjadi sejak era Nabi Muhammad saw. hingga saat ini. Menafikan pengetahuan sejarah, akan membuat teks sakral kehilangan esensinya. Untuk itu, Alwi Shihab membantu kita untuk memiliki gambaran umum tentang apa saja yang terjadi dalam peradaban Islam selama hampir 15 abad tersebut.
Perkembangan Islam pada masa awal tentu saja dimulai dengan masa khalifah-khalifah Nabi saw. Dimulai dari Sayyidina Abu Bakar sampai Sayyidina Ali, itu adalah masa yang betul-betul dapat dipertanggung-jawabkan nilai-nilai Islamiyah luhur dan dijalankan secara baik. Walaupun, di masa ini ada hal-hal yang mengganggu, tetapi sama sekali tidak mengganggu penyebaran Islam di mana-mana. Setelah masa 4 khalifah tersebut, kemudian peradaban Islam diwarnai dengan lahirnya Dinasti Bani Umayyah yang secara mencolok mengganti sistem kekhalifahan menjadi sistem semacam kerajaan. Disebut sistem kerajaan atau monarki karena penguasa ditunjuk bukan karena keahlian atau keilmuan, tetapi karena hubungan darah. Jadi, Muawiyah digantikan oleh anaknya dan seterusnya. Dan ini adalah suatu hal yang dinilai oleh para sejarawan terdapat sedikit penyimpangan, tetapi tidak mengapa. Selama 90 tahun Bani Umayyah berkuasa (661-750 M), ekspansi Islam sangat luar biasa. Dan, akhirnya digantikan oleh Dinasti Abbasiy atau Al-Abbasiyah.
Pada masa ini (Dinasti Al-Abbasiyah), 750-1258 M, umat Islam berada di masa era kejayaan. Di masa ini, keterbukaan, pemikiran rasional sangat dijunjung tinggi. Sehingga, boleh dikatakan bahwa renaissance di Eropa banyak sekali dipancarkan oleh masa kejayaan Islam di masa Abbasiyah.
Pada masa Dinasti Abbasiyah inilah umat Islam selalu (semacam) bernostalgia, kapan Islam bisa kembali ke masa-masa kejayaan. Tetapi, ternyata hari ini kita sebagai umat Islam juga bertanya-tanya, apakah kita sudah puas sebagai seorang muslim untuk menonjolkan kehebatan kita di dunia ini?
Ini adalah pertanyaan yang perlu dijawab. Mengingat perkembangan Islam yang begitu pesat pada awalnya. Sampai-sampai, pada 100 tahun pertama, Islam telah menjalar bagaikan api yang menjalar dan tidak bisa terbendung. Sampai-sampai kekuasaan Islam (umat Islam pada masa-masa itu) melampaui tiga kali kekuasaan kerajaan Romawi. Sungguh suatu prestasi yang luar biasa.
Masa kekuasaan Abbasiyah dengan segala prestasinya merupakan suatu peradaban yang sangat maju dan dikenang oleh peradaban dunia secara keseluruhan. Bahkan, peradaban Barat banyak juga yang mengambil hasil karya dari pada tokoh-tokoh yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah tersebut. Ini sangat mungkin terjadi, dengan masa kuasa yang berlangsung lebih dari 500 tahun. Dalam kurun waktu ini, kekuasaan Dinasti Abbasiyah sudah sampai Eropa dan dataran India. Semua itu menunjukkan bahwa ada potensi dari ajaran Islam ini untuk bisa menyampaikan misinya secara baik dan diterima oleh masyarakat luas.
Setelah Perang Dunia I, dan setelah jatuhnya kesultanan Turki (1922 M), kejayaan dunia Islam perlahan-lahan merosot. Apalagi setelah adanya gempuran dari Mongol dan adanya peperangan yang terjadi selama 200 tahun dengan Kristen. Akhirnya, timbullah pemikiran-pemikiran di dunia Islam dengan melihat apa yang sedang terjadi dan dari nasib yang sedikit tidak beruntung karena terpojok oleh serangan Mongol dan kekuatan Kristen. Pada saat itu, banyak ulama yang merenung, apa penyebab daripada kemerosotan ini? Dari hasil renungan mereka inilah kemudian timbul pemikiran-pemikiran yang membawa mereka pada inti pokok jawabannya, yakni realita yang sedang menimpa umat Islam yang telah banyak meninggalkan ajaran-ajaran Islam sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw. Peninggalan terhadap syariat Islam dan penyimpangan-penyimpangan itu menjadikan umat Islam terpuruk. Di antara penyimpangan yang dicatat adalah adanya kontaminasi dari ajaran-ajaran yang berasal dari luar ajaran Islam. Sehingga, kemudian timbullah upaya untuk melakukan reformasi, yakni melakukan pemurnian terhadap ajaran-ajaran Islam.
Pada abad awal ke-20, lahir dua gerakan/pemikiran pemurnian Islam yang dipelopori oleh: pertama, kelompok Salafi Wahabi, dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahab; kedua, kelompok pembaharu yang dipelopori oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Syekh Muhammad Abduh. Kedua kelompok ini mempunyai niat yang tulus untuk mengembalikan kejayaan Islam dan mencari jalan bagaimana agar umat Islam kembali kepada kejayaannya dengan menggelorakan misi dan visi Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Kendati memiliki niat tulus yang sama, namun dua gerakan reformasi ini sedikit berbeda. Kelompok pertama mempunyai visi yang agak keras, yaitu yang dikenal sekarang sebagai Salafi. Perlu menjadi catatan, di kelompok Salafi ini juga, ada yang keras dan ada yang moderat. Kelompok moderat dari kelompok Salafi memiliki pandangan, bahwa mereka menganjurkan pemurnian tetapi tidak menganjurkan untuk pemurnian itu harus dengan cara yang keras. Nah, cara yang keras inilah yang sering terjadi akhir-akhir ini, yang menimbulkan kekisruhan dan image yang buruk di mata dunia; termasuk di mata sesama umat Islam secara keseluruhan terhadap praktik-praktik keras mereka ini.
Menjadi bagian dari kelompok Salafi yang tergolong keras antara lain, ada kelompok Takfir Walhijrah yang bertanggung jawab membunuh Anwar Sadat; ada kelompok Bako Haram yang sekarang ini masih bergerak luas di Nigeria; dan juga ISIS. Semua gerakan kelompok ini mencoreng nama baik Islam dan menjadikan dunia Barat yang tadinya tidak terlalu terang-terangan membenci Islam, akhirnya membenci ajaran Islam. Dan mereka membenci Islam sekarang secara terang-terangan. Fenomena ini tidak bisa dipisahkan dari propaganda yang begitu gencar setelah kejadian pemboman yang dikenal dengan tragedi Nine Eleven (11 September 2001). Sejak saat itu, islamofobia menjadi sebuah realita baru dalam kehidupan umat beragama. Phobia ini mengakibatkan banyak peristiwa yang tidak diinginkan. Seperti sebuah persitiwa di Kanada, seorang pemuda mengendarai mobilnya dan dengan sengaja menabrak satu keluarga (kalau tidak salah 4/5 korbannya). Dan 4 dari korban itu meninggal. Usut punya usut, peristiwa ini terjadi karena adanya kebencian yang berlebihan terhadap keluarga Islam. Tidak bersifat personal saja, bahkan secara terbuka, pejabat-pejabat pemerintah di Amerika kadang-kadang melontarkan kata-kata yang tidak sepantasnya terhadap umat Islam (Islam secara keseluruhan). Ini adalah satu rangkaian yang saling berhubungan, antara tindakan sebagian orang Islam yang keras dan dampaknya yang menjadikan umat Islam lainnya sebagai target pembalasan. Ini adalah gambaran dari kelompok pertama dari kelompok reformis Islam.
Adapun kelompok kedua dari kelompok reformis Islam adalah kelompok pembaharu. Para tokohnya ialah Syekh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. Pemikiran para tokoh dalam kelompok ini lebih moderat. Jadi, intinya oleh beliau-beliau ini, khususnya Muhammad Abduh, beliau mengajak umat Islam untuk tidak terlalu kaku di dalam berinteraksi dengan dunia Barat. Bahkan, beliau menganjurkan untuk mengambil hal-hal yang bagus, yang baik dari Barat untuk bisa diterapkan dalam hidup/kehidupan umat Islam. Dengan sikap ini, umat Islam dan kebudayaan Barat (juga orang-orang Barat) bisa bersahabat tanpa ada rasa kebencian. Kelompok kedua ini berusaha untuk mengembalikan kemurniaan Islam. Pada saat yang sama pula, mengembalikan kemurnian Islam ini diraih dengan tidak menggunakan kekerasan, tidak menggunakan caci maki, dan tidak menunjukkan suatu permusuhan kepada dunia luar.
Demikian kilas balik peradaban Islam yang terjadi hampir 15 abad. Alwi Shihab ingin kita mengetahui, menganalisa, dan merasakan, tentang bagaimana dan apa yang harus kita lakukan. Bagaimanapun, pilihan kita sekarang akan menjadi kilas balik peradaban bagi generasi mendatang. (IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://library.lklb.org/project/vpas-60/ dengan judul “100 Tahun Pertama Perkembangan Islam.”
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments