Ayat-Ayat Penting Saat Puasa
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Prof. Dr. H. Alwi Shihab membahas ayat-ayat penting saat puasa dan bagaimana menjadi umat Islam yang bertaqwa dalam menjalankan salah satu rukun Islam ini. Episode ini diproduksi oleh Jawa Post TV.
Refleksi Podcast Episode 50
Mengapa Tuhan Mensyariatkan Puasa?
Puasa adalah salah satu ibadah yang disyariatkan oleh Allah Swt. kepada hamba-Nya. Bagi umat Islam, mafhum diketahui bahwa Alquran berbicara tentang tema puasa isi, seperti yang tertulis dalam Quran Surah Al-Baqarah ayat 183-188:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣ اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ١٨٤ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥ وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦ اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ ١٨٧ وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ١٨٨
Ada beberapa butir kandungan ayat yang harus menjadi perhatian bagi kita atas ayat tersebut, yakni: pertama, “Telah diperintahkan bagi kalian wahai umat Muhammad untuk berpuasa sebagaimana telah diperintahkan kepada umat-umat sebelum kamu, agar kiranya kalian bisa meraih takwa (183).” Jadi, puasa tidak hanya untuk umat Islam. Dalam sejarah peradaban juga dapat kita verifikasi, bahwa hampir semua, sejak zaman dahulu hingga sekarang, peradaban-peradaban yang ada di dunia ini mencanangkan puasa pada masyarakatnya. Seperti pada masyarakat komunitas Yahudi, Kristen dan juga Islam, bahkan jauh sebelum masa itu, yakni pada masa peradaban Mesir dan peradaban Yunani yang telah mengenal puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ada pula peradaban tertentu yang menjadikan puasa sebagai cara untuk mendapatkan ilmu kekebalan. Dengan kata lain, banyak cara untuk meraih sesuatu dengan berpuasa.
Islam memaknai puasa sebagai cara mendekatkan diri pada Allah Swt. dan meraih takwa. Takwa memiliki definisi yang luas, namun inti dari takwa adalah bagaimana seorang hamba bisa menghadirkan Allah Swt. dalam dirinya. Apabila hamba telah menghadirkan Allah dari perilakunya, sepak terjang kehidupannya, dan segala sesuatu dalam hidupnya, maka ia akan merasa dekat dengan-Nya. Saat hamba telah merasa dekat dengan-Nya, hamba akan menjauhi larangan-Nya dan menaati perintah-Nya. Alquran berulang kali menyebutkan kata takqwa. Takwa adalah kata kunci untuk menunjukkan kedekatan hamba pada Tuhannya.
Kata takwa sangat melekat dengan seorang yang berpuasa. Karena seorang yang berpuasa tidak mungkin dia akan berpuasa, mengikuti tuntunan Allah Swt., kalau dia tidak merasa Allah hadir dalam kehidupannya. Orang berpuasa bisa saja berbohong, tidak ada yang mengetahui apakah ia berpuasa apa tidak. Namun, orang yang sungguh-sungguh berpuasa akan merasa bahwa ia melakukannya demi Allah Swt. dan tidak akan menentang-Nya. Oleh karena itu, ganjaran bagi orang yang berpuasa adalah:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa-siapa yang berpuasa dengan konsisten dan iman yang kokoh, maka dosa-dosa sebelumnya akan diampuni oleh Allah Swt,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua, dalam pertengahan ayat ke-185 QS. Al-Baqarah di atas juga disampaikan bahwa dengan berpuasa itu Allah senantiasa menginginkan hamba-Nya ada dalam kemudahan, bukan kesulitan; baik itu dalam beribadah, maupun dalam menjalankan kehidupan. Dan dalam kehidupan, Allah menganjurkan hamba-Nya untuk tidak melakukan sesuatu yang melampaui batas kemampuannya (QS. Al-Baqarah: 286).
Ketiga, “Kalau orang dalam berpergian, dalam keadaan sakit, maka boleh diwada/dilaksanakan di kemudian hari (185).” Dan ada ayat lain yang terselip dalam rangkaian ayat puasa ini. Ayat ini tidak bebicara tentang puasa, melainkan bicara tentang doa (186): “Kalau hamba-Ku bertanya padamu wahai Muhammad tentang Aku, maka sampaikanlah bahwa Aku Tuhan itu dekat dengan mereka. Saya akan pastikan mengabulkan permohonan-permohonan orang-orang yang memohon pada-ku. Dari itu, apa yang Aku minta dari mereka hendaknya mereka juga memenuhinya, dan berimanlah kepada-Ku.” Ayat ini tidak ada hubungannya dengan puasa. Namun, diselipkannya ayat ini dirangkaian ayat puasa menunjukkan bahwa doa-doa seseorang yang berpuasa sangat dianjurkan; karena pada kondisi itulah hamba akan meraih kabulnya, perkenannya Allah atas doa-doa hamba-Nya.
Keempat, ada tiga sifat yang disebutkan dalam rangkaian ayat puasa tersebut, yakni: hedaknya hamba meraih takwa, supaya hamba bisa menjadi orang yang bijaksana, dan supaya orang-orang yang berpausa siap dan tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. Khususnya terhadap nikmat yang terdapat dalam bulan puasa/Ramadan, yakni nikmat atas Alquran yang diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil.
Anjuran-anjuran yang terdapat dalam Alquran dapat diamalkan oleh umat Islam. Alquran mengajarkan tiga hal, yakni akidah (ikatan kokoh dengan Allah Swt.), syariah (cara melaksanakan perintah-Nya), dan akhlak (budi pekerti yang dteladankan oleh Nabi Muhammad saw.). Semoga dengan menjalankan puasa, kita sebagai hamba dapat meraih takwa, bijaksana, dan memperbanyak syukur pada Allah Swt.; karena sebagai hamba, manusia harus selalu bersyukur. Hanya dengan bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya pada makhluk-Nya. (IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=qMV4kdpY48Q&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=65.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments