Bakpao Kejutan Asep

Cerita Pendek
C

Asep adalah seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang tinggal di sebuah gang sempit namun rukun di Bandung. Asep dikenal sebagai “si jagoan makan,” tapi dia punya satu aturan ketat: dia sangat teliti menjaga apa yang masuk ke perutnya.

Suatu siang, sepulang sekolah, Asep melihat Kakek Wong, tetangganya yang baru sembuh dari sakit, sedang duduk di teras depan mengukus bakpao putih yang montok dan harum. Kakek Wong memanggil Asep dengan ramah, “Eh Asep. Kadieu atuh (Mari ke sini), Sep. Makan bakpao bareng.”

Asep berhenti di depan pagar. Aroma dagingnya sangat menggoda, tapi tiba-tiba pikiran Asep berkecamuk. Ia ingat beberapa teman di sekolah pernah berbisik, “Hati-hati kalau makan di rumah orang yang beda agama, bisa jadi ada minyak babi atau daging haramnya.”

Asep berdiri mematung. Di satu sisi, ia sangat lapar. Di sisi lain, ada rasa takut yang muncul dari prasangka.

“Anu, Kek… itu… isinya apa ya?” tanya Asep ragu-ragu, wajahnya sedikit memerah.

Kakek Wong tersenyum, seolah sudah paham apa yang ada di pikiran Asep. Ia tidak marah, justru ia mengajak Asep duduk di kursi teras. “Asep, Kakek tahu kamu anak yang saleh. Kakek juga tahu di agamamu ada aturan tentang makanan halal. Itu sangat bagus, artinya kamu disiplin.”

Kakek Wong kemudian mengambil bungkus bakpao dari dapur. Di sana tertulis jelas label “Bakpao Ayam Spesial – Halal”.

“Kakek sengaja beli bakpao daging ini di pasar bawah, di kios Pak Haji Husin, supaya Kakek bisa berbagi dengan siapa saja,” lanjut Kakek Wong lembut. “Kakek ingin berbagi kebahagiaan karena Kakek sudah sembuh, dan Kakek belajar bahwa menghargai keyakinan tetangga adalah cara terbaik untuk berteman.”

Asep merasa dadanya hangat. Rasa takut yang tadi menyergap langsung luntur, digantikan rasa malu sekaligus haru. Ternyata, prasangkanya muncul hanya karena ia kurang berkomunikasi.

Asep pun menerima bakpao itu dengan kedua tangannya. Setelah membaca doa makan dengan lantang, ia menggigit bakpao yang lembut itu. Rasanya luar biasa enak—lebih enak dari biasanya karena ada bumbu “saling menghargai” di dalamnya.

Pesan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) 

Menjaga prinsip agama (seperti makan makanan halal) adalah kewajiban, namun berprasangka buruk tanpa bertanya adalah kekeliruan. Hubungan lintas agama dan budaya yang indah dimulai ketika kita berani bertanya dengan sopan (dari sisi Asep) dan ketika kita mau memahami kebutuhan orang lain (dari sisi Kakek Wong), demi kerukunan bersama.

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...