Idul Fitri 2021 dan Kenaikan Isa Almasih Bersamaan. Begini Pesan Alwi Shihab!
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Tahun ini menjadi tahun yang cukup unik sebab perayaan Hari Raya Idul Fitri 1442 H dan peringatan Kenaikan Isa Al-Masih jatuh pada tanggal yang sama, yakni 13 Mei 2021. Begini pesan Prof. Dr. H. Alwi Shihab.
Refleksi Podcast Episode 51
Bersikap Bijak Saat Hari Raya Agama-agama Terjadi Bersamaan
Idul Fitri merupakan satu dari dua hari raya bagi umat Islam. Sebelum hari raya Idul Fitri tiba, umat Islam menjalankan Ibadan puasa Ramadan satu bulan lamanya. Alwi Shihab sampaikan bahwa Idul Fitri merupakan hari kembalinya umat Islam pada kesucian, fitrah. Umat Islam yang menjalankan ibadah puasa dan juga ibadah lainnya di bulan Ramadan telah berhasil menjalani jihad yang bear, yakni dapat menekan hawa nafsu. Pada saat hari raya, umat Islam saling mengucapkan selamat. Ada yang mengucapkan Taqabbalallah yang bermakna Ya Allah, mudah-mudahan apa yang kita lakukan selama bulan puasa diterima amal baik kita. Dan ada pula yang mengucapkan Min al-‘Aidiin wa al-Faaiziin, doa agar semoga tahun depan masih dapat bertemu kembali dengan bulan Ramadan. Menjadi faaiziin, adalah menjadi orang-orang yang mendapat kemenangan, dan dalam Alquran disampaikan bahwa faaiziin adalah orang-orang yang mendapat surga.
Pada hari terakhir puasa Ramadan sebelum Khatib menyampaikan khutbah Id, terdapat suatu kewajiban bagi umat Islam tanpa pandang usia dan mampu melaksanakannya, yakni mengeluarkan zakat fitrah. Zakat fitrah disebut oleh Rasulullah saw. sebagai penyucian atas hal-hal yang kurang sempurna dalam ibadah Ramadan. Di sisi lain pula, Allah Swt. ingin melihat pada hari raya itu tidak ada seorang mukmin dan muslim pun yang merasa lapar dan kekurangan. Maka zakat fitrah adalah simbol untuk memberikan kesenangan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang membutuhkan. Takaran zakat fitrah tidaklah besar, yakni sekitar dua kilo lebih beras maupun gandum (juga makanan pokok sehari-hari suatu masyarakat yang lainnya). Takaran ini mampu meberikan kesempatan bagi semua orang pada hari raya tersebut merasakan kemenangan. Ketika Rasulullah saw, datang ke Madinah, beliau diberitahu bahwa orang Madinah memiliki dua festival yang dirayakan dalam satu tahun. Dan dua festival itu keudian Rasulullah katakana untuk digantikan dengan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Dalam forman-Nya disebutkan:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Genapkan puasa ini sampai 29 atau 30 hari, dan bertakbirlah setelah itu (mengagungkan Allah dan menunjukkan kehambaan kita pada Allah) dan pada saat yang sama juga bersyukur,” (QS. Al-Baqarah: 185). Syukur tersebut dapat dilakukan dengan cara memakai pakaian yang bagus, bersilaturahmi dengan sanak saudara khususnya orang tua, dan bermaaf-maafan. Alquran katakan:
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ
“Hendaknya kalian saling memaafkan, saling membuka lembaran baru. Tidakkah kalian ingin dosa kalian diampuni-Nya?” (QS. Al-Nur: 22).
Perayaan keagamaan tidak saja milik umat Islam, namun juga umat agama lain dengan perayaan agamanya masing-masing. Terkadang, perayaan keagamaan antar keagamaan itu terjadi secara bersamaan, baik dengan saudara umat Hindu, Budha, Konghucu, maupun Nasrani. Terjadi pula perayaan Idul Fitri bersamaan dengan perayaan Kenaikan Isa Al-Masih. Bagi umat Islam, umat Islam juga mempercayai bahwa Isa Al-Masih naik ke surga, ke sisi Allah Swt. Perbedaan antara umat Islam dan umat Kristiani adalah umat Kristiani menganggap bahwa Nabi Isa Al-Masih disalib sebagai penebusan dosa umat manusia, dan setelah dikubur, pada hari ketiga ia bangkit dan bertemu dengan pengikut-pengikutnya, dan setelah 40 hari, ia naik ke Allah Swt.; versi ini adalah pembedanya. Namun, hal ini tidak perlu dijadikan bahan perdebatan yang dapat memicu permusuhan.
Hari raya keagamaan yang terjadi bersamaan adalah kesempatan bagi semua umat beragama untuk dapat saling silaturahmi dan saling merayakan, karena Allah Swt. telah menyampaikan:
اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۗ لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۗ لَاحُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْۗ اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَاۚ وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُۗ
“Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu wahai Ahlulkitab. Bagi kami pekerjaan kami, dan bagi kamu pekerjaanmu. Tidak ada pertengkaran di antara kita. Nanti Allah akan mempertemukan kita di hari kemudian,” (QS. Al-Syura: 15). Semoga perayaan keagamaan yang terjadi pada hari yang sama mampu merekatkan hubungan umat antar agama untuk sama-sama bergembira dan mendekatkan diri pada Yang Kuasa guna mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.(IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=YP6VI8U6o8Y&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=63.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments