Apakah Mulanya Agama Itu Memiliki Nama? Kenapa Ada Banyak Agama di Dunia?
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Podcast Alwi Shihab episode 45 ini menjawab pertanyaan berikut ini:
Apakah pada mulanya agama itu memiliki nama? Apakah Tuhan memberikan nama-nama agama yg berbeda? Sangat tidak relevan jika kita seakan-akan membela Tuhan dengan alasan bahwa agar kita belajar dari perbedaan padahal kita hanya mau menutupi kesalahan manusia dalam menginterpretasi firman-Nya. Bagaimana menurut Bapak? (Anonim)
Refleksi Podcast Episode 45
Bagaimana Tuhan Menamai Ajaran Syariat yang Dibawa Para Utusan-Nya?
Mungkin pernah terlintas dalam benak kita semua, siapakah yang menamai agama-agama itu? Dan bagaimanakah Tuhan menamai ajaran-ajaran syariat yang dibawa para utusan-Nya? Apakah Tuhan memberikan nama-nama yang berbeda pada setiap syariat yang dibawa oleh utusan-Nya? Merespon hal ini, Alwi Shihab menyampaikan bahwa dalam tradisi agama Islam, agama yang diturunkan kepada para nabi itu dinamai Islam.
Islam adalah penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa. Sebagaimana bunyi firman-Nya:
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ
“Agama menurut Tuhan Yang Maha Esa adalah penyerahan diri kepada Allah Swt., Islam,” (QS. Ali ‘Imran: 19). Jadi, ketiga agama Abrahamik ini adalah menganut hal yang sama, yakni menyerahkan dirinya pada Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu disebutkan dalam Alquran:
مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Tidaklah Nabi Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, tetapi ia betul-betul yang menyerahkan diri pada Yang Maha Kuasa, dan ia tidak menyekutukan Tuhan dengan entitas/kekuatan apapun,” (QS. Ali ‘Imran: 67). Sehingga, nama yang benar-benar diberikan Allah Swt. kepada para nabi-nabi itu adalah agama yang disebut dengan nama Islam. Islam di sini bukanlah agama yang dibawa Nabi Muhammad saw, Nabi Musa as., maupun Nabi Isa as., melainkan yang dimaksud dengan Islam di sini adalah agama yang menyerahkan diri pada Yang Maha Kuasa.
Alquran juga mengabadikan hal yang diajarkan pada Nabi Muhammad saw.:
قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
“Katakanlah wahai Muhammad bahwa kami umat Islam ini mempercayai apa yang diturunkan pada kami dan pada nabi-nabi sebelumnya, yakni Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub dan keturunannya, serta Nabi Musa dan Nabi Isa. Kami tidak membedakan salah satu nabi, atau tidak memberi preferensi antara satu nabi dan nabi lainnya. Semuanya di mata Tuhan sama,” (QS. AL-Baqarah: 136). Sehingga, agama yang di dalam Alquran disebutkan, yakni agama yang ditetapkan oleh Allah Swt. adalah agama yang bernama Islam. Dan semua nabi-nabi yang diutus dan disebut dalam Alquran, mereka itu semua adalah muslimin, atau orang-orang yang menyerahkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu ada anjuran dalam Alquran yang berbunyi:
وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Jangan kamu meninggalkan dunia ini kecuali kamu menjadi orang-orang yang berserah diri pada Yang Maha Kuasa,” (QS. Ali ‘Imran: 102).
Berdasarkan paparan ini, sebagai sesama pengikut ajaran nabi-nabi yang diutus oleh-Nya, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan, maka kita semua bisa menganggap bahwa dasar doktrin yang bisa kita jadikan satu dan sama yakni tentang prinsip monoteis. Yang dimaksud dengan monoteis tidak lain adalah kita percaya pada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak menyekutukannya.(IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=SniRlWDlRGI&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=69.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments