Sahabat Nabi yang Meninggalkan Segala Harta Demi Hijrah (Part 4)

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Simak bagaimana perjalanan hijrah mereka yang penuh dengan tantangan dan lika-liku demi mengikuti Nabi. Bersama Prof. Dr. H. Alwi Shihab di #PodcastAlwiShihab episode ke-29 berikut ini.

Refleksi Podcast Episode 29
C

Kisah Hijrah 2 Sahabat Nabi saw. yang Mengagumkan

Ammar bin Yasir dan Shuhaib al-Rumi adalah dua nama besar yang turut berjuang dalam hijrahnya Nabi Muhammad saw. Kedua tokoh  ini adalah pendatang , mereka sungguh-sungguh mengikuti Nabi saw. sampai akhir hayat mereka. Kedua tokoh ini dikenal sangat dekat dan loyal kepada Nabi saw. Semasa hijrahnya, Nabi saw. mengalami hal yang luar biasa, pengalaman luar biasa itu juga dialami oleh para sahabat dekatnya.

Ammar bin Yasir berasal dari keluarga Qahthani yang bertempat tinggal di Yaman. Sebelum masa pengutusan Nabi saw., Ayah dan ibu Amar bin Yasir berangkat dari Yaman ke Makkah untuk menetap di Makkah. Mereka bekerja pada salah seorang tokoh yang bernama Abu al-Hakam atau Abu Jahal. Pada saat Nabi saw. mengajak masyarakat Makkah mengikuti ajarannya, maka Ammar dan kedua orang tuanya (Yasir dan Sumayyah) menjadi pengikuti ajaran Nabi saw. tersebut. Karena hal inilah kemudian Yasir disiksa oleh Abu Jahal dan para pembantunya, sehingga apa yang dialami oleh Yasir dan Sumayyah merupakan kisah yang sangat pedih untuk diceritakan.

Sumayyah, ibu Ammar dibunuh dengan cara yang keji. Demikian juga dengan Yasir, ia juga dibunuh dengan cara yang keji. Adapun Ammar, ia dipaksa untuk meninggalkan Islam kalau dia menghendaki untuk hidup bersama Abu Jahal. Pada saat melihat ayah dan ibunya sudah dibunuh, Ammar terpaksa menyatakan bahwa, “Saya kembali ke agama lama dan saya tinggalkan Islam.” Ammar dipaksa untuk memaki Nabi saw. dengan mengatakan bahwa Nabi bukanlah seorang utusan Tuhan. Ammar kemudian melakukan apa yang Abu Jahal perintahkan itu semua dalam keadaan terpaksa.

Setelah beberapa saat kemudian, Ammar datang menemui Nabi saw. dan menceritakan apa yang Abu Jahal lakukan terhadap dirinya dan orang tuanya. Ammar mengatakan bahwasanya ia melakukan apa yang diperintahkan Abu Jahal dengan terpaksa dan bukan karena keinginan hatinya. Kemudian Nabi saw. bertanya, “Apakah kamu masih yakin dan apa kamu akan melanjutkan keimanan terhadap anjuran dan misi saya, Islam?” Ammar menjawab, “Benar ya Rasulullah. Saya lakukan itu semua karena saya terpaksa.” Atas peristiwa ini, turunlah firman-Nya yang berbunyi:

مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ

Barang siapa yang meninggalkan ajaran Allah setelah dia menyatakan bahwa dia beriman (dikecam oleh Allah Swt., namun ada pengecualian yaitu), kecuali mereka yang terpaksa atau dipaksa tetapi hatinya tetap dalam keadaan tenang dan tetap beriman kepada Allah Swt.” (QS. Al-Nahl: 106).

 Ammar mendapat kehormatan yang luar biasa dan diberi jalan untuk tetap beriman kepada Allah Swt. karena ia dalam keadaan terpaksa. Sang ibu, Sumayyah dikenal sebagai syahidah/martir pertama dalam Islam. Ammar kemudian berhijrah ke Madinah. Dan di Madinah, Ammar dikenal sebagai sahabat yang kuat fisiknya. Ia ikut secara aktif membangun masjid pertama di Madinah, yaitu Quba. Ammar bin Yasir mengikuti Nabi saw. dan mengikuti para sahabat sampai usianya mencapai 91 tahun. Nabi saw. pernah bersabda tentang Ammar, “Surga menginginkan Ammar datang padanya.” Artinya, apa yang Ammar lakukan untuk Islam sangatlah layak surga baginya. Nabi saw. juga meramalkan bahwa kelak Ammar akan terbunuh, dan yang membunuhnya adalah kelompok Al-Baghiyah. Kelompok Al-Baghiyah adalah kelompok pembangkang terhadap imam, kelompok yang sesat. Ramalan Nabi saw. ini ternyata terbukti. Pada peperangan antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah, Ammar berada di pasukan Ali bin Abi Thalib. Dan Ammar terbunuh oleh pengikut Muawiyah bin Abu Sufyan.

Patut dicatat, bahwa seorang sahabat yang bernama Khuzaimah bin Tsabit dari Madinah (Al-Anshar, pengikut Nabi saw), pada waktu itu berada di medan perang, tetapi beliau tidak mengeluarkan/menghunus pedangnya karena beliau merasa patut untuk berperang terhadap orang-orang seiman. Tetapi, begitu Ammar terbunuh, Khuzaimah bin Tsabit mengatakan bahwa, “Saya ingat, Rasulullah saw. mengatakan bahwa pembunuh Ammar ini adalah kelompok yang tidak benar, kelompok yang al-baghi, atau yang pembangkang terhadap iman. Ini adalah kelompok yang sesat, yang tidak benar.” Maka, pada waktu itu Khuzaimah menghunus pedangnya dan ikut bersama Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Hadis Nabi saw. atas hal ini diriwayatkan oleh banyak sahabat, sehingga Khuzaimah merasa yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang benar.

Ammar bin Yasir juga dikenal sebagai tokoh yang sangat dicintai oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Pada saat Sayyidina Umar dibunuh, sebelum beliau meninggal, ia meminta Ammar untuk memimpin masjid (menjadi imam). Begitu dekat dan begitu besar kepercayaan Sayyidina Umar kepada Ammar bin Yasir.

Tokoh besar kedua adalah Shuhaib bin Sinan Al-Rumi. Shuhaib berasal dari suku Arab yang tinggal di Irak. Menurut riwayat, ayahnya atau juga pamannya permah menjadi salah satu gubernur di daerah Persia, di bawah penguasaan Persia. Di saat ada pertempuran antara Romawi dan Persia, Shuhaib dan keluarganya ditawan oleh pasukan Romawi dan dibawa ke Roma. Kemungkinan pada waktu itu Shuhaib masih berumur di bawah 10 tahun. Ia dibesarkan di Roma, sehingga walaupun ia orang Arab, namun namanya dikenal sebagai Shuhaib bin Sinan Al-Rumi. Penisbatan Al-Rumi sebagai ciri bahwa ia dibesarkan di Roma dan menjadi orang Romawi. Ia adalah seorang tawanan, hingga pada akhirnya, sebagaimana tradisi pada masa itu bahwa tawanan menjadi budak, dan ada keluarga Arab yang melihat bahwa Shuhaib ini aslinya adalah orang Arab. Keluarga Arab ini menebus Shuhaib dan membawanya ke Makkah.

Di Makkah, Shuhaib ditebus oleh orang kaya yang bernama Abdullah Al-Jad’an untuk kemudian tinggal bersama tuannya itu. Setelah beberapa tahun, Shuhaib dibebaskan dari status budak. Shuhaib merupakan sosok yang pandai, ia bisa mengumpulkan harta dengan berdagang. Akhirnya ia menjadi orang kaya, tetapi bukan dari keturunan yang dipandang di Makkah, karena ia adalah pendatang. Shuhaib mengalami penganiayaan dan penderitaan karena ia bukan dari kelompok elit.

Shuhaib memiliki keahlian memanah. Kemungkinan sewaktu berada di Roma, ia belajar mempelajari ini hingga mahir. Pada saat hijrah, setelah Nabi saw. berangkat, maka ia juga ikut berangkat hijrah. Pelan-pelan, ia mengumpulkan semua hartanya dan disimpan di satu tempat di Makkah; dengan harapan, suatu saat apabila ia kembali ke Makkah, ia bisa memperoleh kembali harta tersebut. Dan apa yang ia bisa bawa ke Madinah, maka ia bawa. Dalam perjalanan ke Madinah, ia dihadang oleh orang-orang Quraisy yang memang sudah mengintai dan mengetahui bahwa ini orang mempunyai harta. Kemudian, ia dihadang dan dipaksa untuk memberikan hartanya, termasuk hartanya yang ditinggal di Makkah. Shuhaib memberi opsi pada orang-orang yang menghadangnya dengan mengatakan bahwa, “Saya adalah ahli dalam memanah. Saya masih mempunyai beberapa panah yang bisa saya tunjukkan kepada kalian. Saya tahu kalian akan mati oleh panah saya. Kalau kalian tidak melepaskan saya, maka panah ini akan saya lepaskan kepada kalian. Paling tidak 1 atau 2 orang akan meninggal.”

Lalu ada pembicaraan bagaimana mereka semua mencari jalan tengah. Orang-orang Quraisy yang menghadang Shuhaib mengatakan, “Kalau kamu serahkan harta-hartamu, baik yang di Makkah maupun yang kamu bawa sekarang, maka kamu akan kami lepas untuk berangkat ke Madinah. Tapi kalau tidak, maka kami terpaksa akan membunuh kamu.” Shuhaib kemudian menanggapi, ”Ambillah harta-hartaku dan ambil pula hartaku yang ada di Makkah, asal kamu lepaskan saya untuk mengikuti Rasulullah saw. ke Madinah.” Begitu sampai di Madinah, Nabi saw. melihat Shuhaib, beliau menyatakan dengan suara yang keras, “Rabihah al-tijarah yaa Aba Yahyaa/perdaganganmu (dengan Allah) telah menghasilkan keuntungan wahai Abu Yahya.” Nabi saw. menyampaikan hal ini sebanyak dua kali. Karena sebelum Shuhaib tiba di Madinah, ada ayat yang turun menyangkut kejadian yang menimpa Shuhaib:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ 

“Sesungguhnya Allah Swt. membeli dari orang-orang mukmin ini, jiwanya dan hartanya sebagai imbalan mereka akan masuk surga,” (QS. Al-Taubah: 111).

 Menurut para ahli Tafsir, ayat ini adalah ayat yang diturunkan oleh Allah Swt. dalam rangka memberi penghargaan terhadap Shuhaib bin Sinan. Shuhaib merupakan sahabat Nabi saw.  yang dikenal sangat loyal seperti halnya Ammar bin Yasir. Sebagaimana diketahui, Ammar dan Shuhaib ini tidak saling mengenal. Perkenalan mereka adalah pada saat mereka berdua datang ke Daar al-Arqaam, tempat yang digunakan Nabi saw. untuk berdakwah secara diam-diam. Di tempat itulah mereka bertemu dan saling menyapa dengan pertanyaan, “Kenapa kamu datang?” dan keduanya menjawab bahwa kedatangannya adalah untuk menemui Nabi saw. dan untuk menyatakan bahwa masing-masing darinya akan mengikuti perintah Allah dan Rasulullah saw. untuk menjadi bagian dari Islam.   (IL/AKR)[1]

[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=TbQnixFrP_0&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=85.

Nonton juga

C
Apakah Kitab Taurat Masih Ada?

Apakah Kitab Taurat Masih Ada?

Apakah sekarang ini ada kitab ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...